Latest Post

Klarifikasi BPOM Mengatasi Isu Keamanan Ranitidin

1. Belakangan ini, ada isu tentang kamanan yang terkait dengan penggunaan Ranitidin, apakah yang sebenarnya terjadi ?
Jawaban:
mengacu pada informasi yang disampaikan oleh US Food and Drug Administration (US-FDA) dan European Medicine Agency (EMA) (BPOM untuk Amerika ), ditemukan adanya cemaran Nitrosodimethylamine (NDMA) dalam jumlah kecil pada sampel produk obat yang mengandung bahan aktif Ranitidin.

2. Apakah NDMA itu dan apa akibatnya jika senyawa tersebut masuk dalam tubuh kita?
Jawaban:
Nitrosodimethylamine (NDMA) merupakan turunan nitrosamin yang dapat terbentuk secara alami. Paparan sejumlah batas maksimum yang telah ditetapkan oleh FDA diperkirakan dapat menimbulkan risiko kanker. Mengacu pada interim limit untuk NDMA yang diterbitkan oleh US-FDA dan EMA, acceptable intake NDMA adalah 96 ng/hari.

3. Sebagai institusi yang menjamin keamanan obat, tindakan apa saja yang sudah BPOM lakukan terkait temuan cemaran NDMA dalam Ranitidin ?
Jawaban:
Badan POM telah memberikan informasi awal untuk tenaga kesehatan 17 Sep 2019 dan melakukan pengambilan sampel untuk pengujian di laboratorium. Berdasarkan temuan beberapa produk raditin mengandung impuritis atau kontaminan NDMA, maka dalam konferensi pers 11 Oktober 2019 Badan POM memerintahkan kepada industri farmasi untuk MENGHENTIKAN SEMENTARA / SUSPEND semua produksi dan peredaran sediaan Ranitidin sampai selesainya hasil pengujian mandiri.

Baca Juga : Mengenal NDMA, Zat Karsinogenik Penyebab Ranitidin ditarik


4. Setelah Konferensi Pers yang dilakukan oleh Badan POM, apakah Ranitidine sudah tidak dapat diperoleh di apotik atau sarana kefarmasian lainnya?
Jawaban:
a. MENGHENTIKAN SEMENTARA/SUSPEND artinya Ranitidin tidak diresepkan dan apotik tidak melakukan penyerahan obat tersebut kepada pasien untuk sementara waktu. Mengingat proses tersebut membutuhkan waktu maka kepada Industri Farmasi/PBF diberikan waktu 80 Hari Kerja (sejak Konferensi Pers 11 Oktober 2019) atau sampai Minggu ke-4 Januari 2020 untuk melakukan penarikan disarana pelayanan kefarmasian (apotek, klinik, rumah sakit).
b. Sambil menunggu dilakukan penarikan, sarana pelayanan kefaarmasian dapat mengeluarkan obat tersebut dari tempat pelayanan dan menyimpan ditempat yang aman dan diberi penandaan.

5. Siapa yang akan menjamin bahwa sarana pelayanan kefarmasian melakukan tindakan sesuai dengan ketentuan Badan POM?
Jawaban:
Pada prinsipnya pemeriksaan dilakukan dengan tetap memperhatikan unsur pelayanan dan keberlangsungan bisnis serta membuat kondisi tetap kondusif. Peredaran obat disarana legal dan pengawasan obat yang legal dilakukan oleh Badan POM untuk menjaga keamanan pasien. Dalam melakukan pengawasan Badan POM berkoordinasi dengan petugas Dinas Kesehatan setempat. Permasalahan ini merupakan permasalahan impurities obat sehingga kewenangan penyelesaiannya hanya dapat dilakukan oleh Badan POM dan UPT Badan POM di daerah. Hal tersebut telah sesuai dengan pembagian kewenangan yang telah diatur dalam peraturan yang ada.

Baca Juga : Mengenal Obat Asam Lambung " Ranitidin"

6. Apakah Ranitidin dapat digunakan kembali jika sudah dilakukan pengujian?
Jawaban:
Ranitidin dapat di distribusikan atau diresepkan kembali jika hasil pengujian hasil pengujian laboratorium dan NDMA di bawah ambang batas 96 ng/hari. Badan POM terus melakukan pengujian terhadap produk-produk ranitidine dan akan melakukan pemutakiran data terkait isu keamanan ranitidine ini berdasarkan hasil pengujian.

7. Bagaimana tindakan yang harus dilakukan oleh dokter dan pasien jika membutuhkan obat-obatan untuk mengatasi kelebihan produksi asam lambung dan permasalahan tukak lambung?
Jawaban:
Dokter dapat mencari alternative pilihan terapi baik yang berasal dari golongan H2 Antagonis yang lain ( Famotidine dan Cimetidine), atau golongan lain seperti : Antasida, golongan Sitoprotektif seperi Sukralfat, golongan PPI (Proton Pump Inhibitor) seperti misalnya omeprazole dan lansoprazole.

Sumber : pom.go.id

Ini Perbedaan Depresi dan Stres yang harus Anda Ketahui

Sebagian orang menganggap depresi dan stres merupakan hal yang sama padahal keduanya memiliki perbedaan dari sisi kesehatan maupun penanganannya.

Depresi adalah sebuah penyakit mental serius yang sering disalahpahami oleh banyak orang. Banyak orang mengangap sepele penderita depresi karena dianggap lemah, rapuh, dan gagal move on.
Padahal  depresi adalah penyakit mental yang telah menjangkiti hampir separuh penduduk dunia dan membawa kerugian ekonomi pada keluarga dan bahkan negara, karena penderita depresi tidak dapat menjalankan kehidupan sehari-harinya dengan baik.
Secara fisik penderita depresi tidak menampakkan tanda-tanda sedang sakit.Depresi akan berdampak ke seluruh aspek kehidupannya dan menguras kebugaran tubuhnya.

Penderita depresi merasakan kesedihan terus menerus tanpa perlu ada peristiwa tertentu sebagai pemicunya.
Banyak juga yang mengira bahwa depresi tidak dapat menjangkiti mereka yang relijius. Kenyataannya tidak seperti itu, depresi bisa menyerang siapa saja, bahkan dapat menurun secara genetik dari orangtua ke anak.

Jika ada anggota keluarga yang pernah mengalami depresi, maka kemungkinan Anda bisa mengalaminya juga. Anda dapat menghindari depresi dengan menjaga pola hidup sehat dan menjaga kecukupan gizi dan hormon.
Penderita depresi tak harus sedang tertimpa masalah, miskin, kaya, putus cinta, dan kesulitan lainnya. Faktor kondisi hormon, psikilogis, dan penyakit lainnya dapat memicu timbulnya depresi.

Baca Juga : Efek Dopamin pada Fungsi Otak Anda

Stres akan berangsur hilang seiring dengan selesainya semua masalah yang dihadapi atau akan terobati dengan adanya hiburan sedangkan depresi akan menetap dalam waktu lama sekalipun seseorang sedang liburan dan memiliki segala yang ia butuhkan.

Depresi dan stres bisa ditangani dengan perawatan yang benar. Namun, sebelum mengatasinya, pahami dulu cirinya.
Berikut ciri-ciri depresi:
1. Perasaan sedih yang berlangsung dalam jangka waktu lama, bahkan kadang muncul tanpa pemicu sama sekali
2. Tidak menikmati kegiatan apapun, bahkan hal-hal yang dulunya pernah disukai seperti seks maupun hobi tertentu
3. Tidak merasa lapar sama sekali, atau sebaliknya ingin makan terus-menerus
4. Kurang tidur atau sebaliknya, terlalu banyak tidur
5. Tidak bersemangat untuk melakukan apapun
6. Merasa gagal
7. Merasa sulit untuk bangun dari tempat tidur
8. Pusing
9. Tubuh lemas hingga merasa malas
10. Menjalani hari-hari tanpa gairah maupun pandangan masa depan
11. Ingin menyakiti diri sendiri hingga keinginan bunuh diri. Termasuk pikiran soal ingin mati secepatnya
12. Mudah marah
13. Menyalahkan diri sendiri
14. Tidak percaya diri
15. Tidak fokus dan lambat berpikir
16. Kadang sampai tak mampu bangkit dari tempat tidur dan mengalami sakit di beberapa bagian tubuh tanpa memiliki riwayat penyakit fisik tertentu
17. Ketidakmampuan mengerjakan sebuah pekerjaan, baik yang sederhana sekalipun. Misalnya membersihkan kamarnya sendiri maupun mandi teratur
18. Pada  anak-anak, berat badan akan berkurang drastis sekalipun ia tidak sedang sakit.
19. Anak dengan attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD) mungkin tidak terlihat sedih, namun ia akan menunjukkan sikap mudah terganggu oleh segala sesuatu

Stres memiliki ciri sebagai berikut:
1. Kepala pusing terus menerus, rahang terasa mengeram dan terasa sakit
2. Tangan dan bibir terasa gemetaran
3. Sakit pada leher, punggung, dan otot tegang
4. Mulut terasa kering dan susah menelan
5. Rasa dingin pada tangan dan gemetaran
6. Sering gelisah dan tak sengaja menggoyang-goyangkan kaki
7. Kesulitan bernafas, sering mendesah
8. Sering merasa ingin kencing terus
9. Mengisolasi diri secara sosial
10. Memiliki kepanikan, kekhawatiran berlebih, rasa bersalah, dan perasaan serba tak nyaman lainnya
11. Tidak dapat membuat keputusan yang tepat
Meskipun memiliki yang hampir sama, depresi depresi dan stres memiliki level ‘masalah’ dan waktu yang berbeda. Depresi memiliki persoalan yang lebih berat dari stres. Berikut jenis depresi yang sering dikaitkan dengan stres.

Baca Juga ; Efek Dopamin Pada Game Mengganggu Aktifitas Otak

Jenis Depresi
Ada berbagai jenis depresi yang dapat diidap oleh seseorang. Diantaranya adalah:
1. Major depression
Depresi jenis Major depression ini dapat bertahan hingga jangka waktu 6 bulan. Jika seseorang mengalami ini, maka ia akan rentan mengalami disorder yang bisa berarti gangguan fungsi sosial sepenuhnya.
2. Atypical depression
Depresi jenis ini tak selamanya sedih. Jika ada berita gembira, perasaannya akan jadi lebih baik. Depresi jenis ini memiliki citi khusus yaitu terlalu banyak makan hingga terjadi kenaikan berat badan yang tak terkontrol, terlalu banyak tidur, muncul ketakutan berlebih terhadap kemungkinan adanya penolakan, dan secara fisik merasakan lengan dan bahu yang makin memberat.
3. Dysthymia
Depresi ini mirip dengan major depression namun memiliki jangka waktu depresi yang lebih dari 2 tahun. Karena merasa sedih sepanjang waktu, maka orang dengan dysthymia mulai menganggap bahwa kesedihan adalah bagian dari dirinya dan ia tak pantas bahagia.
4. Depresi musiman atau Seasonal affective disorder (SAD)
Depresi ini biasa ditemukan pada seseorang di musim dingin. Perasaan hati dan kondisi fisik makin memburuk seiring dengan pendeknya hari dan bertambah dinginnya cuaca. Penderita SAD akan berubah mood saat musim berganti.

Penanganan Depresi
Saat Anda sedang stres, maka Anda bisa mengalihkan rasa stres tersebut dengan mencari hiburan, piknik, menjaga selera humor, bersosialisasi, olahraga, atau mencoba meditasi, tai chi, maupun kegiatan lainnya yang berhubungan dengan hobi.
Jika itu tak dapat meredakan stres, Anda juga bisa bicara dengan dokter tentang apa yang dirasakan karena barangkali itu adalah depresi. Inilah yang menunjukan keterkaitan sangat erat antara depresi dan stres.

Stres dapat berlalu dengan semakin berkurangnya beban yang ditanggung. Pijat relaksasi, aroma terapi, dan mendengarkan musik dapat mengurangi beban Anda saat keadaan stres menekan Anda.
Perasaan sedih yang berlangsung terus menerus pada penderita depresi tak dapat disembuhkan dengan liburan ataupun hiburan karena terjadi perubahan otak yang membuat seseorang kehilangan minat di banyak hal. Akibatnya untuk menangani depresi harus mencari pertolongan lewat terapis, psikiater, maupun psikolog profesional agar dapat menyeimbangkan fungsi tubuh seperti sedia kala.
Medikasi dengan resep dokter memang dapat membantu pengidap depresi, namun Anda juga bisa mencoba menyembuhkannya dengan berkonsultasi dengan psikolog maupun terapi lainnya. Jika memang jalur medikasi yang dipilih, maka Anda bisa menghentikan penggunaan obatnya sewaktu-waktu.

Sebaiknya, seseorang memang perlu memeriksakan kesehatan mentalnya sebelum ia memvonis diri sendiri bahwa ia sedang mengalami depresi. Karena meminta pertolongan kepada profesional akan lebih banyak membantu daripada terus menerus memendamnya sendiri.

Mengenal Fungsi Dopamin Pada Otak Anda

Dopamin merupakan suatu neurotransmiter yang dibentuk oleh tubuh anda melalui asam amino tirosin, yang banyak ditemukan pada berbagai makanan kaya protein seperti daging dan keju. Dopamin merupakan molekul penting untuk membentuk epinefrin (adrenalin) dan norepinefrin (noradrenalin).
Otak dan sistem saraf membutuhkan neurotransmiter untuk menyampaikan pesan dalam bentuk impuls listrik ke seluruh bagian tubuh, untuk mengatur berbagai fungsi tubuh.

Fungsi Dopamin
Dopamin memiliki fungsi mengatur berbagai fungsi pada otak dan tubuh, seperti:
•  Mengatur aliran darah di dalam pembuluh darah
•  Mengatur kebiasaan makan
•  Berperan dalam proses belajar dan fungsi kognitif
•  Berperan dalam perilaku seseorang
•  Mengatur aktivitas motorik (pergerakkan)
•  Mengatur pengeluaran hormon dari kelenjar pituitari
•  Membantu kerja sistem saraf autonom

Efek Dopamin Pada Otak
Dopamin mempengaruhi berbagai area di dalam otak. Pada daerah mesolimbik, dopamin diduga berperan dalam membentuk motivasi dan kecanduan yang diakibatkan oleh hadiah atau kesenangan yang didapatkan.
Sedangkan pada daerah mesokortikal, dopamin mempengaruhi berbagai aktivitas yang berhubungan dengan emosi dan motivasi. Pada nigrostriatal, dopamin berfungsi untuk mengatur dan menstimulasi aktivitas motorik. Pada area tuberoinfundibular, dopamin memiliki fungsi sebagai mengatur pelepasan hormon kelenjar pituitari.

Baca Juga : Efek Dopamin pada Game Mengganggu Aktifitas Otak

Efek dari Rendahnya Kadar Dopamin
Apakah mood anda sering berubah-ubah akhir-akhir ini? Anda mungkin sedang mengalami penurunan kadar dopamin. Kadar dopamin yang rendah bisa menimbulkan gejala seperti:
•  Mood sering berubah-ubah
•  Sulit berkonsentrasi atau memfokuskan pikiran anda
•  Insomnia atau sulit tidur
•  Merasa lelah
•  Merasa cemas
•  Makan secara berlebihan yang dapat menyebabkan peningkatan berat badan
Selain itu, kerusakan sel-sel yang menghasilkan dopamin atau adanya gangguan dalam sistem neurotransmiter bisa mengakibatkan terjadinya berbagai gangguan syaraf dan kejiwaan.
Penyakit Parkinson merupakan salah satu penyakit yang disebabkan oleh degenerasi sel-sel saraf penghasil dopamin di daerah nigrostriatal. Skizofrenia, depresi, dan gangguan cemas bisa terjadi akibat gangguan fungsi atau produksi dopamine di daerah mesokortikal dan mesolimbic.

Baca Juga : Ini Perbedaan Depresi dan Stres

Dopamin dan Hubungannya Dengan Kecanduan
Menurut para ahli penggunaan obat-obatan psikoaktif dapat merangsang pelepasan dopamin akibatnya akan timbul efek euforia (rasa senang berlebihan). Pelepasan dopamin ini akan menimbulkan perasaan senang dan menyebabkan seseorang kembali ingin merasakan perasaan tersebut (kecanduan). Saat ini banyak juga ditemukan kasus kecanduan game pada anak-anak maupun dewasa. Kecanduan game ini juga dikaitkan dengan pengaruh dopamin yang mungkin aktif dilepas, karena saat bermain game timbul rasa senang yang berlebihan dan terus ingin mengulangi rasa senang tersebut.

Sumber : dokter.id

Kenali Tanda Masa Subur yang Bisa Anda Rasakan

Saat wanita sedang berada di masa suburnya ada beberapa ciri khusus yang bisa menjadi tanda. Ketika  sel telur telah matang dan terlepas dari ovarium untuk menuju ke rahim masa ini disebut sebagai masa ovulasi. Di masa ovulasi inilah kemungkinan besar sel telur akan bertemu dengan sperma lebih tinggi untuk membentuk embrio dan terjadinya kehamilan.

Jika di masa ovulasi ini Anda melakukan hubungan seks dengan pasangan, maka potensi untuk terjadinya pembuahan pun juga lebih besar. Secara umum, penghitungan masa ovulasi sendiri terjadi di hari ke-13 dan ke-14 setelah masa haid berakhir.  Selain itu biasanya tubuh wanita akan memberikan tanda-tanda lain yang bisa menjadi ciri masa suburnya. Ciri-ciri yang menunjukkan anda sedang dalam masa subur, diantaranya:

1. Gairah Seks yang Meningkat

Jika Anda sadari beberapa tanda bisa menjadi ciri bahwa wanita sedang dalam masa subur. Salah satunya adalah gairah seks yang meningkat dibanding hari-hari lainnya. Biasanya wanita yang sedang dalam masa subur memiliki keinginan untuk melakukan hubungan seks yang lebih tinggi. Mereka akan terus menginginkan hubungan di atas ranjang selama beberapa malam. Bahkan meningkatnya gairah seks ini juga dapat menjadi tanda alami bahwa tubuh telah siap untuk melakukan reproduksi.

2. Keluarnya Cairan Bening Seperti Putih Telur

Saat masa ovulasi maka vagina akan mengeluarkan cairan bening yang bentuknya  mirip dengan putih telur. Cairan bening ini bukanlah keputihan, melainkan cairan yang diproduksi untuk mempermudah gerakan sperma di dalam rahim. Saat cairan ini keluar, maka untuk Anda yang ingin segera memiliki buah hati. Sebaiknya mulai untuk mendekatkan diri dengan pasangan. Karena di masa-masa seperti ini proses pembuahan dapat dilakukan dengan maksimal.

3. Adanya Sedikit Bercak Kecokelatan

Selain keluarnya cairan bening, biasanya akan disertai dengan adanya bercak kecoklatan yang menempel pada pakaian dalam Anda. Bercak kecokelatan ini merupakan folikel telur yang akan melepaskan dirinya untuk menyambut pembuahan. Jadi, jika Anda mengeluarkan cairan bening yang disertai dengan adanya bercak kecokelatan. Maka hal tersebut bisa menjadi tanda bahwa Anda sedang dalam masa subur.

4. Rahim Terasa Lebih Lembut dan Terbuka

Ketika wanita dalam masa ovulasi, maka posisi rahim akan lebih terbuka. Hal ini akan membuat bagian vagina lebih lembut daripada hari biasanya. Mungkin saat melakukan hubungan seks Anda akan merasakan sedikit rasa sakit. Hal tersebut disebabkan karena vagina terlalu banyak memproduksi cairan pelumas akibat sekresi yang terjadi. Bahkan cairan yang keluar pun akan lebih banyak dan Anda lebih cepat basah saat melakukan hubungan seks dengan pasangan.

Baca Juga : Tanda Kehamilan yang Sering tak Disadari

5. Nyeri Pada Bagian Payudara

Selain bisa dilihat dari masa ovulasi, tanda masa subur juga dapat dilihat adanya rasa nyeri pada bagian payudara. Meskipun beberapa wanita sering mengalami sakit nyeri akibat beberapa faktor lain. Namun jika rasa nyeri tersebut datang setelah masa haid berakhir dan hanya dirasakan beberaap saat saja. Maka hal tersebut bisa menjadi tanda bahwa Anda sedang dalam masa subur.

6. Perut Bagian Bawah Terasa Sakit

Masa subur juga dapat ditandai dengan adanya rasa sakit di bagian perut bagian bawah. Biasanya rasa sakit ini disertai dengan keluarnya cairan bening ditambah bercak kecoklatan yang keluar dari vagina. Untuk rasa sakitnya sendiri bisa terjadi di bagian perut sebelah kanan atau kiri. Namun durasinya tidak lama, hanya berlangsung beberapa menit atau jam saja.

7. Perut Terasa Kembung

Kondisi perut yang terasa kembung juga merupakan ciri masa subur. Saat masa subur terjadi kemungkinan kondisi seperti perut kembung bisa saja terjadi. Di mana hal ini disebabkan adanya peningkatan pada retensi air akibat meningkatnya kadar estrogen dalam tubuh. Perut kembung ini bisa terjadi secara tiba-tiba dan bisa menghilang begitu saja tanpa harus Anda obati.

8. Sakit Kepala

Selain perut kembung yang terjadi secara tiba-tiba, kondisi seperti sakit kepala ataupun migren juga dapat terjadi mendekati masa ovulasi. Meskipun hal ini hanya ditemui sekitar 20% dari wanita dewasa. Namun tanda sakit kepala atau migren sebaiknya jangan Anda anggap berat jika hal tersebut terjadi setelah siklus menstruasi berakhir. Kondisi ini bisa disebabkan karena melonjaknya hormon yang berimbas pada fluktuasi hormon dan menyebabkan sakit di bagian kepala.

9. Mual

Mual bukan hanya dianggap sebagai tanda terjadinya kehamilan namun juga menunjukkan masa subur. Saat seorang wanita merasakan mual di pertengahan bulan setelah masa haidnya berakhir. Mual ini bisa menjadi tanda sedang dalam masa ovulasi atau masa subur. Selain itu, mual juga dapat menjadi gejala PMS akibat peningkatan hormon yang terjadi.

10. Lebih Sensitif

Ciri bahwa Anda sedang dalam masa subur juga ditandai dengan tubuh yang lebih sensitif, terutama di bagian indera penciuman. Di mana beberapa wanita akan merasakan indera penciumannya lebih tajam dibanding hari-hari lainnya. Apalagi jika kondisi tersebut terjadi setelah siklus haid berakhir.

Selain  ciri-ciri di atas, mengetahui masa subur juga dapat dilakukan dengan cara menghitung masa subur dengan sistem kalender. Cara ini bisa Anda lakukan jika ciri-ciri di atas sulit untuk Anda ketahui. Apalagi untuk Anda yang kurang peka terhadap beberapa kondisi di masa subur tersebut.

Untuk menghitung masa subur dapat Anda melakukannya dengan mencoba rumus kalkulator masa subur di bawah ini:

Pertama, ketahui berapa lama siklus masa haid Anda. Untuk jarak yang mendekati 21 hari maka disebut dengan siklus pendek. Sedangkan, jarak yang mendekati 35 hari disebut dengan siklus panjang. Untuk Anda yang berada di siklus pendek, maka bisa dikurangi dengan angka 18, sedangkan untuk yang siklus panjang bisa dikurangi dengan angka 11. Maka Anda akan menemukan kapan terjadinya masa subur wanita.

Mengenal Obat Asam Lambung "Ranitidin" dari Indikasi hingga Efek Sampingnya

Penarikan 5 produk ranitidin yang terdeteksi mengandung N-Nitrosodimethylamine (NDMA) oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan ( BPOM) dari peredarannya di pasar dan instansi pelayanan kesehatan menimbulkan kebingungan di antara masyarakat yang menggunakan ranitidin di dalam terapi pengobatannya, begitu juga masyarakat yang tidak pernah menggunakannya. Penjelasan mengenai obat ranitidin diperlukan masyarakat untuk mengetahui kegunaan dan efek yang ditimbulkan saat mengonsumsinya. Berikut paparan mengenai obat asam lambung Ranitidin.

Ranitidin adalah obat maag yang termasuk dalam golongan antihistamin, lebih tepatnya disebut H2-antagonis. Ranitidin digunakan untuk mengurangi produksi asam lambung sehingga dapat mengurangi rasa nyeri uluhati akibat ulkus atau tukak lambung, dan masalah asam lambung tinggi lainnya.

Mengenal Obat Ranitidin
Ranitidin merupakan nama generik. Selain obat generik, Ranitidin memiliki beberapa nama merek dagang, jika anda membeli obat dengan merek dagang maka perhatikanlah zak aktif atau komposisinya pada kemasan. Obat Ranitidin tersedia dalam 3 bentuk sediaan, yaitu tablet  , sirup, dan injeksi dengan kandungan yang berbeda sebagai berikut:
Tablet Ranitidin 150 mg
Tablet Ranitidin 300 mg
Ranitidin Sirup: mengandung 168 mg ranitidine hydrochloride (setara dengan 150 mg ranitidine anhidrat basa bebas per 10 mL larutan oral) dalam  tiap 10ml sirup.

Indikasi atau Kegunaan
Obat ranitidin digunakan untuk pengobatan terkait asam lambung yaitu tukak pada lambung dan duodenum (usus 12 jari) dan mencegah penyakit gastroesophageal reflux (GERD),  gastritis atau sakit maag, perut kembung, sering bersendawa dan sebagainya. Tidak hanya mengurangi gejala yang muncul tetapi juga berfungsi mencegah timbulnya kembali gejala-gejala asam lambung.

Baca Juga : Mengenal NDMA. Zat Karsinogenik Penyebab Penarikan Ranitidin

Dosis Ranitidin dan Cara Pakai
Dosis ranitidin untuk dewasa adalah  satu kali 150 mg dalam sehari atau 150 mg dua kali sehari atau 300 mg sekali sehari tergantung pada kondisi pasien. Obat ini dapat diminum sebelum atau setelah makan.
Ketika digunakan untuk mengobati gangguan pencernaan, seperti sakit uluhati dan mual, dosis lazim untuk orang dewasa dan anak-anak usia 8 tahun atau lebih adalah 75 mg sampai 150 mg diambil ketika gejala muncul. Jika gejalanya menetap selama lebih dari 1 jam atau kembali muncul setelah 1 jam, maka dapat diberikan dosis kedua dengan kekuatan yang sama.
Untuk mencegah gejala sakit maag yang disebabkan oleh mengonsumsi makanan atau minuman tertentu, maka gunakan ranitidin 30 sampai 60 menit sebelum makan makanan atau minum minuman yang dicurigai akan menimbulkan gejala (membuat maag kambuh).
Dosis maksimum adalah 300 mg setiap 24 jam. Jangan lama-lama menggunakan obat ini, jika lebih dari 2 minggu gejala belum juga membaik maka periksalah ke dokter.

Ranitidin Injeksi
Bentuk injeksi raniditine dapat digunakan di rumah sakit dalam keadaan tertentu ketika pasien tidak mampu menelan tablet. Injeksi ranitidin diberikan secara intravena (ke pembuluh darah) atau intramuskular (suntik otot) dengan dosis 50 mg setiap 6 sampai 8 jam.
Banyak hal yang dipertimbangkan dokter untuk menentukan dosis yang tepat, oleh karena itu mungkin Anda bisa saja menemukan dosis yang berbeda dengan yang tercantum di sini.

Apakah ada pantangannya?
Tidak ada pantangan makanan selama anda menggunakan obat Ranitidin. Anda mungkin disarankan untuk menghindari makanan tertentu yang terkait dengan penyakit Anda. Ranitidin juga tidak mempengaruhi kemampuan Anda untuk mengemudi atau mengoperasikan mesin. Konsultasikan dengan dokter atau apoteker untuk lebih jelasnya.

Baca Juga : BPOM Tarik Obat Asam Lambung "Ranitidin"
Kontraindikasi
Lansia
Ibu hamil
Ibu menyusui
Kanker lambung
Penyakit ginjal
Mengonsumsi obat non-steroid anti-inflamasi
Sakit paru paru
Diabetes
Masalah dengan sistem kekebalan tubuh
Porfiria akut (gangguan metabolisme langka)
( ! ) Ranitidin tidak boleh digunakan pada orang yang alergi ranitidin.

Efek Samping Rantidin
Ada beberapa efek samping yang harus dilaporkan ke dokter sesegera mungkin ketika menggunakan ranitidine, diantaranya:
Kegelisahan, depresi, halusinasi
Reaksi alergi seperti kulit ruam, gatal atau gatal-gatal, pembengkakan wajah, bibir, atau lidah
Gangguan pernapasan
Perdarahan yang tidak biasa atau memar
Muntah
Menguningnya kulit atau mata
Efek samping ranitidin yang ringan antara lain:
Sembelit atau diare
Pusing
Sakit kepala
Mual
Perlu diingat efek samping tidaklah selalu muncul pada saat penggunaan obat sehingga tidak perlu khawatir menggunakan Obat Ranitidin selama mengikuti petunjuk dokter atau apoteker.

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.