Articles by "disentri"

Tampilkan postingan dengan label disentri. Tampilkan semua postingan

Hindari Penyakit dengan Cuci Tangan yang Benar
 Mencuci tangan dengan sabun adalah salah satu tindakan untuk mencegah penyebaran dan penularan penyakit. Tangan sering kali menjadi perantara dari berbagai bakteri untuk masuk ke dalam tubuh. Membiasakan mencuci tangan dengan sabun dapat mengurangi jumlah orang yang sakit diare sebesar 31%, dan mengurangi penyakit pernapasan seperti pilek sebesar 16-21%.
Berikut beberapa bahaya ketika Anda tidak mencuci tangan:
Tanpa disadari orang sering menyentuh mata, hidung, dan mulut mereka. Aktivitas ini bisa membuat kuman dengan mudah masuk ke dalam tubuh. Saat makan tanpa mencuci tangan, kuman yang berada di tangan bisa saja masuk ke minuman dan makanan, masuknya kuman dapat dimulai dari menyiapkan makanan atau saat mengonsumsinya. Kuman dapat berkembang biak pada beberapa jenis makanan dan minuman, sehingga dapat membuat Anda jatuh sakit.
Kuman dari tangan yang tidak dicuci  dapat berpindah ke benda lain. Misalnya, mainan, gagang pintu, atau permukaan meja.
Cara Mencuci Tangan dengan Benar
Inilah cara mencuci tangan dengan sabun yang benar, yaitu:
Buka keran air dan basahi kedua tangan.
Gunakan sabun secukupnya dan oleskan ke kedua tangan hingga menutupi seluruh permukaan tangan.
Gosokkan kedua telapak tangan secara bergantian.
Jangan lupa untuk menggosok area di antara jari-jari tangan dan juga punggung tangan hingga bersih.
Bersihkan pula ujung jari secara bergantian dengan mengatupkannya.
Bersihkan ibu jari tangan dengan menggenggam dan memutar ibu jari, lakukan secara bergantian pada kedua ibu jari
Lalu, letakkan ujung jari-jari ke telapak tangan, kemudian gosok perlahan. Lakukan secara bergantian dengan tangan lainnya.
Kemudian, bilas kedua tangan dengan air yang mengalir.
Segera keringkan kedua tangan menggunakan handuk atau tisu kering yang bersih.
Gunakan handuk atau tisu tersebut untuk menutup keran air.
Kapan harus mencuci tangan?
Cucilah tangan dengan sabun pada keadaan-keadaan berikut:
Sebelum makan.
Sebelum, selama, dan setelah menyiapkan makanan.
Sebelum dan sesudah kontak dengan orang sakit yaitu saat merawat atau mengunjunginya
Sebelum dan sesudah merawat luka.
Setelah menggunakan toilet.
Setelah mengganti popok dan membersihkan balita sehabis menggunakan toilet.
Setelah bersin atau batuk.
Setelah menyentuh sampah.
Setelah menyentuh atau membersihkan kotoran hewan.
Cuci tangan diperingati  setiap tanggal 15 Oktober atau dikenal dengan Global Handwashing Day . Biasakanlah mencuci tangan dalam kegiatan sehari-hari agar membantu menghindarkan Anda dan keluarga dari penyakit dan kuman yang selalu mengintai.

Baca Juga : Diare, Penyebab dan Cara Mengatasinya


Lindungi Anak dari Penyakit dengan Imunisasi

Menurut WHO, bila anak tidak imunisasi, maka anak tidak memiliki perlindungan terhadap penyakit serius yang bisa berakibat komplikasi parah bahkan kematian. Vaksin memberikan perlindungan pada tiap anak, baik yang divaksin maupun yang tak bisa divaksin karena kondisi khusus.Bila semua anak telah divaksin, maka risiko penularan penyakit mematikan bisa diminimalisasi atau bahkan hilang sama sekali.
Hepatitis B
diberikan untuk mencegah infeksi hati serius, yang disebabkan oleh virus hepatitis B. Vaksin ini diberikan kurang dari 24 jam setelah bayi lahir, didahului dengan penyuntikan vitamin K, minimal 30 menit sebelumnya. Vaksin diberikan lagi pada usia 2, 3, dan 4 bulan.
Efek samping pemberian vaksin hepatitis B, seperti demam serta lemas. Pada kasus yang jarang terjadi, efek samping bisa berupa gatal-gatal, kulit kemerahan, dan pembengkakan pada wajah.
Polio
Polio merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus. Pada kasus yang parah, polio dapat menimbulkan keluhan sesak napas, kelumpuhan, hingga kematian.
Imunisasi polio diberikan saat anak baru dilahirkan hingga usia 1 bulan. Kemudian, diberikan vaksin kembali tiap bulan, yaitu saat anak berusia 2, 3, dan 4 bulan. Untuk penguatan, vaksin bisa kembali diberikan saat anak mencapai usia 18 bulan.
Vaksin polio bisa menimbulkan demam hingga lebih dari 390C. Efek samping lain yang dapat terjadi meliputi reaksi alergi seperti gatal-gatal, kulit kemerahan, sulit bernapas atau menelan, serta bengkak pada wajah.
BCG
Pemberian vaksin BCG bertujuan untuk mencegah perkembangan tuberkulosis (TB), penyakit infeksi serius yang umumnya menyerang paru-paru. Perlu diketahui,Vaksin BCG tidak bisa melindungi orang dari infeksi TB. Namun, vaksin BCG bisa mencegah infeksi TB berkembang ke kondisi penyakit TB yang serius seperti meningitis TB.
Vaksin BCG diberikan satu kali, yaitu saat bayi baru dilahirkan, hingga usia 2 bulan. Bila sampai usia 3 bulan atau lebih vaksin BCG belum diberikan, dokter akan mendiagnosa apakah bayi telah terinfeksi TB atau belum dengan melakukan uji tuberculin atau tes Mantoux.
Vaksin BCG akan menimbulkan bisul pada bekas suntikan dan muncul pada 2- 6 minggu setelah suntik BCG. Bisul bernanah tersebut akan pecah, dan meninggalkan jaringan parut. Efek samping lain yang mungkin muncul, seperti anafilaksis, sangat jarang terjadi.
DPT
Vaksin DPT merupakan jenis vaksin gabungan untuk mencegah penyakit difteri, pertusis, dan tetanus. Difteri merupakan kondisi serius yang dapat menyebabkan sesak napas, paru-paru basah, gangguan jantung, bahkan kematian.
Pertusis atau batuk rejan adalah penyakit batuk parah yang dapat memicu gangguan pernapasan, paru-paru basah (pneumonia), bronkitis, kerusakan otak, hingga kematian. Sedangkan tetanus adalah penyakit berbahaya yang dapat menyebabkan kejang, kaku otot, hingga kematian.
Vaksin DPT harus diberikan 4 kali, yaitu saat anak berusia 2, 3, dan 4 bulan. Vaksin dapat kembali diberikan pada usia 18 bulan dan 5 tahun sebagai penguatan. Setelah itu, pemberian vaksin lanjutan dapat diberikan pada usia 10-12 tahun, dan 18 tahun.
Efek samping yang muncul setelah imunisasi DPT cukup beragam, di antaranya adalah radang, nyeri, tubuh kaku, serta infeksi.
Hib
Vaksin Hib diberikan untuk mencegah infeksi bakteri Haemophilus influenza tipe B. Infeksi bakteri ini dapat menyebabkan kondisi berbahaya, seperti meningitis, pneumonia, septic arthritis (radang sendi), serta perikarditis (radang lapisan pelindung jantung).
Imunisasi Hib diberikan 4 kali, yaitu saat anak berusia 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan, dan dalam rentang usia 15-18 bulan.
Vaksin Hib dapat menimbulkan efek samping, antara lain demam di atas 390C, diare, dan berkurangnya nafsu makan.
Campak
Campak adalah infeksi virus yang ditandai dengan gejala, seperti demam, pilek, batuk kering, ruam, serta radang pada mata. Imunisasi campak diberikan saat anak berusia 9 bulan. Vaksin ulangan (booster) kembali diberikan pada usia 18 bulan. Namun bila anak sudah mendapatkan vaksin MMR, pemberian vaksin campak kedua tidak perlu diberikan.
MMR
Vaksin MMR adalah vaksin kombinasi untuk mencegah campak, gondongan, dan rubella (campak Jerman). Ketiganya merupakan infeksi serius yang menyebabkan komplikasi berbahaya, seperti meningitis, pembengkakan otak, hingga hilang pendengaran (tuli).
Vaksin MMR diberikan pada saat anak berusia 15 bulan, kemudian diberikan lagi pada usia 5 tahun sebagai penguatan. Pemberian imunisasi MMR dilakukan dalam jarak minimal 6 bulan dengan imunisasi campak. Tetapi jika pada usia 12 bulan anak belum juga mendapatkan vaksin campak, maka dapat diberikan vaksin MMR.
Vaksin MMR dapat menyebabkan demam lebih dari 390C, gatal, gangguan dalam bernapas atau menelan, serta bengkak pada wajah.
Banyak isu negatif seputar imunisasi, diantaranya adalah isu vaksin MMR yang dapat menyebabkan autisme. Isu tersebut sama sekali tidak benar. Sampai saat ini tidak ditemukan kaitan yang kuat antara imunisasi MMR dengan autisme.
PCV
Vaksin PCV (pneumokokus) diberikan untuk mencegah pneumonia, meningitis, dan septikemia, yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus pneumoniae. Pemberian vaksin harus dilakukan secara berkelanjutan, yaitu saat anak berusia 2, 4, dan 6 bulan. Kemudian pemberian vaksin dilakukan lagi saat anak berusia 12-15 bulan.
Efek samping yang mungkin timbul dari imunisasi PCV, adalah pembengkakan dan kemerahan pada bagian yang disuntik disertai demam ringan.
Influenza
Vaksin influenza diberikan untuk mencegah flu. Vaksinasi ini bisa diberikan pada anak berusia 6 bulan dengan frekuensi pengulangan 1 kali tiap tahun, hingga usia 18 tahun.
Efek samping vaksin influenza, antara lain demam, batuk, sakit tenggorokan, nyeri otot, dan sakit kepala. Selain itu, efek samping yang jarang muncul meliputi sesak napas, sakit pada telinga, dada terasa sesak, atau mengi.
Hepatitis A
Imunisasi ini bertujuan untuk mencegah hepatitis A, yaitu penyakit peradangan hati yang disebabkan oleh infeksi virus. Vaksin hepatitis A harus diberikan 2 kali, yaitu pada rentang usia anak 2-18 tahun. Suntikan pertama dan kedua harus berjarak 6 bulan atau 1 tahun.
Vaksin hepatitis A dapat menimbulkan efek samping seperti demam,lemas,gatal-gatal, batuk, sakit kepala, dan hidung tersumbat.
Varisela
Vaksin ini diberikan untuk mencegah penyakit cacar air, yang disebabkan oleh virus Varicella zoster. Imunisasi varisela dilakukan pada anak usia 1-18 tahun. Bila vaksin diberikan pada anak usia 13 tahun ke atas, vaksin diberikan dalam 2 dosis terpisah, dengan jarak waktu pemberian minimal 4 minggu.
1 dari 5 anak yang menerima vaksin varisela mengeluhkan nyeri dan kemerahan pada area yang disuntik. Vaksin varisela juga dapat menimbulkan ruam kulit, tetapi efek samping ini hanya terjadi pada 1 dari 10 anak. (dikutip dari www.alodokter.com)

Diare, Penyebab dan Cara Mengatasinya

Seseorang dikatakan mengalami diare jika mengalami buang air besar (BAB) lebih sering dari biasanya dengan kondisi feses yang lebih encer. Menurut WHO diare adalah kondisi dimana buang air besar lebih dari 3x dalam sehari dengan kondisi feses yang lebih encer. Diare ini biasanya berlangsung selama beberapa hari dan mungkin berlangsung hingga berminggu-minggu.
 Diare dibagi dalam 3 kategori yaitu:
Diare akut, disebabkan oleh infeksi usus,infeksi bakteri atau penyakit lain. Gejalanya feses cair, badan terada lemas dan disertai demam, juga adanya muntah
Diare kronik, diare yang berlangsung dalam jangka lama,
Disentri, diare dengan disertai darah dan lendir
Penyebab Diare
Diare dapat disebabkan oleh :
Faktor infeksi, bisa disebabkan bakteri ( E. Coli, Samonella, S. Dysentriae), Parasit, Virus dan infeksi lain
Intoleransi terhadap makanan, seperti laktosa dan fruktosa.
Alergi makanan.
Efek samping dari obat-obatan tertentu.
Mengonsumsi makanan basi atau beracun.
Faktor psikologis, rasa cemas dan takut

Gejala Diare
Beberapa gejala yang diakibatkan diare, antara lain:
Frekuensi BAB melebihi normal
Feses lembek dan cair.
Sakit dan kram perut.
Mual dan muntah.
Nyeri kepala.
Kehilangan nafsu makan.
Haus terus menerus.
Demam.
Dehidrasi.
Darah pada feses.

Dehidrasi dapat muncul bila kondisi diare sudah cukup. Pada anak-anak, dehidrasi ditandai dengan jarang buang air kecil, mulut kering, serta menangis tanpa mengeluarkan air mata. Sedangkan untuk kondisi dehidrasi berat, anak dapat terlihat cenderung mengantuk, tidak responsif, mata cekung, serta bila kulit perut dicubit tidak kembali dengan cepat. adapun tanda dehidrasi pada orang dewasa, antara lain kelelahan dan tidak bertenaga, kehilangan nafsu makan, pusing, mulut kering, serta sakit kepala.
Perilaku yang dapat menyebabkan diare, antara lain:
Kurang menjaga kebersihan makanan dan lingkungan
Tidak  mencuci tangan sebelum dan sesudah makan juga setelah dari kamar mandi
Menggunakan  air yang tidak bersih.
Makan makanan sisa yang sudah dingin
Tidak mencuci tangan dengan sabun.
Mengonsumsi makanan kadaluarsa

Cara Mengatasi Diare
Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengatasi diare, antara lain:
Konsumsi banyak cairan untuk menggantikan kehilangan cairan, dapat dari air putih, air kelapa, asi, larutan oralit
Oralit tidak menghentikan diare tapi menggantikan cairan tubuh yang keluar. Bila tidak ada oralit dapat dibuat dengan mencampur : Gula 1 sendok makan ditambah garam1 sendok teh, campur dalam 5 gelas air matang. Untuk anak dibawah 2 tahun berikan sedikit demi sedikit sampai habis.
Konsumsi suplemen yang mengandung zinc
Hindari makanan tinggi serat
Konsumsi makanan yang mengandung probiotik
Menggunakan obat diare yang termasuk dalam obat bebas seperti karbo adsorben, kombinasi kaolin pektin dan attapulgit
Penggunaan antibiotik pada diare harus didasarkan pada resep dokter
Pencegahan Diare
Beberapa upaya untuk mencegah diare, antara lain:
Selalu mencuci tangan, terutama sebelum menggunakan sabun dan air bersih.
Mengonsumsi makanan dan minuman yang sudah dimasak hingga matang sempurna, serta menghindari makanan dan minuman yang tidak terjamin kebersihannya.
 Segera hubungi dokter bila diare tidak teratasi dan muncul gejala dehidrasi untuk memperoleh penanganan lebih lanjut.

Baca juga : Hindari Penyakit dengan Cuci Tangan yang Benar

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.