Articles by "gema cermat"

Tampilkan postingan dengan label gema cermat. Tampilkan semua postingan

Klarifikasi BPOM Mengatasi Isu Keamanan Ranitidin

1. Belakangan ini, ada isu tentang kamanan yang terkait dengan penggunaan Ranitidin, apakah yang sebenarnya terjadi ?
Jawaban:
mengacu pada informasi yang disampaikan oleh US Food and Drug Administration (US-FDA) dan European Medicine Agency (EMA) (BPOM untuk Amerika ), ditemukan adanya cemaran Nitrosodimethylamine (NDMA) dalam jumlah kecil pada sampel produk obat yang mengandung bahan aktif Ranitidin.

2. Apakah NDMA itu dan apa akibatnya jika senyawa tersebut masuk dalam tubuh kita?
Jawaban:
Nitrosodimethylamine (NDMA) merupakan turunan nitrosamin yang dapat terbentuk secara alami. Paparan sejumlah batas maksimum yang telah ditetapkan oleh FDA diperkirakan dapat menimbulkan risiko kanker. Mengacu pada interim limit untuk NDMA yang diterbitkan oleh US-FDA dan EMA, acceptable intake NDMA adalah 96 ng/hari.

3. Sebagai institusi yang menjamin keamanan obat, tindakan apa saja yang sudah BPOM lakukan terkait temuan cemaran NDMA dalam Ranitidin ?
Jawaban:
Badan POM telah memberikan informasi awal untuk tenaga kesehatan 17 Sep 2019 dan melakukan pengambilan sampel untuk pengujian di laboratorium. Berdasarkan temuan beberapa produk raditin mengandung impuritis atau kontaminan NDMA, maka dalam konferensi pers 11 Oktober 2019 Badan POM memerintahkan kepada industri farmasi untuk MENGHENTIKAN SEMENTARA / SUSPEND semua produksi dan peredaran sediaan Ranitidin sampai selesainya hasil pengujian mandiri.

Baca Juga : Mengenal NDMA, Zat Karsinogenik Penyebab Ranitidin ditarik


4. Setelah Konferensi Pers yang dilakukan oleh Badan POM, apakah Ranitidine sudah tidak dapat diperoleh di apotik atau sarana kefarmasian lainnya?
Jawaban:
a. MENGHENTIKAN SEMENTARA/SUSPEND artinya Ranitidin tidak diresepkan dan apotik tidak melakukan penyerahan obat tersebut kepada pasien untuk sementara waktu. Mengingat proses tersebut membutuhkan waktu maka kepada Industri Farmasi/PBF diberikan waktu 80 Hari Kerja (sejak Konferensi Pers 11 Oktober 2019) atau sampai Minggu ke-4 Januari 2020 untuk melakukan penarikan disarana pelayanan kefarmasian (apotek, klinik, rumah sakit).
b. Sambil menunggu dilakukan penarikan, sarana pelayanan kefaarmasian dapat mengeluarkan obat tersebut dari tempat pelayanan dan menyimpan ditempat yang aman dan diberi penandaan.

5. Siapa yang akan menjamin bahwa sarana pelayanan kefarmasian melakukan tindakan sesuai dengan ketentuan Badan POM?
Jawaban:
Pada prinsipnya pemeriksaan dilakukan dengan tetap memperhatikan unsur pelayanan dan keberlangsungan bisnis serta membuat kondisi tetap kondusif. Peredaran obat disarana legal dan pengawasan obat yang legal dilakukan oleh Badan POM untuk menjaga keamanan pasien. Dalam melakukan pengawasan Badan POM berkoordinasi dengan petugas Dinas Kesehatan setempat. Permasalahan ini merupakan permasalahan impurities obat sehingga kewenangan penyelesaiannya hanya dapat dilakukan oleh Badan POM dan UPT Badan POM di daerah. Hal tersebut telah sesuai dengan pembagian kewenangan yang telah diatur dalam peraturan yang ada.

Baca Juga : Mengenal Obat Asam Lambung " Ranitidin"

6. Apakah Ranitidin dapat digunakan kembali jika sudah dilakukan pengujian?
Jawaban:
Ranitidin dapat di distribusikan atau diresepkan kembali jika hasil pengujian hasil pengujian laboratorium dan NDMA di bawah ambang batas 96 ng/hari. Badan POM terus melakukan pengujian terhadap produk-produk ranitidine dan akan melakukan pemutakiran data terkait isu keamanan ranitidine ini berdasarkan hasil pengujian.

7. Bagaimana tindakan yang harus dilakukan oleh dokter dan pasien jika membutuhkan obat-obatan untuk mengatasi kelebihan produksi asam lambung dan permasalahan tukak lambung?
Jawaban:
Dokter dapat mencari alternative pilihan terapi baik yang berasal dari golongan H2 Antagonis yang lain ( Famotidine dan Cimetidine), atau golongan lain seperti : Antasida, golongan Sitoprotektif seperi Sukralfat, golongan PPI (Proton Pump Inhibitor) seperti misalnya omeprazole dan lansoprazole.

Sumber : pom.go.id

Lowongan Pekerjaan Tenaga Kesehatan

Lowongan Pengelola Program Studi Sarjana Farmasi Universitas Sari Mulia Banjarmasin
1. Tenaga Kependidikan
Syarat : Apoteker
2. Tenaga Pendidik (Dosen)
Syarat :
a. Magister (S2) Kimia Farmasi
b. Magister (S2) Teknologi Farmasi
c. Magister (S2) Farmakologi
d. Magister (S2) Farmasi Klinik
Persyaratan Administrasi :
a. Fotokopi KTP
b. Fotokopi Ijazah dan Transkrip Nilai berlegalisir
c. Sertifikat Keahlian (jika ada)
d. Curiculum vitae
Berkas lamaran dapat di antar sendiri atau di kirim via jasa pengiriman, ke alamat kampus:
Jl. A. Yani Km 6, Jl. Pramuka No 02 Banjarmasin, Kalimantan Selatan
Telp : 0511-3268105
Fax : 0511-3270134
CP : Dyan Fitri Nugraha, M. Si. Apt ( 081294038912)



Dibutuhkan Staf Untuk mengisi Lowongan Di UPT Puskesmas Paramasan Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan:
1. Dokter Umum
2. Apoteker
3. Asisten Apoteker
4. Administrasi Umum
5. Administrasi Kepegawaian
6. Perekam medik
7. Nutrisionis
Persyaratan :
1. Pria/wanita usia maksimal 35 tahun
2. Bisa bekerja dalam team
3. Diutamakan menyukai pekerjaan lapangan
4. Fresh Graduate atau memiliki pengalaman
Persyaratan Khusus :
1. Pendidikan minimal D3
2. Memiliki Surat Tanda Registrasi (STR) bagi Tenaga kesehatan
Berkas yang di persiapkan :
1. Surat lamaran
2. Curiculum Vitae
3. Ijazah dan transkrip nilai
4. KTP
5. Surat Tanda Registrasi (STR) bagi Tenaga kesehatan
6. Pas Foto
Berkas dikirim hanya dalam bentuk file dan kirim ke email paramasan6303@gmail.com
Contact Person :
0813-4820-0735
0896-9144-2142
0813-5189-8116


Rumah Ratu Beauty Clinic memerlukan D3 farmasi untuk bergabung bersama kami :
Kualifikasi :
1. Wanita, berpenampilan menarik
2. Memiliki Surat Tanda Registrasi (STR) Tenaga Teknis Kefarmasian yang masih aktif
3. Bertanggung jawab, jujur, memiliki komitmen dan integritas tinggi
4. Komunikatif
5. Mampu bekerja dengan team
6. Diutamakan memiliki pengalaman kerja
Kirimkan lamaran ke Rumah Ratu Beauty Clinic yang beralamat : Jl. Lingkar Dalam Selatan No. 08 Rt. 30 ( Jalan tol bawah Fly Over Gatot Subroto) Banjarmasin.
Telp : 0851-0028-2283
Ig : @rumahratu_bjm

Mengenal Kebiri Kimia, Hukuman bagi Pelaku Pelecehan Seksual
Secara umum, ada dua teknik kebiri. yaitu kebiri fisik, dan kedua, kebiri kimiawi. Kebiri fisik dilakukan dengan mengamputasi organ seks eksternal seseorang. Hal ini akan membuat yang bersangkutan berkurang hormon testosteronnya sehingga mengurangi dorongan seksual. Berbeda dengan kebiri fisik, kebiri kimia atau kebiri kimiawi dilakukan dengan cara menyuntikkan zat kimia anti-androgen ke tubuh.Tujuannya, mengurangi produksi hormon testosteron. Efek akhirnya sama seperti kebiri fisik

Awal mula praktik kebiri kimia adalah pada tahun1944 dengan tujuan mengurangi kadar hormon testosteron pada pria. untuk mematikan dorongan seksual seseorang yang memperlihatkan perilaku seksual menyimpang kadang digunakan zat penenang benperidol. Namun ternyata benperidol tidak mempengaruhi testosteron dan bukan zat yang tepat untuk pengebirian. Kebiri kimia dipandang sebagai salah satu alternatif mudah untuk hukuman seumur hidup daripada hukuman mati karena praktik ini mengizinkan pelaku pelecehan seksual dibebaskan di saat dia sedang menjalani proses kebiri kimia.

Kebiri kimia merupakan proses menurunkan hasrat seksual dan libido, obat-obatan yang digunakan adalah anafrodisiak. waktu yang dibutuhkan  untuk terapi kebiri setidaknya 3-5 tahun. Kebiri kimia tidak lagi efektif setelah terapi dihentikan.

Leuprorelin adalah obat yang sering digunakan dalam kebiri kimia, berfungsi 'mengobati' kesulitan mengendalikan gairah seksual, sadisme, atau kecenderungan membahayakan orang lain. Obat lain yang bisa digunakan untuk terapi kebiri kimia adalah medroksiprogesteron asetat, siproteron asetat, dan LHRH yang berfungsi untuk mengurangi testosteron dan estradiol.

Dampak kebiri kimia
Meski dinilai lebih efektif, namun penerapan kebiri kimia dikabarkan memiliki efek samping bagi tulang hingga jantung. Efek samping yang mungkin muncul pada kebiri kimia adalah osteoporosis, penyakit kardiovaskular (jantung dan pembuluh darah). Munculnya efek samping tersebut karena terapi kebiri kimia dapat mempengaruhi estrogen. Walaupun hormone estrogen lebih banyak terdapat pada organ reproduksi wanita, tapi hormon estrogen juga berperan penting dalam pertumbuhan tulang, fungsi otak, dan proses kardiovaskular pada pria. Efek samping lain adalah depresi, infertilitas, anemia, dan menimbulkan rasa panas pada tubuh.
Pria yang diberikan obat antiandrogen berpotensi mengalami kemandulan karena kemungkinan tidak memiliki sel spermatozoa




Cerdas Gunakan Obat dengan Tanya Lima O

5 (lima) macam pertanyaan yang harus terjawab dan wajib anda ketahui sebelum menggunakan obat yang disebut dengan “Tanya Lima O”, dengan terjawabnya 5 pertanyaan ini, maka informasi minimal tentang obat sudah terpenuhi. Tanya Lima O yang harus anda tanyakan saat mendapat obat, yaitu:

1. Obat ini apa nama dan kandungannya?
Seseorang hendaknya mengenali jenis obat yang akan dikonsumsi, baik nama maupun kandungannya. Obat bernama dagang berbeda dapat memiliki kandungan yang sama. Khasiat obat ditentukan oleh kandungan zat berkhasiat, bukan merek-nya. Hal ini mencegah anda meminum obat yang sama namun memiliki nama dagang yang berbeda

2. Obat ini apa khasiatnya?
Tujuan pengobatan dapat tercapai jika obat diberikan sesuai indikasi (rasional). Masyarakat diharapkan dapat memahami indikasi atau khasiat dari obat yang digunakan, sehingga tidak terjadi salah minum obat. Jangan sampai anda meminum obat yang tidak sesuai dengan indikasi yang diharapkan.

3. Obat ini berapa dosisnya?
Efek obat terhadap tubuh juga tergantung pada dosis. Dosis berlebih dapat melampaui ambang batas keamanan, sedangkan dosis kurang dapat menyebabkan efek terapi tidak tercapai. Gunakanlah obat sesuai dosis anjuran. Perhatikan dosis yang diperlukan, akan berbeda dosis untuk anak dan untuk dewasa, dosis yang tepat akan membuat obat dapat berkhasiat optimal.

4. Obat ini bagaimana cara menggunakannya?
Obat tersedia dalam berbagai bentuk sesuai tujuannya dan diproduksi menggunakan bahan tambahan tertentu yang memudahkan obat untuk diserap dalam tubuh. Digunakan melalui mulut (oral) atau dengan kata lain melalui sistem pencernaan itulah disebut " Obat Dalam", tidak digunakan melalui bagian tubuh lain misalnya kulit. Sebaliknya, “obat luar” digunakan tidak melalui mulut, tidak boleh ditelan. Misalnya suppositoria digunakan melalui anus, salep melalui kulit. Obat harus digunakan pada selang waktu yang sama, agar efek pengobatan dapat tercapai. Misalnya 3 kali sehari, artinya tiap 8 jam.

5. Obat ini apa efek sampingnya?
Obat dapat menyebabkan efek samping yang tidak diharapkan. Misalnya mengantuk, iritasi lambung, alergi dan gangguan fungsi hati atau ginjal. Jika merasakan efek samping, penggunaan obat harus dihentikan dan segera konsultasi pada dokter atau fasilitas kesehatan.

Selain lima pertanyaan tersebut, masyarakat hendaknya aktif bertanya hal lain terkait obat yang akan atau sedang dikonsumsi. Pada obat bebas dan bebas terbatas, informasi tercantum pada kemasan. Untuk obat yang diperoleh dengan resep dokter, dapat ditanyakan pada dokter atau apoteker pada saat menebus resep. Keterlibatan masyarakat secara aktif mencari informasi sangat diharapkan. Tanyakan Apoteker untuk informasi mengenai obat yang anda gunakan.
Artikel ini dikutip dari IG @gemacermat dengan sedikit perubahan.

Baca juga : Pastikan Obat Aman dengan "KLIK" sebelum Membeli

Bagaimana Cara Menggunakan Tablet Kunyah, Tablet Sublingual dan Tablet Bukal ?
TABLET KUNYAH

Sebagaimana namanya, tablet kunyah atau chewable tablet adalah tablet yang dianjurkan untuk dikunyah terlebih dahulu sebelum ditelan.

Tablet kunyah dirancang untuk memiliki rasa yang enak, sehingga menutupi rasa pahit pada obat. Umumnya diberikan rasa seperti rasa mint atau buah-buahan. Contoh tablet kunyah misalnya Antasida (obat lambung), Mebendazol (obat kecacingan), multivitamin anak, dll.

Tujuan mengunyah tablet jenis ini adalah untuk mempercepat efeknya, sehingga efek terapi dapat cepat tercapai atau tujuan lain. Misalnya pada anak, tablet kunyah yang rasanya manis akan memudahkan pemberian obat pada anak.

Pada kondisi lambung sedang radang (gastritis) dan tidak mampu mencerna obat dan makanan dengan baik, maka obatnya dirancang dalam bentuk tablet yang dikunyah dulu, sehingga bisa langsung larut dalam saluran cerna dan mempercepat efeknya. Tablet kunyah antasida ini merupakan pilihan selain obat antasida cair. Jika tablet kunyah antasida langsung ditelan utuh, dapat menyebabkan obat lebih lama larut, sehingga menunda efeknya menjadi lebih lama.

Setelah tablet dikunyah sampai hancur dan ditelan, minumlah segelas air putih (air minum) untuk memastikan bahwa obat telah tertelan seluruhnya. Tanyakan pada apoteker kesayangan Anda, informasi lengkap tentang obat yang akan digunakan, termasuk efek samping, cara menyimpan, dll

TABLET SUBLINGUAL

Tablet Sublingual adalah tablet yang cara penggunaannya diletakkan di bawah lidah (perhatikan gambar). Tablet sublingual tidak ditelan langsung seperti tablet biasa. Dokter mungkin menganjurkan obat ini untuk kondisi tertentu, atau untuk pasien yang kesulitan menelan atau mencerna obat, atau mempercepat efek obat. Contohnya tablet isosorbid dinitrat (ISDN) untuk gangguan jantung.

Tablet sublingual dirancang secara khusus dan akan melarut perlahan dan diserap melalui pembuluh darah yang banyak terdapat di bawah lidah. Tujuannya antara lain untuk menjaga obat tetap berkhasiat (untuk beberapa obat dapat rusak karena asam lambung) atau mempercepat efek obat misalnya pada keadaan gawat darurat atau gangguan jantung mendadak.

Tablet yang disarankan digunakan secara sublingual namun ditelan utuh seperti tablet biasa akan kehilangan khasiatnya sehingga tujuan pengobatan tidak tercapai. Obat ini masuk ke dalam aliran darah melalui membran lendir mulut setelah terlarut sehingga dapat diserap dengan cepat, selain itu efek obat juga tidak berkurang karena tidak melalui proses metabolisme dalam lambung dan hati.

Cara penggunaan tablet Sublingual:
1. Minum atau berkumur-kumurlah dengan sedikit air untuk melembabkan jika mulut kering. Cucilah tangan sampai bersih sebelum memegang tablet.
2. Letakkan tablet sublingual di bawah lidah, dan tempatkan tablet antara gusi dan pipi jika terjadi sensasi menyengat.
3.Tutuplah mulut dan jangan menelan sampai tablet larut seluruhnya.
4.Jangan makan, minum atau merokok selama proses pelarutan tablet.
5.Jangan berkumur atau mencuci mulut selama beberapa menit setelah tablet larut dengan sempuna.
6. Gunakan obat pada jarak waktu yang sama dalam sehari. •
Tanyakan pada apoteker kesayangan Anda, informasi lengkap tentang obat yang akan digunakan.

TABLET BUKAL

Tablet Bukal adalah tablet yang cara penggunaannya diletakkan di antara pipi dan gusi (perhatikan gambar). Tablet bukal tidak ditelan langsung seperti tablet biasa. Dokter mungkin menganjurkan obat ini untuk kondisi tertentu, atau untuk pasien yang kesulitan menelan atau mencerna obat, atau mempercepat efek obat.

Tablet bukal dirancang secara khusus dan akan melarut perlahan dan diserap melalui pembuluh darah yang banyak terdapat di area tersebut. Tujuannya antara lain untuk menjaga obat tetap berkhasiat (untuk beberapa obat yang dapat rusak oleh asam lambung), mempercepat efek kerja obat, atau pasien kesulitan menelan.

Tablet bukal yang ditelan utuh seperti tablet biasa akan kehilangan khasiatnya sehingga tujuan pengobatan tidak tercapai.

Cara penggunaan tablet bukal:
1. jika mulut kering minum atau berkumurlah dengan sedikit air untuk melembabkan. Cucilah tangan sampai bersih sebelum memegang tablet.
2. Letakkan tablet di antara pipi dan gusi.
3. Tutuplah mulut dan jangan menelan sampai tablet larut seluruhnya.
4. Jangan makan, minum atau merokok selama proses pelarutan tablet.
5. Jangan berkumur atau mencuci mulut selama beberapa menit setelah tablet larut dengan sempurna.
6. Gunakan obat pada jarak waktu yang sama dalam sehari. •
Tanyakan pada apoteker kesayangan Anda, informasi lengkap tentang obat yang akan digunakan, termasuk efek samping, cara menyimpan, dll.

Baca Juga : Cerdas Gunakan Obat dengan Tanya Lima O


Bagaimana Cara Penggunaan Obat Berdasarkan Bentuk Sediaan?
Bentuk sediaan obat yang paling lazim kita temui adalah tablet, kapsul atau pil. Masing-masing berbeda bentuk dan bahan pembuatnya,sehingga beda pula cara mengonsumsinya.

1. TABLET
Berbentuk bulat  dan pipih. Ada yang seperti silinder pipih, ada juga yang pinggirannya melengkung seperti tablet salut.
Umumnya digunakan dengan cara ditelan (melalui saluran cerna), disebut penggunaan ORAL. Ada juga yang digunakan melalui vagina, disebut TABLET VAGINA.Jika berbentuk bulat lonjong seperti kapsul, disebut KAPLET.
TABLET yang dimaksud di sini adalah tablet biasa yang digunakan melalui oral (mulut).
Bahan pembuatnya selain obat (zat aktif) biasanya berupa tepung amylum, zat pengikat, penghancur, pewarna, dll.
Zat-zat tersebut ditambahkan agar tablet hancur dalam saluran cerna dan melarutkan obat di dalam darah. Tablet untuk obat magh (antasida) dikunyah lebih dulu dan rasanya seperti permen, agar tidak perlu dihancurkan dulu oleh lambung yang sedang sakit. Tablet jenis ini disebut TABLET KUNYAH (Chewable Tablet)

2. KAPSUL
Berbentuk bulat lonjong, berupa cangkang dari gelatin yang mudah hancur di dalam darah. Kapsul berisi serbuk obat biasanya dapat dibuka, sedangkan kapsul berisi cairan tidak dapat dibuka, disebut KAPSUL LUNAK (Soft Capsule). Kapsul tidak boleh disimpan di tempat yang panas atau lembab agar cangkangnya tidak rusak. Biasanya di dalam botol kemasan kapsul disertakan SILIKA GEL sebagai pengering agar kapsul tidak rusak. Atau kapsul dibungkus kemasan blister. Umumnya kapsul digunakan melalui oral.

3. PIL
Berbentuk bulatan kecil seperti bola. Ukurannya bisa berbeda tergantung kandungan obatnya. Umumnya pil dilapisi zat gula atau zat tertentu pada bagian luar, agar bentuknya tetap utuh.
Seringkali Tablet keliru disebut Pil, padahal bentuk dan bahannya berbeda. Umumnya pil digunakan melalui oral.

Baik tablet (biasa), kaplet, kapsul atau pil yang ditujukan untuk penggunaan melalui mulut (oral),
tidak dianjurkan menggunakannya pada bagian luar badan, misalnya kapsul dibuka atau tablet dihancurkan kemudian ditabur pada kulit.
4. TABLET SALUT
 adalah tablet yang diberi lapisan (salut) dengan bahan tertentu seperti salut gula, salut tipis (enterik dan non enterik), salut film, dll.
Tujuan penyalutan tablet ada berbagai alasan, antara lain untuk melindungi obat (kandungan zat aktif) dari udara, kelembaban atau cahaya, apabila zat tidak stabil; menutupi rasa dan bau yang tidak enak; membuat penampilan lebih baik; atau mengatur pelepasan obat dalam saluran cerna.

Berdasarkan jenis bahan penyalut, ada beberapa jenis tablet salut:

a. Tablet Salut Gula (Dragee)
Disalut dengan gula, biasanya untuk menghilangkan rasa pahit atau tidak enak dari obat.
b. Tablet Salut Selaput (film-coated tablet)
Disalut dengan lapisan hidroksipropil metil selulosa, metil selulosa, hidroksi propil selulosa, Na-CMC dan campuran selulosa asetat ftalat dengan polietilenglikol (PEG) yang tidak mengandung air atau mengandung air.

c. Tablet Salut Kempa
Disalut secara kempa cetak sehingga tablet menjadi berlapis.

d. Tablet Salut Enterik (Enteric coated tablet) atau lepas tunda
Disalut dengan bahan yang tidak dapat hancur dalam lambung. Biasanya digunakan untuk menunda pelepasan obat sampai tablet melewati lambung dan pecah di dalam usus.
e. Tablet Lepas Lambat
Tablet dibuat sedemikian rupa agar zat aktif tetap tersedia di dalam darah selama jangka waktu tertentu setelah obat diberikan. Tujuannya agar memperpanjang efek dari obat.

Semua jenis tablet salut sebaiknya tidak diracik atau dihancurkan, melainkan ditelan dalam keadaan utuh. Umumnya digunakan melalui oral (mulut). Artikel ini dikutip dari ig @gemacermat.

Baca Juga : Bagaimana Cara Menggunakan Tablet Kunyah , Tablet Sublingual dan Tablet Bukal?

Hindari Penyakit dengan Cuci Tangan yang Benar
 Mencuci tangan dengan sabun adalah salah satu tindakan untuk mencegah penyebaran dan penularan penyakit. Tangan sering kali menjadi perantara dari berbagai bakteri untuk masuk ke dalam tubuh. Membiasakan mencuci tangan dengan sabun dapat mengurangi jumlah orang yang sakit diare sebesar 31%, dan mengurangi penyakit pernapasan seperti pilek sebesar 16-21%.
Berikut beberapa bahaya ketika Anda tidak mencuci tangan:
Tanpa disadari orang sering menyentuh mata, hidung, dan mulut mereka. Aktivitas ini bisa membuat kuman dengan mudah masuk ke dalam tubuh. Saat makan tanpa mencuci tangan, kuman yang berada di tangan bisa saja masuk ke minuman dan makanan, masuknya kuman dapat dimulai dari menyiapkan makanan atau saat mengonsumsinya. Kuman dapat berkembang biak pada beberapa jenis makanan dan minuman, sehingga dapat membuat Anda jatuh sakit.
Kuman dari tangan yang tidak dicuci  dapat berpindah ke benda lain. Misalnya, mainan, gagang pintu, atau permukaan meja.
Cara Mencuci Tangan dengan Benar
Inilah cara mencuci tangan dengan sabun yang benar, yaitu:
Buka keran air dan basahi kedua tangan.
Gunakan sabun secukupnya dan oleskan ke kedua tangan hingga menutupi seluruh permukaan tangan.
Gosokkan kedua telapak tangan secara bergantian.
Jangan lupa untuk menggosok area di antara jari-jari tangan dan juga punggung tangan hingga bersih.
Bersihkan pula ujung jari secara bergantian dengan mengatupkannya.
Bersihkan ibu jari tangan dengan menggenggam dan memutar ibu jari, lakukan secara bergantian pada kedua ibu jari
Lalu, letakkan ujung jari-jari ke telapak tangan, kemudian gosok perlahan. Lakukan secara bergantian dengan tangan lainnya.
Kemudian, bilas kedua tangan dengan air yang mengalir.
Segera keringkan kedua tangan menggunakan handuk atau tisu kering yang bersih.
Gunakan handuk atau tisu tersebut untuk menutup keran air.
Kapan harus mencuci tangan?
Cucilah tangan dengan sabun pada keadaan-keadaan berikut:
Sebelum makan.
Sebelum, selama, dan setelah menyiapkan makanan.
Sebelum dan sesudah kontak dengan orang sakit yaitu saat merawat atau mengunjunginya
Sebelum dan sesudah merawat luka.
Setelah menggunakan toilet.
Setelah mengganti popok dan membersihkan balita sehabis menggunakan toilet.
Setelah bersin atau batuk.
Setelah menyentuh sampah.
Setelah menyentuh atau membersihkan kotoran hewan.
Cuci tangan diperingati  setiap tanggal 15 Oktober atau dikenal dengan Global Handwashing Day . Biasakanlah mencuci tangan dalam kegiatan sehari-hari agar membantu menghindarkan Anda dan keluarga dari penyakit dan kuman yang selalu mengintai.

Baca Juga : Diare, Penyebab dan Cara Mengatasinya


Lindungi Anak dari Penyakit dengan Imunisasi

Menurut WHO, bila anak tidak imunisasi, maka anak tidak memiliki perlindungan terhadap penyakit serius yang bisa berakibat komplikasi parah bahkan kematian. Vaksin memberikan perlindungan pada tiap anak, baik yang divaksin maupun yang tak bisa divaksin karena kondisi khusus.Bila semua anak telah divaksin, maka risiko penularan penyakit mematikan bisa diminimalisasi atau bahkan hilang sama sekali.
Hepatitis B
diberikan untuk mencegah infeksi hati serius, yang disebabkan oleh virus hepatitis B. Vaksin ini diberikan kurang dari 24 jam setelah bayi lahir, didahului dengan penyuntikan vitamin K, minimal 30 menit sebelumnya. Vaksin diberikan lagi pada usia 2, 3, dan 4 bulan.
Efek samping pemberian vaksin hepatitis B, seperti demam serta lemas. Pada kasus yang jarang terjadi, efek samping bisa berupa gatal-gatal, kulit kemerahan, dan pembengkakan pada wajah.
Polio
Polio merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus. Pada kasus yang parah, polio dapat menimbulkan keluhan sesak napas, kelumpuhan, hingga kematian.
Imunisasi polio diberikan saat anak baru dilahirkan hingga usia 1 bulan. Kemudian, diberikan vaksin kembali tiap bulan, yaitu saat anak berusia 2, 3, dan 4 bulan. Untuk penguatan, vaksin bisa kembali diberikan saat anak mencapai usia 18 bulan.
Vaksin polio bisa menimbulkan demam hingga lebih dari 390C. Efek samping lain yang dapat terjadi meliputi reaksi alergi seperti gatal-gatal, kulit kemerahan, sulit bernapas atau menelan, serta bengkak pada wajah.
BCG
Pemberian vaksin BCG bertujuan untuk mencegah perkembangan tuberkulosis (TB), penyakit infeksi serius yang umumnya menyerang paru-paru. Perlu diketahui,Vaksin BCG tidak bisa melindungi orang dari infeksi TB. Namun, vaksin BCG bisa mencegah infeksi TB berkembang ke kondisi penyakit TB yang serius seperti meningitis TB.
Vaksin BCG diberikan satu kali, yaitu saat bayi baru dilahirkan, hingga usia 2 bulan. Bila sampai usia 3 bulan atau lebih vaksin BCG belum diberikan, dokter akan mendiagnosa apakah bayi telah terinfeksi TB atau belum dengan melakukan uji tuberculin atau tes Mantoux.
Vaksin BCG akan menimbulkan bisul pada bekas suntikan dan muncul pada 2- 6 minggu setelah suntik BCG. Bisul bernanah tersebut akan pecah, dan meninggalkan jaringan parut. Efek samping lain yang mungkin muncul, seperti anafilaksis, sangat jarang terjadi.
DPT
Vaksin DPT merupakan jenis vaksin gabungan untuk mencegah penyakit difteri, pertusis, dan tetanus. Difteri merupakan kondisi serius yang dapat menyebabkan sesak napas, paru-paru basah, gangguan jantung, bahkan kematian.
Pertusis atau batuk rejan adalah penyakit batuk parah yang dapat memicu gangguan pernapasan, paru-paru basah (pneumonia), bronkitis, kerusakan otak, hingga kematian. Sedangkan tetanus adalah penyakit berbahaya yang dapat menyebabkan kejang, kaku otot, hingga kematian.
Vaksin DPT harus diberikan 4 kali, yaitu saat anak berusia 2, 3, dan 4 bulan. Vaksin dapat kembali diberikan pada usia 18 bulan dan 5 tahun sebagai penguatan. Setelah itu, pemberian vaksin lanjutan dapat diberikan pada usia 10-12 tahun, dan 18 tahun.
Efek samping yang muncul setelah imunisasi DPT cukup beragam, di antaranya adalah radang, nyeri, tubuh kaku, serta infeksi.
Hib
Vaksin Hib diberikan untuk mencegah infeksi bakteri Haemophilus influenza tipe B. Infeksi bakteri ini dapat menyebabkan kondisi berbahaya, seperti meningitis, pneumonia, septic arthritis (radang sendi), serta perikarditis (radang lapisan pelindung jantung).
Imunisasi Hib diberikan 4 kali, yaitu saat anak berusia 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan, dan dalam rentang usia 15-18 bulan.
Vaksin Hib dapat menimbulkan efek samping, antara lain demam di atas 390C, diare, dan berkurangnya nafsu makan.
Campak
Campak adalah infeksi virus yang ditandai dengan gejala, seperti demam, pilek, batuk kering, ruam, serta radang pada mata. Imunisasi campak diberikan saat anak berusia 9 bulan. Vaksin ulangan (booster) kembali diberikan pada usia 18 bulan. Namun bila anak sudah mendapatkan vaksin MMR, pemberian vaksin campak kedua tidak perlu diberikan.
MMR
Vaksin MMR adalah vaksin kombinasi untuk mencegah campak, gondongan, dan rubella (campak Jerman). Ketiganya merupakan infeksi serius yang menyebabkan komplikasi berbahaya, seperti meningitis, pembengkakan otak, hingga hilang pendengaran (tuli).
Vaksin MMR diberikan pada saat anak berusia 15 bulan, kemudian diberikan lagi pada usia 5 tahun sebagai penguatan. Pemberian imunisasi MMR dilakukan dalam jarak minimal 6 bulan dengan imunisasi campak. Tetapi jika pada usia 12 bulan anak belum juga mendapatkan vaksin campak, maka dapat diberikan vaksin MMR.
Vaksin MMR dapat menyebabkan demam lebih dari 390C, gatal, gangguan dalam bernapas atau menelan, serta bengkak pada wajah.
Banyak isu negatif seputar imunisasi, diantaranya adalah isu vaksin MMR yang dapat menyebabkan autisme. Isu tersebut sama sekali tidak benar. Sampai saat ini tidak ditemukan kaitan yang kuat antara imunisasi MMR dengan autisme.
PCV
Vaksin PCV (pneumokokus) diberikan untuk mencegah pneumonia, meningitis, dan septikemia, yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus pneumoniae. Pemberian vaksin harus dilakukan secara berkelanjutan, yaitu saat anak berusia 2, 4, dan 6 bulan. Kemudian pemberian vaksin dilakukan lagi saat anak berusia 12-15 bulan.
Efek samping yang mungkin timbul dari imunisasi PCV, adalah pembengkakan dan kemerahan pada bagian yang disuntik disertai demam ringan.
Influenza
Vaksin influenza diberikan untuk mencegah flu. Vaksinasi ini bisa diberikan pada anak berusia 6 bulan dengan frekuensi pengulangan 1 kali tiap tahun, hingga usia 18 tahun.
Efek samping vaksin influenza, antara lain demam, batuk, sakit tenggorokan, nyeri otot, dan sakit kepala. Selain itu, efek samping yang jarang muncul meliputi sesak napas, sakit pada telinga, dada terasa sesak, atau mengi.
Hepatitis A
Imunisasi ini bertujuan untuk mencegah hepatitis A, yaitu penyakit peradangan hati yang disebabkan oleh infeksi virus. Vaksin hepatitis A harus diberikan 2 kali, yaitu pada rentang usia anak 2-18 tahun. Suntikan pertama dan kedua harus berjarak 6 bulan atau 1 tahun.
Vaksin hepatitis A dapat menimbulkan efek samping seperti demam,lemas,gatal-gatal, batuk, sakit kepala, dan hidung tersumbat.
Varisela
Vaksin ini diberikan untuk mencegah penyakit cacar air, yang disebabkan oleh virus Varicella zoster. Imunisasi varisela dilakukan pada anak usia 1-18 tahun. Bila vaksin diberikan pada anak usia 13 tahun ke atas, vaksin diberikan dalam 2 dosis terpisah, dengan jarak waktu pemberian minimal 4 minggu.
1 dari 5 anak yang menerima vaksin varisela mengeluhkan nyeri dan kemerahan pada area yang disuntik. Vaksin varisela juga dapat menimbulkan ruam kulit, tetapi efek samping ini hanya terjadi pada 1 dari 10 anak. (dikutip dari www.alodokter.com)

Jadwal Imunisasi Rutin Lengkap yang Wajib Anda Tahu

Imunisasi bertujuan meningkatkan pembentukan antibodi untuk memperkuat kerja sistem imun saat melawan bakteri atau kuman patogen yang dapat menyebabkan penyakit berbahaya. Proses ini dilakukan dengan pemberian vaksin yang akan merangsang sistem kekebalan tubuh agar kebal terhadap penyakit tersebut. Tubuh memiliki antibodi alami atau yang disebut dengan kekebalan pasif. Namun ada juga kekebalan yang dibentuk setelah tubuh dimasukkan bakteri atau kuman yang dilemahkan sehingga tubuh akan membentuk antibodi dalam kadar tertentu atau yang disebut dengan kekebalan Aktif.
Agar antibodi tersebut terbentuk. Maka harus diberikan vaksn sesuai dengan jadwal yang telah ditetntukan. Sejumlah vaksin cukup diberikan satu kali, tetapi ada juga yang harus diberikan beberapa kali, dan diulang pada usia tertentu atau disebut dengan vaksin booster. Vaksin dapat diberikan dengan cara disuntik atau diteteskan pada mulut.
Imunisasi di Indonesia sudah menjadi program pemerintah dan masuk dalam Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga. Imunisasi ini dibagi menjadi imunisasi dasar lengkap dan imunisasi lanjutan. Imunisasi ini dimulai dari umur bayi kurang dari 0 bulan hingga anak duduk di kelas 5 Sekolah Dasar dan sederajat.
Berikut jadwal Imunisasi Rutin Lengkap bagi bayi dan Anak;

Umur                                                   Jenis Imunisasi
< 24 jam                                               1 dosis hepatitis B

1 bulan                                                 1 dosis BCG dan polio tetes 1
2 bulan                                                 1 dosis DPT-hepatitis B-HiB 1, dan polio tetes 2,
3 bulan                                                 1 dosis DPT-hepatitis B-HiB 2, dan polio tetes 2,
4 bulan                                     1 dosis DPT-hepatitis B-HiB 3, dan polio tetes 4,Polio Suntk (IPV)
9 bulan                                                 1 dosis campak/MR
18 bulan-24 bulan                                1 dosis DPT-hepatitis B-HiB, dan campak/MR
Kelas 1 SD/ Madrasah/Sederajat          1 dosis campak dan DT
Kelas 2 SD/ Madrasah/Sederajat          1 dosis Td
Kelas 5 SD/ Madrasah/Sederajat          1 dosis Td

Penting diketahui imunisasi tidak memberikan perlindungan 100 persen pada anak. Perlindungan yang diberikan imunisasi sekitar 80-95 persen sehingga anak yang telah diimunisasi masih mungkin terserang suatu penyakit sekitar 5-15 persen.

Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI)

Pemberian Vaksin mungkin saja disertai efek samping atau yang lebih dikenal dengan istilah Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI). KIPI yang sering muncul antara lain demam ringan sampai tinggi, nyeri dan bengkak pada area bekas suntikan dan anak agak rewel. Tak perlu khawatir, reaksi tersebut akan hilang dalam 3-4 hari.
Bila anak mengalami KIPI seperti di atas, berikan kompres air hangat, dan obat penurun panas tiap 4 jam hingga demam hilang. Pakaikan anak baju yang tipis, tanpa diselimuti, berikan ASI lebih sering, berikan nutrisi tambahan dari buah dan susu. Bila kondisi terus berlanjut, segera periksakan anak ke dokter.
Sejumlah vaksin dapat menimbulkan efek alergi parah hingga kejang, namun efek ini sangat jarang terjadi. Bila anak pernah memiliki riwayat alergi, penting untuk disampaikan kepada tenaga kesehatan untuk mencegah timbulnya reaksi berbahaya saat pemberian vaksin maupun pengulangan vaksin (vaksin Booster).
Sayangi buah hati anda, pastikan mereka mendapatkan imunisasi rutin dan lengkap. Kunjungi sarana kesehatan seperti puskesmas dan posyandu. Dukung kegiatan imunisasi anak sekolah, agar anak anda terlindung dari penyakit berbahaya.

Yuk Jaga Kesehatan Mata Kita!!
Di zaman sekarang ini kita tak bisa lepas dari gadget dan komputer. Sering menatap layar ponsel atau pun monitor, seperti komputer, laptop atau televisi dalam jangka lama bisa menimbulkan dampak yang buruk bagi mata.

Berikut ini adalah beberapa cara menjaga kesehatan mata, sekaligus berguna untuk tidak memperparah kemampuan penglihatan yang sudah mengalami rabun.

1. Makan Buah dan Sayur
Cara mudah untuk menjaga kesehatan mata adalah dengan memperbanyak konsumsi buah dan sayur terutama yang mengandung vitamin A serta beta karoten. Buah dan sayur yang bisa kamu konsumsi contahnya adalah wortel. Wortel mengandung beta karoten yang sangat tinggi Beta karoten merupakan antioksidan yang bisa mengurangi resiko degenerasi makula atau penurunan penglihatan pusat saat kamu memandang lurus.

2. Kompres dengan Mentimun
Kamu dapat mengompres kelopak mata dengan irisan mentimun. Irisan mentimun dapat membantu untuk mencegah mata bengkak dan juga timbulnya kantong mata. Taruhlah irisan mentimun pada kelopak mata sebelum tidur selama kurang lebih 10 menit. Lakukan secara teratur agar hasil yang diperoleh lebih maksimal.

3. Jangan Gunakan Lensa Kontak Terlalu Lama
Lensa kontak baik digunakan maksimal selama 8 jam. Bila merasakan mata kering, teteskan obat khusus lensa kontak dengan segera . Pemakaian lensa kontak yang terlalu lama tentu saja sangat berbahaya, bahkan dapat menyebabkan kerusakan mata yang permanen.

4. Gunakan Tetes Mata Secara Wajar
Jangan gunakan tetes mata secara berlebihan, kurangi pemakaian obat tetes mata agar tidak ada gangguan terjadi pada mata.

5. Jangan Terlalu Lama Menatap Monitor
Cara menjaga kesehatan mata dengan mudah ialah hindari untuk duduk terlalu lama di depan layar. Hal ini bisa mengakibatkan mata cepat lelah. Selain itu, perhatikan jarak aman mata dengan layar monitor. Jarak minimal mata dengan layar monitor adalah 30 centimeter, selain itu letakkan layar sedikit kebawah dengan jarak sekitar 61 hingga 71 centimeter.
Pastikan kecerahan serta kontras di layar sudah tepat. Jika memiliki masalah pada penglihatan gunakan layar yang besar atau gunakan tulisan dengan ukuran besar. Halni akan membantu mata agar tidak terlalu lelah saat menatap layar monitor.

6. Atur Pencahayaan
Atur pencahayaan pada layar monitor agar lebih nyaman saat digunakan. Selain itu pencahayaan ruangan juga berpengaruh pada kesehatan mata.Pastikan cahaya yang masuk diruangan tidak terlalu berlebihan ataupun terlalu gelap.
Saat membaca buku perhatikan juga tingkat pencahayaan di ruangan. Membaca diruang dengan cahaya redup akan menyebabkan ketegangan pada mata, sedangkan bila membaca di ruang yang terlalu terang dapat merusak kinerja mata. 

7. Jangan Melihat Cahaya Terang Secara Langsung
Hindari untuk melihat cahaya yang terang secara langsung karena dapat merusak mata.

8. Jangan Sering Mengucek Mata
Kurangi mengucek mata bila tidak diperlukan, mengucek mata dapat mengakibatkan iritasi pada mata, bila mata terasa gatal atau perih sebaiknya gunakan obat tetes mata.

9. Gunakan Kacamata Diwaktu Tertentu
Saat berada di tempat yang penuh debu, gunakanlah kacamata untuk melindungi mata sehingga dapat mengurangi resiko gangguan dan cedera pada mata. 

10. Istirahatkanlah Mata
Gunakan aturan 20-20-20, yaitu setiap 20 menit fokuslah pada benda yang dekat ataupun fokus pada layar, kemudian istirahatkan mata selama 20 detik dengan melihat sesuatu dengan jarak 20 kaki atau sekitar 6 meter. Lakukan secara teratur untuk menghindari kerusakan mata. Selain itu jangan lupa untuk berkedip ataupun menutup mata sejenak agar mata tidak kelelahan.

Diare, Penyebab dan Cara Mengatasinya

Seseorang dikatakan mengalami diare jika mengalami buang air besar (BAB) lebih sering dari biasanya dengan kondisi feses yang lebih encer. Menurut WHO diare adalah kondisi dimana buang air besar lebih dari 3x dalam sehari dengan kondisi feses yang lebih encer. Diare ini biasanya berlangsung selama beberapa hari dan mungkin berlangsung hingga berminggu-minggu.
 Diare dibagi dalam 3 kategori yaitu:
Diare akut, disebabkan oleh infeksi usus,infeksi bakteri atau penyakit lain. Gejalanya feses cair, badan terada lemas dan disertai demam, juga adanya muntah
Diare kronik, diare yang berlangsung dalam jangka lama,
Disentri, diare dengan disertai darah dan lendir
Penyebab Diare
Diare dapat disebabkan oleh :
Faktor infeksi, bisa disebabkan bakteri ( E. Coli, Samonella, S. Dysentriae), Parasit, Virus dan infeksi lain
Intoleransi terhadap makanan, seperti laktosa dan fruktosa.
Alergi makanan.
Efek samping dari obat-obatan tertentu.
Mengonsumsi makanan basi atau beracun.
Faktor psikologis, rasa cemas dan takut

Gejala Diare
Beberapa gejala yang diakibatkan diare, antara lain:
Frekuensi BAB melebihi normal
Feses lembek dan cair.
Sakit dan kram perut.
Mual dan muntah.
Nyeri kepala.
Kehilangan nafsu makan.
Haus terus menerus.
Demam.
Dehidrasi.
Darah pada feses.

Dehidrasi dapat muncul bila kondisi diare sudah cukup. Pada anak-anak, dehidrasi ditandai dengan jarang buang air kecil, mulut kering, serta menangis tanpa mengeluarkan air mata. Sedangkan untuk kondisi dehidrasi berat, anak dapat terlihat cenderung mengantuk, tidak responsif, mata cekung, serta bila kulit perut dicubit tidak kembali dengan cepat. adapun tanda dehidrasi pada orang dewasa, antara lain kelelahan dan tidak bertenaga, kehilangan nafsu makan, pusing, mulut kering, serta sakit kepala.
Perilaku yang dapat menyebabkan diare, antara lain:
Kurang menjaga kebersihan makanan dan lingkungan
Tidak  mencuci tangan sebelum dan sesudah makan juga setelah dari kamar mandi
Menggunakan  air yang tidak bersih.
Makan makanan sisa yang sudah dingin
Tidak mencuci tangan dengan sabun.
Mengonsumsi makanan kadaluarsa

Cara Mengatasi Diare
Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengatasi diare, antara lain:
Konsumsi banyak cairan untuk menggantikan kehilangan cairan, dapat dari air putih, air kelapa, asi, larutan oralit
Oralit tidak menghentikan diare tapi menggantikan cairan tubuh yang keluar. Bila tidak ada oralit dapat dibuat dengan mencampur : Gula 1 sendok makan ditambah garam1 sendok teh, campur dalam 5 gelas air matang. Untuk anak dibawah 2 tahun berikan sedikit demi sedikit sampai habis.
Konsumsi suplemen yang mengandung zinc
Hindari makanan tinggi serat
Konsumsi makanan yang mengandung probiotik
Menggunakan obat diare yang termasuk dalam obat bebas seperti karbo adsorben, kombinasi kaolin pektin dan attapulgit
Penggunaan antibiotik pada diare harus didasarkan pada resep dokter
Pencegahan Diare
Beberapa upaya untuk mencegah diare, antara lain:
Selalu mencuci tangan, terutama sebelum menggunakan sabun dan air bersih.
Mengonsumsi makanan dan minuman yang sudah dimasak hingga matang sempurna, serta menghindari makanan dan minuman yang tidak terjamin kebersihannya.
 Segera hubungi dokter bila diare tidak teratasi dan muncul gejala dehidrasi untuk memperoleh penanganan lebih lanjut.

Baca juga : Hindari Penyakit dengan Cuci Tangan yang Benar

Bahaya Cacingan pada Anak
Cacingan merupakan salah satu penyakit yang sering dialami oleh anak-anak.Cacingan dapat menghambat perkembangan anak anda sehingga tidak bisa diremehkan.Hal ini dikarenakan cacing akan menyerap sari-sari makanan yang ada dalam sel-sel darah dan usus.

Penyebab Cacingan
Kurangnya kesadaran akan kebersihan pada anak adalah penyebab utama penyakit cacingan. Orang tua dan anak harus dapat menjaga kebersihan diri dan lingkungan untuk mencegah masuknya telur cacing ke dalam tubuh baik dari makanan dan minuman yang tidak higienis atau dari masakan yang dimasak dengan tidak benar.
Telur cacing dapat masuk dan tinggal di dalam tubuh anak dengan berbagai cara.Telur cacing masuk ke dalam organ-organ tubuh melalui saluran pencernaan, kulit, usus, paru-paru, bahkan otot.

Ciri-Ciri Anak Cacingan
Gejala-gejala yang mungkin muncul ketika anak cacingan ;
• Mengeluh gatal yang terus-menerus di sekitar anus.
• Susah tidur karena merasakan gatal di sekitar anus.
• Sekitar anus terasa nyeri dan terjadi iritasi.
• Ditemukan adanya cacing pada feses atau tinja Si Kecil.
• Anak terlihat lesu.
• Tidak nafsu makan.
• Perut buncit, tapi bagian tubuh lain sangat kurus.
• Mual dan muntah.
• Sering sakit perut, diare berulang, dan kembung.

Bahaya Cacingan
Saat telur cacing masuk ke dalam tubuh, telur akan menetas larva cacing akan masuk ke pembuluh darah dan menetap di dinding usus. cacing kemudian berkembang biak dan membuat koloni dalam usus, cacing akan menyerap habis makanan yang masuk ke dalam tubuh. Akibatnya pertumbuhan anak menjadi terhambat akibat kekurangan gizi.
Anak juga bisa menderita anemia (kekurangan sel darah merah) yang menyebabkan pasokan oksigen ke otak terganggu. Kurangnya pasokan oksigen ini akan mempengaruhi tingkat kecerdasan anak. Anemia juga bisa mengganggu daya tahan tubuh anak, sehingga berisiko terserang penyakit lain. Bahkan, cacingan juga bisa menyebabkan radang paru, gangguan hati, bahkan penyumbatan usus.

Cara Mencegah dan Mengatasi
Agar Anak terhindar dari cacingan, kita harus membiasakan diri untuk hidup bersih, hal-hal yang mungkin dilakukan seperti :
• Biasakan mencuci tangan setelah aktivitas di luar rumah, sebelum tidur, sebelum dan sesudah makan.Cuci tangan dengan air dan sabun. Cuci tangan hingga benar-benar bersih sampai di sela-sela jari serta kuku..
• Gunakan alas kaki saat bermain di luar, cuci kaki setelah bermain dan bepergian.
• Jaga kebersihan kuku tangan dan kaki. Rutinlah memotong kuku tangan dan kaki.
• Cuci bahan makanan dengan air bersih yang mengalir dan tutup makanan di atas meja agar tak dihinggapi lalat. Lalat juga bisa membawa telur-telur cacing.
• Hindari jajan atau membeli makanan di tempat sembarangan.
• Rutin minum obat cacing tiap 6 bulan sekali

Pemerintah secara rutin mengadakan program pemberian obat cacing pada bulan Februari dan Agustus di puskesmas, pustu, posyandu,sekolah, TK dan PAUD. Jadi kunjungilah sarana kesehatan tersebut agar anak  dapat memperoleh obat cacing secara gratis.







Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.