Articles by "germas"

Tampilkan postingan dengan label germas. Tampilkan semua postingan

Pastikan Obat Aman dengan "KLIK" Sebelum Membeli
Saat anda memerlukan obat-obatan, anda biasa membeli obat-obata tersebut di apotek toko obat atau warung. Mudahnya anda dalam mendapatkan obat bahkan secara online bukan berarti Anda bisa sembarangan membeli dan menggunakan obat-obatan yang dijual bebas. Pastikan Anda sudah cek obat tersebut, apakah sudah dinyatakan aman atau belum.

Namun, apa saja yang harus anda periksa sebelum mengonsumsi obat-obatan, baik yang dijual bebas maupun yang tersedia secara terbatas? Berikut  teknik cek obat yang dianjurkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Indonesia.

Mengenal Cek Obat dengan KLIK BPOM
Sebagai konsumen, Anda harus cerdas dan teliti saat memilih obat-obatan. Pasalnya, salah minum obat bisa menimbulkan berbagai jenis efek samping yang berbahaya. Apalagi saat ini sudah banyak produsen obat yang sebenarnya belum terdaftar resmi. Anda juga perlu memerhatikan apakah obat yang Anda beli benar-benar asli dari pabriknya, tidak dicampur bahan-bahan asing oleh pihak tertentu.
Untuk memastikan konsumen bisa memilih produk obat yang aman, BPOM menganjurkan cek KLIK. KLIK adalah singkatan dari Kemasan, Label, Izin edar, dan Kedaluwarsa. Empat hal inilah yang wajib Anda periksa sebelum membeli obat di apotek atau toko obat.

Cek Obat dengan Metode KLIK
Metode cek obat dengan KLIK ini bisa mencegah Anda mengonsumsi obat-obatan palsu, tidak resmi, atau yang sudah lewat masa berlakunya. Berikut cara melakukan pengecekan keamanan obat yang harus anda perhatikan;

1. Kemasan
Hal  pertama yang harus diperiksa adalah apakah kemasan obat masih layak dijual. Sebagai contoh, kalau boksnya sudah usang dan berlubang, itu berarti obat tidak disimpan di tempat yang layak. Kemungkinan besar isinya pun sudah rusak dan tidak layak konsumsi. Perhatikan juga kalau kemasannya sudah pudar, tampak luntur, atau robek. Sebaiknya jangan dibeli dan dikonsumsi. Obat ini mungkin umurnya sudah terlalu lama.

2. Label
Selalu baca lagi label obat yang akan Anda beli, meskipun Anda sudah berulang kali beli obat yang sama di toko. Setiap obat seharusnya mengandung label atau informasi yang berisi hal-hal berikut ini.
Nama produk
Komposisi atau bahan aktif (misalnya paracetamol atau aluminium hidroksida)
Kategori obat (misalnya analgesik, antihistamin, atau dekongestan)
Kegunaan obat (misalnya meredakan gejala seperti pilek, hidung tersumbat, gatal karena alergi, batuk berdahak, atau mual)
Peringatan bagi orang dengan kondisi kesehatan tertentu
Dosis obat
Informasi lain, misalnya anjuran penyimpanan

3. Izin edar
Pastikan obat-obatan yang Anda konsumsi sudah mengantongi nomor izin edar (NIE) dari Badan POM Indonesia. Obat-obatan yang sudah memiliki izin biasanya akan mencantumkan nomor registrasi pada kemasannya. Bila Anda masih ragu, silakan unduh aplikasi Cek BPOM melalui ponsel dengan sistem operasi Android. Anda dapat juga melakukan pengecekan NIE obat pada website cekbpom.pom.go.id, pada web tersebut anda juga dapat melakukan pengecekan izin edar kosmetik. Makanan, obat tradisional dan suplemen makanan.

4. Kedaluwarsa
Selalu cari tanggal kedaluwarsa obat sebelum Anda beli. Perlu diingat, mengonsumsi obat yang kedaluwarsa dapat berisiko tinggi bagi kesehatan. Selain karena khasiat obat telah berkurang atau hilang, obat mungkin mengalami perubahan komposisi kimia tertentu yang berbahaya. Jadi, jika anda memiliki obat kedaluwarsa, lebih baik jangan diminum dan bisa di buang sesuai petunjuk yang tepat.


Cara Tepat Mengelola Obat Kadaluarsa yang Ada di Rumah
Pasti kita pernah mendapati obat yang sudah kadaluarsa di rumah.

Lalu, apa yang sebaiknya kamu lakukan saat melihat obat yang sudah kedaluwarsa itu?

Apakah boleh dibuang begitu saja?

Obat kadaluarsa tidak boleh dibuang begitu saja, membuang obat yang sudah kadaluarsa ada aturannya karena memungkinkan untuk disalahgunakan oleh orang yang tidak bertanggung jawab,. Jadi, mulai sekarang hindari membuang obat sembarangan.

Semua jenis obat, jika sudah melewati masa kadaluarsa sebaiknya obat segera disingkirkan atau dibuang. Kandungan zat aktif pada  obat kadaluarsa dapat berubah dan menimbulkan bahaya bagi kesehatan jika dikonsumsi.

Kembalikan Obat Kadaluarsa ke Apotek
Obat yang sudah kadaluarsa jika dibuang disembarang tempat seperti di tempat sampah, toilet, atau saluran air bisa mengakibatkan bahaya bagi orang lain dan lingkungan sekitar. Obat kadaluasra yang dibuat di sembarang tempat mungkin digunakan oleh orang yang tiodak bertanggung jawab dengan tujuan yang tidak baik, obat-obatan kadaluarsa yang dibuang ke toilet juga bisa menyebabkan gangguan sistem saluran air hingga dapat membahayakan lingkungan.
Sebuah studi mengatakan bahwa obat kadaluarsa tertentu bisa memungkinkan menjadi tempat pertumbuhan bakteri. Antibiotik yang sudah melalui masa berlakunya bisa gagal mengobati infeksi, serta dapat menyebabkan penyakit yang lebih serius dan resistensi antibiotik.
Salah satu cara paling aman dalam membuang obat kadaluarsa yaitu untuk menyerahkan obat yang sudah kadaluarsa ke apotek terdekat agar dihancurkan atau dibuang sesuai prosedur lembaga kesehatan setempat sehingga aman bagi lingkungan

Cara Tepat Membuang Sendiri Obat yang Sudah Kadaluarsa
Apabila Anda ingin membuang sendiri obat kadaluarsa, ada beberapa hal yang perlu Anda perhatikan dalam mematuhi aturannya, di antaranya adalah:
Bacalah label obat terlebih dulu jika terdapat petunjuk pembuangan khusus yang tertempel, maka ikuti petunjuknya.
Letakkan obat kadaluarsa terpisah  dari kemasan atau plastik obat.
Obat yang obat berbentuk tablet atau kapsul angan dihancurkan , tetapi campur obat kadaluarsa dengan tanah, kotoran kucing, ampas kopi atau zat lain yang menyerap obat.
Coret semua informasi yang ada di labelatau etiket pada botol atau plastik obat untuk obat yang diperoleh dari resep dokter
Hapus informasi yang ada pada label resep obat untuk menjaga privasi dan melindungi informasi tentang kesehatan pribadi Anda.
Tidak membuang obat langsung ke tempat sampah.Obat yang dibuang ke tempat sampah, dapat dijual kembali oleh pihak tidak bertanggung jawab dan sangat berbahaya bagi kesehatan orang lain.
Vitamin dan mineral cair dapat dijadikan sebagai pupuk dengan cara langsung dituangkan ke tanaman.Jika obat berbentuk kapsul dan tablet, kita harus menghancurkannya terlebih dahulu.
Kumpulkan obat-obatan yang sudah tidak dikonsumsi/digunakan.Jika sudah banyak, titipkan ke apotik atau puskesmas untuk dimusnahkan

Jika obat pribadi Anda memiliki waktu kadaluarsa yang masih lama, simpanlah dengan baik di tempat yang dingin, gelap, tidak lembap, dan jauh dari jangkauan anak kecil. Obat yang tidak disimpan terlindung dari panas dan cahaya bisa berkurang keampuhannya dalam melawan penyakit.

Setelah mengetahui beragam informasi mengenai cara tepat membuang obat kadaluarsa, mulai sekarang Anda harus mengikuti petunjuknya jika nanti ditemukan obat kadaluarsa di rumah. Hal paling pentingnya adalah hati-hati jika ingin membuang obat kadaluarsa agar tidak disalahgunakan dan membahayakan orang lain dan lingkungan.


Hal Yang Harus diketahui Tentang Obat Kadaluarsa
Obat Rusak Atau Kadaluarsa
Obat kadaluarsa adalah kondisi obat dimana konsentrasinya sudah berkurang antara 25-30% dari konsentrasi awalnya serta bentuk fisik yang mengalami perubahan (Seto, 2002: 34).
Obat rusak yaitu bentuk atau kondisinya yang tidak dapat dipakai lagi, sedangkan waktu kadaluarsa yaitu waktu yang menunjukan batas akhir obat masih memenuhi syarat dan waktu kadaluarsa dinyatakan dalam bulan dan tahun harus dicantumkan pada kemasan obat. Obat rusak dan kadaluarsa telah berubah fungsi dan kadarnya sehingga dapat mengakibatkan penyakit pada manusia serta dapat menimbulkan kematian (BPOM, 2009).
Obat yang sudah melewati masa kadalursa dapat membahayakan karena berkurangnya stabilitas obat tersebut dan dapat mengakibatkan efek toksik (racun). Hal ini dikarenakan fungsi kerja obat sudah tidak optimal dan kemampuannya telah menurun, sehingga obat yang masuk kedalam tubuh hanya akan mengendap dan menjadi racun. Sebenarnya obat yang belum kadaluarsa diperkirakaan juga dapat menyebabkan efek buruk yang sama. Hal ini dipengaruhi oleh penyimpanannya yang salah yang menyebabkan zat aktif didalam obat tersebut rusak. Tanda kerusakan zat aktif tersebut disertai dengan perubahan bentuk, warna, bau, bahkan rasa maupun konsistensi. Maka dari itu harus diperhatikan juga cara penyimpanan obat yang baik (Depkes RI, 2004).

Kondisi Yang Mempercepat Kadaluarsa Obat
Penyimpanan yang tidak tepat dapat mempercepat masa kadaluarsa obat. Hal-hal yang mempercepat kadaluarsa obat adalah sebagai berikut:
1). Kelembaban
Tempat yang memiliki kelembaban tinggi akan mempercepat masa kadaluarsa obat karena akan mempengaruhi stabilitas obat kemudian dapat menyebabkan penurunan kandungan, hal ini yang mempercepat kadaluarsa.
2) Suhu
Suhu penyimpanan obat bermacam-macam, pada umumnya obat banyak disimpan pada suhu kamar. Penyimpanan obat di kulkas. tidak dianjurkan jika tidak terdapat petunjuk. Obat-obat minyak seperti minyak ikan, sebaiknya jangan disimpan di tempat yang terlalu dingin. Insulin (Obat untuk penderita diabetes) merupakan contoh obat yang akan rusak jika ditempatkan pada ruangan dengan suhu panas.
3)   Cahaya,
Obat sebaiknya tidak disimpan pada tempat yang terlindung dari sinar matahari ataupun lampu secara   langsung. Misalnya : Vaksin bila terkena sinar matahari langsung maka dalam beberapa detik, vaksin akan menjadi rusak. Untuk melindunginya dari cahaya maka digunakan kemasan berwarna, misalnya ampul yang berwarna coklat disamping menggunakan kemasan luar.

Efek Meminum Obat Yang Rusak Atau Kadaluarsa
Efek meminum obat rusak atau kadaluarsa dapat menimbulkan:
a) Penyakit lama sembuhnya/tidak sembuh karena obat yang digunakan sudah berkurang kekuatannya. Hal ini disebabkan karena sebagian zat berkhasiat sudah berubah menjadi zat lain yang tidak berkhasiat.
b) Obat yang kadaluarsa berubah menjadi beracun yang menimbulkan bahaya baru.
Obat yang kurang stabil hendaknya dihindari agar tidak kadaluarsa, terutama dalam bentuk sirup, hormon, antibiotik. Walaupun tanggal kadaluarsa tertera dalam kemasan obat , kita tidak boleh menjadikan patokan dari tanggal kadaluarsa yang tercetak pada kemasan obat. Karena penampilan fisik obat yang berubah, baik warna (timbul bintik atau noda), rasa dan bau obat yang lain dari biasanya merupakan peringatan pada kita agar tidak mengkonsumsi obat tersebut. Obat mungkin saja menjadi rusak walau tanggal kadaluarsa belum terlewati.

Baca Juga : Amankah Mengonsumsi Obat Kedaluwarsa?

Efek Buruk Akibat Penyalahgunaan Obat Dokter
Kasus dugaan penyalahgunaan dumolid oleh pasangan selebritas Tora Sudiro dan Mieke Amalia merupakan gambaran kecil dari praktik penyalahgunaan obat dengan resep dokter (prescription drugs) yang terjadi di tengah masyarakat. Jika dibiarkan, penyalahgunaan obat dapat menyebabkan masalah yang lebih luas di samping membahayakan kesehatan pribadi.

"Sekarang ini, bukan hanya saya, tapi sejawat saya, kawan-kawan psikiater, banyak menemukan kasus (penyalahgunaan obat)," ungkap spesialis kedokteran jiwa dari RS Medistra dr Adhi Wibowo
Nurhidayat SpKJ(K) MPH saat dihubungi Republika.co.id, Jumat (4/8).

Selain dumolid atau nitrazepam, ada beberapa obat lain yang juga kerap disalahgunakan oleh sebagian masyarakat. Salah satu dari obat tersebut adalah obat batuk dextromethorphan. Contoh lainnya adalah trihexyphenidyl atau lebih dikenal sebagai Double L.

Adhi melihat salah satu faktor penyebab terjadinya penyalahgunaan obat adalah kecenderungan sebagian masyarakat untuk melakukan self medication. Self medication merupakan suatu upaya untuk mengobati diri sendiri hanya dengan membeli obat yang seharusnya didapatkan dengan resep dokter.

"Jangan mencoba untuk terapi diri sendiri, karena ada dua hal (kerugian)," sambung Adhi.
Salah satu kerugian yang dapat timbul akibat penyalahgunaan obat adalah kerugian secara klinis, seperti efek samping obat. Efek samping obat dapat muncul jika penggunaan obat tidak dilakukan dengan semestinya dan tidak melalui pengawasan dokter.

Sebagai contoh, obat golongan benzodiazepine seperti dumolid memiliki efek samping umum yaitu pusing, gangguan psikomotor dan risiko jatuh, gangguan daya ingat, konsentrasi yang buruk, amnesia hingga penumpulan emosi. Tanpa pengawasan dokter, efek-efek samping tersebut bisa dialami oleh penyalahguna obat.

Di sisi lain, penyalahgunaan obat juga dapat menyebabkan kerusakan pada organ di dalam tubuh.
Beberapa organ yang mungkin terpengaruh adalah otak dan ginjal.
Kerugian kedua akibat penyalahgunaan obat adalah kerugian dari segi hukum. Pelaku penyalahgunaan obat psikotropika misalnya, dapat dijatuhi hukuman karena ketentuan penggunaan obat psikotropika sudah diatur ketentuannya dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1997 maupun Peremenkes RI Nomor 3 Tahun 2017.

"Jadi, apabila tidak menggunakan resep, bisa dikenai hukuman, karena ini adalah obat resep dokter," lanjut Adhi.

Penyalahgunaan obat yang cukup masif juga dapat berujung pada kelangkaan obat yang bersangkutan. Kondisi ini tentu sangat merugikan pihak pasien maupun dokter.
Di satu sisi, pasien yang benar-benar membutuhkan obat tersebut akan sulit mendapatkan akses karena obat sulit ditemukan. Di sisi lain, para dokter juga akan kesulitan karena modalitas terapi untuk pasien menjadi berkurang atau bahkan hilang.

Hal ini sudah terjadi pada obat trihexyphenidyl. Adhi mengatakan saat ini obat trihexyphenidyl sangat sulit ditemukan karena sebelumnya cukup banyak disalahgunakan oleh sebagian masyarakat.

"Kalau memang obat dokter disalahgunakan, seharusnya regulasi atau pengawasannya yang ditingkatkan, bukan obat itu dihilangkan dari pasaran," ujar Adhi.

Untuk menghindari dua kerugian besar ini, Adhi mengimbau agar masyarakat tidak tergoda untuk melakukan self medication ataupun penyalahgunaan obat. Masyarakat yang mengalami masalah gangguan jiwa seperti depresi, kecemasan hingga insomnia sebaiknya memeriksakan diri ke dokter spesialis kejiwaan.

Melalui pengawasan dokter, keamanan pasien jauh lebih terjamin karena dosis obat yang diberikan telah disesuaikan dengan kondisi medis pasien. Di sisi lain, perkembangan klinis dari penyakit ataupun gangguan yang diderita pasien juga akan terpantau dengan baik dengan oleh dokter.

Bahaya Penggunaan Obat Palsu "Ilegal"
Banyaknya peredaran obat tidak berijin dan obat tidak jelas merupakan ancaman bagi kesehatan. Dampak obat tersebut beragam, tergantung kandungan, komposisi, kondisi obat, serta penyakit yang diderita konsumen. ”Obat yang tidak terdaftar di BPOM (illegal) berpotensi memperparah penyakit bukan menyembuhkan, juga palsu, karena tak ada penilaian obyektif dan ilmiah dari ahli atau lembaga kompeten. Kemanjuran dan keamanannya pun tak terjamin,” kata Guru Besar Ilmu Farmakologi dan Farmasi Klinis Universitas Gadjah Mada Zullies Ikawati yang dihubungi dari Jakarta, Senin (8/8).

Adapun obat palsu ialah obat yang diproduksi atau dikemas orang atau badan usaha yang tak berhak. Dampak obat ilegal bagi kesehatan beragam. Itu tergantung kandungan, komposisi dan kondisi obat, serta penyakit yang diderita konsumen. Bagi pasien yang perlu pengobatan segera atau penderita penyakit kronis, seperti penyakit jantung, mengonsumsi obat palsu yang tak ada zat aktifnya, misal berisi tepung saja, sama dengan tak minum obat. Itu bisa membuat penyakit yang diderita kian parah, menimbulkan komplikasi, hingga memicu kematian. ”Pasien rugi karena membeli obat yang tak berkhasiat dan justru menambah keparahan penyakit hingga meningkatkan biaya perawatan,” ujarnya.

Sekretaris Jenderal Ikatan Apoteker Indonesia Noffendri menambahkan, apa pun jenis obatnya, ilegal atau palsu, konsumen yang mendapat obat tak sesuai kebutuhan dan ketentuan mengalami gangguan fungsi hati dan ginjal. Dua organ itu berfungsi mengolah obat di tubuh. Hati akan mengubah zat yang bersifat racun agar menjadi tak beracun bagi tubuh. Jika hati rusak, sifat racun zat itu tak bisa dinetralkan. Sementara ginjal bekerja layaknya penyaring. Jika kerja ginjal terganggu dan menyebabkan gagal berfungsi, kotoran tak akan tersaring dan menyebar ke sirkulasi darah hingga butuh cuci darah secara rutin. ”Jika kesemrawutan distribusi obat dibiarkan, beban Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan yang mengelola Jaminan Kesehatan Nasional akan bengkak,” ujarnya. Berbagai kondisi itu membuat derajat kesehatan warga yang diinginkan pemerintah sulit tercapai. ”Bahkan kesehatan masyarakat dapat terganggu bila menggunakan obat ilegal dan palsu terus-menerus,” kata Zullies.

Penyalahgunaan Obat Mengandung Prekursor

Maraknya penyalahgunaan obat-obatan  termasuk obat yang tergolong prekursor cukup tinggi di Indonesia. Apalagi obat yang mengandung prekursor sangat mudah di dapatkan baik di apotek maupun toko obat. Hampir sebagian obat prekursor masih memiliki penandaan sebagai obat bebas terbatas sehingga selain mudah di dapat juga mudah untuk mendapatkan dalam jumlah yang banyak.
Apa itu prekursor ? Prekursor adalah zat atau bahan pemula atau bahan kimia yang dapat digunakan dalam pembuatan Narkotika dan Psikotropika. Pengaturan peredaran obat yang mengandung prekursor sudah diatur oleh Badan Pom melalui Peraturan Kepala Badan POM No 44 tahun 2010. Pengaturan Peredaran Prekursor bertujuan melindungi masyarakat dari bahaya penyalahgunaan Prekursor;  mencegah dan memberantas peredaran gelap Prekursor; mencegah terjadinya kebocoran dan penyimpangan Prekursor; dan  menjamin ketersediaan Prekursor untuk industri farmasi, industri yang bukan farmasi, dan perkembangan iptek.
Prekursor di bagi ke dalam 2 golongan, yaitu prekursor table I dan prekursor table II,adapun bahan farmasi yang termasuk dalam prekursor adalah:

GOLONGAN DAN JENIS PREKURSOR
TABEL I
1. Acetic Anhydride.
2. N-Acetylanthranilic Acid.
3. Ephedrine.
4. Ergometrine.
5. Ergotamine.
6. Isosafrole.
7. Lysergic Acid.
8. 3,4-Methylenedioxyphenyl-2-propanone.
9. Norephedrine.
10. 1-Phenyl-2-Propanone.
11. Piperonal.
12. Potassium Permanganat.
13. Pseudoephedrine.
14. Safrole.
TABEL II
1. Acetone.
2. Anthranilic Acid.
3. Ethyl Ether.
4. Hydrochloric Acid.
5. Methyl Ethyl Ketone.
6. Phenylacetic Acid.
7. Piperidine.
8. Sulphuric Acid.
9. Toluene.

Dari daftar prekursor di atas salah satu Bahan Prekursor yang sering disalah gunakan adalah Pseudoefedrin. Pseudoephedrine  adalah bahan yang umumnya terkandung di dalam obat bebas untuk menangani flu dan batuk. Pseudoephedrine  adalah obat untuk meredakan hidung tersumbat serta meredakan tekanan pada sinus akibat demam, alergi, dan pilek.
Pseudoephedrine bekerja dengan merelaksasi otot di sekitar saluran pernapasan agar lebih banyak udara masuk. Pseuefedrin sesungguhnya tidak mempercepat proses penyembuhan namun hanya meredakan gejala. Di samping itu, sayangnya pseudoephedrine ternyata kerap digunakan untuk pembuatan methamphetamine secara ilegal yang dapat menimbulkan kecanduan. Methamphetamine merupakan obat psikoaktif yang dapat memengaruhi emosi, perasaan, dan persepsi terhadap kenyataan penggunanya, atau biasa dikenal sebagai narkoba.
Efek stimulan menyebabkan obat yang mengandung pseudoephedrine tidak jarang disalahgunakan sebagai bahan psikotropika yang memberikan rasa gembira dan hiperaktif. Di masa lalu, obat ini juga pernah digunakan atlet sebagai doping untuk meningkatkan performa. Efek samping pseudoefedrin akan meningkat jika digunakan bersama kafein dalam jumlah banyak.
. Hal ini menyebabkan di beberapa negara tertentu penggunaan pseudoefedrin sudah sangat dibatasi walaupun masih dalam golongan obat bebas. Jadi bijak lah menggunakan obat terutama obat-obat yang mengandung precursor.Hindari penyalahgunaan dan salah guna obat yang mengandung prekursor yaa..

Penggolongan Obat dan Penandaan

Ketika membeli obat di apotek, sangat penting untuk memperhatikan lebih jauh jenis obat yang dibeli, termasuk golongan apa obat tersebut. Hal ini dianggap penting, karena obat yang dikonsumsi tidak boleh sembarangan. Di Indonesia, pemerintah menyediakan undang-undang penggolongan obat secara spesifik. Namun, masih banyak orang yang belum mengetahui tentang hal ini. Untuk mengetahui tentang penggolongan obat lebih dalam, berikut penjelasannya!

Obat Bebas

Obat bebas adalah obat OTC (over the counter) atau obat yang dijual secara bebas di pasaran. Artinya, Kamu bisa sangat mudah dan bebas menemukan dan membeli obat ini, tanpa harus menggunakan resep dokter. Obat yang tergolong dalam kategori bebas adalah obat yang memiliki efek samping rendah serta kandungan bahan-bahan yang relatif aman. Namun meski tidak memerlukan pengawasan dokter, Kamu tetap harus memenuhi petunjuk dan dosis yang tertera di kemasan ketika mengonsumsinya.
Obat Bebas


Obat bebas biasanya memiliki gambar lingkaran berwarna hijau dan bergaris tepi hitam. Simbol tersebut tertera di kemasan obat. Kebanyakan obat bebas adalah obat-obat untuk mengobati penyakit ringan, seperti batuk, flu, atau demam. Obat bebas juga bisa berupa vitamin atau suplemen nutrisi. Contoh obat bebas adalah parasetamol.

Obat Bebas Terbatas

Obat bebas terbatas memiliki kesamaan dengan obat bebas, yaitu keduanya dijual bebas di pasaran. Namun, obat bebas terbatas termasuk obat yang lebih keras ketimbang obat bebas, meski obat dalam golongan ini juga bisa dikonsumsi tanpa resep dari dokter. Dalam jumlah tertentu, obat ini masih bisa dijual di apotek mana saja.

Obat Bebas Terbatas

Obat jenis bebas terbatas juga memiliki simbol tertentu di kemasannya, yaitu lingkaran biru bergaris tepi hitam. Tidak hanya itu, pada kemasan obat bebas terbatas juga tertulis peringatan-peringatan seperti:
P1: Awas! Obat Keras! Baca Aturan Pakainya.
P2: Awas! Obat Keras! Baca Aturan Pakainya.
P3: Awas! Obat Keras! Hanya untuk Bagian Luar Tubuh.
P4: Awas! Obat Keras! Hanya untuk Dibakar.
P5: Awas! Obat Keras! Tidak Boleh Ditelan.
P6: Awas! Obat Keras! Obat Wasir, Jangan Ditelan.

Obat bebas terbatas bisa digunakan untuk mengobat penyakit dari yang tergolong ringan hingga serius. Kalau Kamu belum sembuh juga, meski sudah mengonsumsi obat dengan golongan bebas terbatas, lebih baik berhenti mengonsumsinya dan periksakan diri ke dokter.

Obat Keras

Obat keras sudah termasuk obat yang tidak bisa dibeli bebas di apotek tanpa resep dokter, meski dijual legal di apotek. Tanpa resep dokter dan jika pemakaiannya tidak sesuai, dikhawatirkan obat ini bisa memperparah penyakit, meracuni tubuh, bahkan menyebabkan kematian. Simbol obat keras yang ada di kemasan obat adalah lingkaran merah bergaris tepi hitam dan terdapat huruf K di dalamnya.
Obat Keras

Pada umumnya, banyak obat-obat tertentu yang termasuk dalam golongan ini, seperti:
Obat generik.
Obat Wajib Apotek (OWA).
Psikotropika.
Obat yang mengandung hormon, seperti obat penenang atau obat diabetes.
Antibiotik, seperti tetrasiklin, penisilin, ampisilin, sefalosporin.

Untuk psikotropika, obat-obatan jenis ini memengaruhi susunan sistem saraf pusat, sehingga bisa menimbulkan perubahan pada mental dan perilaku orang yang mengonsumsinya. Maka dari itu, obat psikotropika hanya bisa dikonsumsi di bawah pengawasan dokter.

Bahkan, psikotropika juga dibagi menjadi 4 golongan berdasarkan bahaya dampaknya pada tubuh manusia. Psikotropika golongan I adalah obat yang tidak boleh digunakan untuk terapi. Psikotropika golongan I hanya boleh dipakai untuk keperluan ilmu pengetahuan, karena memiliki potensi yang kuat untuk menyebabkan ketergantungan pada penggunanya.

Lain dari psikotropika golongan I, psikotropika golongan II bisa digunakan untuk pengobatan maupun untuk kepentingan ilmu pengetahuan. Namun, psikotropika golongan II tetap memiliki potensi kuat untuk menyebabkan ketergantungan.

Psikotropika golongan III lebih banyak digunakan untuk pengobatan, meski obat jenis ini juga bisa dimanfaatkan untuk keperluan ilmu pengetahuan. Risiko ketergantungan pada psikotropika golongan III cenderung rendah. Selain itu, sama seperti golongan III, risiko ketergantungan psikotropika golongan IV juga rendah. Psikotripika golongan IV banyak digunakan untuk pengobatan maupun keperluan ilmu pengetahuan.

Karena bersifat keras, psikotropika dan obat keras berada di dalam kategori yang sama. Keduanya juga memiliki simbol yang sama. Contoh obat keras adalah loratadine, pseudoeedrin, bromhexin HCL, alprazolam, clobazam. Sementara itu, contoh obat psikotropika adalah ekstasi, phenobital, sabu-sabu, diazepam.

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.