Articles by "imunisasi"

Tampilkan postingan dengan label imunisasi. Tampilkan semua postingan

Mengenal Kebiri Kimia, Hukuman bagi Pelaku Pelecehan Seksual
Secara umum, ada dua teknik kebiri. yaitu kebiri fisik, dan kedua, kebiri kimiawi. Kebiri fisik dilakukan dengan mengamputasi organ seks eksternal seseorang. Hal ini akan membuat yang bersangkutan berkurang hormon testosteronnya sehingga mengurangi dorongan seksual. Berbeda dengan kebiri fisik, kebiri kimia atau kebiri kimiawi dilakukan dengan cara menyuntikkan zat kimia anti-androgen ke tubuh.Tujuannya, mengurangi produksi hormon testosteron. Efek akhirnya sama seperti kebiri fisik

Awal mula praktik kebiri kimia adalah pada tahun1944 dengan tujuan mengurangi kadar hormon testosteron pada pria. untuk mematikan dorongan seksual seseorang yang memperlihatkan perilaku seksual menyimpang kadang digunakan zat penenang benperidol. Namun ternyata benperidol tidak mempengaruhi testosteron dan bukan zat yang tepat untuk pengebirian. Kebiri kimia dipandang sebagai salah satu alternatif mudah untuk hukuman seumur hidup daripada hukuman mati karena praktik ini mengizinkan pelaku pelecehan seksual dibebaskan di saat dia sedang menjalani proses kebiri kimia.

Kebiri kimia merupakan proses menurunkan hasrat seksual dan libido, obat-obatan yang digunakan adalah anafrodisiak. waktu yang dibutuhkan  untuk terapi kebiri setidaknya 3-5 tahun. Kebiri kimia tidak lagi efektif setelah terapi dihentikan.

Leuprorelin adalah obat yang sering digunakan dalam kebiri kimia, berfungsi 'mengobati' kesulitan mengendalikan gairah seksual, sadisme, atau kecenderungan membahayakan orang lain. Obat lain yang bisa digunakan untuk terapi kebiri kimia adalah medroksiprogesteron asetat, siproteron asetat, dan LHRH yang berfungsi untuk mengurangi testosteron dan estradiol.

Dampak kebiri kimia
Meski dinilai lebih efektif, namun penerapan kebiri kimia dikabarkan memiliki efek samping bagi tulang hingga jantung. Efek samping yang mungkin muncul pada kebiri kimia adalah osteoporosis, penyakit kardiovaskular (jantung dan pembuluh darah). Munculnya efek samping tersebut karena terapi kebiri kimia dapat mempengaruhi estrogen. Walaupun hormone estrogen lebih banyak terdapat pada organ reproduksi wanita, tapi hormon estrogen juga berperan penting dalam pertumbuhan tulang, fungsi otak, dan proses kardiovaskular pada pria. Efek samping lain adalah depresi, infertilitas, anemia, dan menimbulkan rasa panas pada tubuh.
Pria yang diberikan obat antiandrogen berpotensi mengalami kemandulan karena kemungkinan tidak memiliki sel spermatozoa



Hindari Penyakit dengan Cuci Tangan yang Benar
 Mencuci tangan dengan sabun adalah salah satu tindakan untuk mencegah penyebaran dan penularan penyakit. Tangan sering kali menjadi perantara dari berbagai bakteri untuk masuk ke dalam tubuh. Membiasakan mencuci tangan dengan sabun dapat mengurangi jumlah orang yang sakit diare sebesar 31%, dan mengurangi penyakit pernapasan seperti pilek sebesar 16-21%.
Berikut beberapa bahaya ketika Anda tidak mencuci tangan:
Tanpa disadari orang sering menyentuh mata, hidung, dan mulut mereka. Aktivitas ini bisa membuat kuman dengan mudah masuk ke dalam tubuh. Saat makan tanpa mencuci tangan, kuman yang berada di tangan bisa saja masuk ke minuman dan makanan, masuknya kuman dapat dimulai dari menyiapkan makanan atau saat mengonsumsinya. Kuman dapat berkembang biak pada beberapa jenis makanan dan minuman, sehingga dapat membuat Anda jatuh sakit.
Kuman dari tangan yang tidak dicuci  dapat berpindah ke benda lain. Misalnya, mainan, gagang pintu, atau permukaan meja.
Cara Mencuci Tangan dengan Benar
Inilah cara mencuci tangan dengan sabun yang benar, yaitu:
Buka keran air dan basahi kedua tangan.
Gunakan sabun secukupnya dan oleskan ke kedua tangan hingga menutupi seluruh permukaan tangan.
Gosokkan kedua telapak tangan secara bergantian.
Jangan lupa untuk menggosok area di antara jari-jari tangan dan juga punggung tangan hingga bersih.
Bersihkan pula ujung jari secara bergantian dengan mengatupkannya.
Bersihkan ibu jari tangan dengan menggenggam dan memutar ibu jari, lakukan secara bergantian pada kedua ibu jari
Lalu, letakkan ujung jari-jari ke telapak tangan, kemudian gosok perlahan. Lakukan secara bergantian dengan tangan lainnya.
Kemudian, bilas kedua tangan dengan air yang mengalir.
Segera keringkan kedua tangan menggunakan handuk atau tisu kering yang bersih.
Gunakan handuk atau tisu tersebut untuk menutup keran air.
Kapan harus mencuci tangan?
Cucilah tangan dengan sabun pada keadaan-keadaan berikut:
Sebelum makan.
Sebelum, selama, dan setelah menyiapkan makanan.
Sebelum dan sesudah kontak dengan orang sakit yaitu saat merawat atau mengunjunginya
Sebelum dan sesudah merawat luka.
Setelah menggunakan toilet.
Setelah mengganti popok dan membersihkan balita sehabis menggunakan toilet.
Setelah bersin atau batuk.
Setelah menyentuh sampah.
Setelah menyentuh atau membersihkan kotoran hewan.
Cuci tangan diperingati  setiap tanggal 15 Oktober atau dikenal dengan Global Handwashing Day . Biasakanlah mencuci tangan dalam kegiatan sehari-hari agar membantu menghindarkan Anda dan keluarga dari penyakit dan kuman yang selalu mengintai.

Baca Juga : Diare, Penyebab dan Cara Mengatasinya


Lindungi Anak dari Penyakit dengan Imunisasi

Menurut WHO, bila anak tidak imunisasi, maka anak tidak memiliki perlindungan terhadap penyakit serius yang bisa berakibat komplikasi parah bahkan kematian. Vaksin memberikan perlindungan pada tiap anak, baik yang divaksin maupun yang tak bisa divaksin karena kondisi khusus.Bila semua anak telah divaksin, maka risiko penularan penyakit mematikan bisa diminimalisasi atau bahkan hilang sama sekali.
Hepatitis B
diberikan untuk mencegah infeksi hati serius, yang disebabkan oleh virus hepatitis B. Vaksin ini diberikan kurang dari 24 jam setelah bayi lahir, didahului dengan penyuntikan vitamin K, minimal 30 menit sebelumnya. Vaksin diberikan lagi pada usia 2, 3, dan 4 bulan.
Efek samping pemberian vaksin hepatitis B, seperti demam serta lemas. Pada kasus yang jarang terjadi, efek samping bisa berupa gatal-gatal, kulit kemerahan, dan pembengkakan pada wajah.
Polio
Polio merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus. Pada kasus yang parah, polio dapat menimbulkan keluhan sesak napas, kelumpuhan, hingga kematian.
Imunisasi polio diberikan saat anak baru dilahirkan hingga usia 1 bulan. Kemudian, diberikan vaksin kembali tiap bulan, yaitu saat anak berusia 2, 3, dan 4 bulan. Untuk penguatan, vaksin bisa kembali diberikan saat anak mencapai usia 18 bulan.
Vaksin polio bisa menimbulkan demam hingga lebih dari 390C. Efek samping lain yang dapat terjadi meliputi reaksi alergi seperti gatal-gatal, kulit kemerahan, sulit bernapas atau menelan, serta bengkak pada wajah.
BCG
Pemberian vaksin BCG bertujuan untuk mencegah perkembangan tuberkulosis (TB), penyakit infeksi serius yang umumnya menyerang paru-paru. Perlu diketahui,Vaksin BCG tidak bisa melindungi orang dari infeksi TB. Namun, vaksin BCG bisa mencegah infeksi TB berkembang ke kondisi penyakit TB yang serius seperti meningitis TB.
Vaksin BCG diberikan satu kali, yaitu saat bayi baru dilahirkan, hingga usia 2 bulan. Bila sampai usia 3 bulan atau lebih vaksin BCG belum diberikan, dokter akan mendiagnosa apakah bayi telah terinfeksi TB atau belum dengan melakukan uji tuberculin atau tes Mantoux.
Vaksin BCG akan menimbulkan bisul pada bekas suntikan dan muncul pada 2- 6 minggu setelah suntik BCG. Bisul bernanah tersebut akan pecah, dan meninggalkan jaringan parut. Efek samping lain yang mungkin muncul, seperti anafilaksis, sangat jarang terjadi.
DPT
Vaksin DPT merupakan jenis vaksin gabungan untuk mencegah penyakit difteri, pertusis, dan tetanus. Difteri merupakan kondisi serius yang dapat menyebabkan sesak napas, paru-paru basah, gangguan jantung, bahkan kematian.
Pertusis atau batuk rejan adalah penyakit batuk parah yang dapat memicu gangguan pernapasan, paru-paru basah (pneumonia), bronkitis, kerusakan otak, hingga kematian. Sedangkan tetanus adalah penyakit berbahaya yang dapat menyebabkan kejang, kaku otot, hingga kematian.
Vaksin DPT harus diberikan 4 kali, yaitu saat anak berusia 2, 3, dan 4 bulan. Vaksin dapat kembali diberikan pada usia 18 bulan dan 5 tahun sebagai penguatan. Setelah itu, pemberian vaksin lanjutan dapat diberikan pada usia 10-12 tahun, dan 18 tahun.
Efek samping yang muncul setelah imunisasi DPT cukup beragam, di antaranya adalah radang, nyeri, tubuh kaku, serta infeksi.
Hib
Vaksin Hib diberikan untuk mencegah infeksi bakteri Haemophilus influenza tipe B. Infeksi bakteri ini dapat menyebabkan kondisi berbahaya, seperti meningitis, pneumonia, septic arthritis (radang sendi), serta perikarditis (radang lapisan pelindung jantung).
Imunisasi Hib diberikan 4 kali, yaitu saat anak berusia 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan, dan dalam rentang usia 15-18 bulan.
Vaksin Hib dapat menimbulkan efek samping, antara lain demam di atas 390C, diare, dan berkurangnya nafsu makan.
Campak
Campak adalah infeksi virus yang ditandai dengan gejala, seperti demam, pilek, batuk kering, ruam, serta radang pada mata. Imunisasi campak diberikan saat anak berusia 9 bulan. Vaksin ulangan (booster) kembali diberikan pada usia 18 bulan. Namun bila anak sudah mendapatkan vaksin MMR, pemberian vaksin campak kedua tidak perlu diberikan.
MMR
Vaksin MMR adalah vaksin kombinasi untuk mencegah campak, gondongan, dan rubella (campak Jerman). Ketiganya merupakan infeksi serius yang menyebabkan komplikasi berbahaya, seperti meningitis, pembengkakan otak, hingga hilang pendengaran (tuli).
Vaksin MMR diberikan pada saat anak berusia 15 bulan, kemudian diberikan lagi pada usia 5 tahun sebagai penguatan. Pemberian imunisasi MMR dilakukan dalam jarak minimal 6 bulan dengan imunisasi campak. Tetapi jika pada usia 12 bulan anak belum juga mendapatkan vaksin campak, maka dapat diberikan vaksin MMR.
Vaksin MMR dapat menyebabkan demam lebih dari 390C, gatal, gangguan dalam bernapas atau menelan, serta bengkak pada wajah.
Banyak isu negatif seputar imunisasi, diantaranya adalah isu vaksin MMR yang dapat menyebabkan autisme. Isu tersebut sama sekali tidak benar. Sampai saat ini tidak ditemukan kaitan yang kuat antara imunisasi MMR dengan autisme.
PCV
Vaksin PCV (pneumokokus) diberikan untuk mencegah pneumonia, meningitis, dan septikemia, yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus pneumoniae. Pemberian vaksin harus dilakukan secara berkelanjutan, yaitu saat anak berusia 2, 4, dan 6 bulan. Kemudian pemberian vaksin dilakukan lagi saat anak berusia 12-15 bulan.
Efek samping yang mungkin timbul dari imunisasi PCV, adalah pembengkakan dan kemerahan pada bagian yang disuntik disertai demam ringan.
Influenza
Vaksin influenza diberikan untuk mencegah flu. Vaksinasi ini bisa diberikan pada anak berusia 6 bulan dengan frekuensi pengulangan 1 kali tiap tahun, hingga usia 18 tahun.
Efek samping vaksin influenza, antara lain demam, batuk, sakit tenggorokan, nyeri otot, dan sakit kepala. Selain itu, efek samping yang jarang muncul meliputi sesak napas, sakit pada telinga, dada terasa sesak, atau mengi.
Hepatitis A
Imunisasi ini bertujuan untuk mencegah hepatitis A, yaitu penyakit peradangan hati yang disebabkan oleh infeksi virus. Vaksin hepatitis A harus diberikan 2 kali, yaitu pada rentang usia anak 2-18 tahun. Suntikan pertama dan kedua harus berjarak 6 bulan atau 1 tahun.
Vaksin hepatitis A dapat menimbulkan efek samping seperti demam,lemas,gatal-gatal, batuk, sakit kepala, dan hidung tersumbat.
Varisela
Vaksin ini diberikan untuk mencegah penyakit cacar air, yang disebabkan oleh virus Varicella zoster. Imunisasi varisela dilakukan pada anak usia 1-18 tahun. Bila vaksin diberikan pada anak usia 13 tahun ke atas, vaksin diberikan dalam 2 dosis terpisah, dengan jarak waktu pemberian minimal 4 minggu.
1 dari 5 anak yang menerima vaksin varisela mengeluhkan nyeri dan kemerahan pada area yang disuntik. Vaksin varisela juga dapat menimbulkan ruam kulit, tetapi efek samping ini hanya terjadi pada 1 dari 10 anak. (dikutip dari www.alodokter.com)

Jadwal Imunisasi Rutin Lengkap yang Wajib Anda Tahu

Imunisasi bertujuan meningkatkan pembentukan antibodi untuk memperkuat kerja sistem imun saat melawan bakteri atau kuman patogen yang dapat menyebabkan penyakit berbahaya. Proses ini dilakukan dengan pemberian vaksin yang akan merangsang sistem kekebalan tubuh agar kebal terhadap penyakit tersebut. Tubuh memiliki antibodi alami atau yang disebut dengan kekebalan pasif. Namun ada juga kekebalan yang dibentuk setelah tubuh dimasukkan bakteri atau kuman yang dilemahkan sehingga tubuh akan membentuk antibodi dalam kadar tertentu atau yang disebut dengan kekebalan Aktif.
Agar antibodi tersebut terbentuk. Maka harus diberikan vaksn sesuai dengan jadwal yang telah ditetntukan. Sejumlah vaksin cukup diberikan satu kali, tetapi ada juga yang harus diberikan beberapa kali, dan diulang pada usia tertentu atau disebut dengan vaksin booster. Vaksin dapat diberikan dengan cara disuntik atau diteteskan pada mulut.
Imunisasi di Indonesia sudah menjadi program pemerintah dan masuk dalam Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga. Imunisasi ini dibagi menjadi imunisasi dasar lengkap dan imunisasi lanjutan. Imunisasi ini dimulai dari umur bayi kurang dari 0 bulan hingga anak duduk di kelas 5 Sekolah Dasar dan sederajat.
Berikut jadwal Imunisasi Rutin Lengkap bagi bayi dan Anak;

Umur                                                   Jenis Imunisasi
< 24 jam                                               1 dosis hepatitis B

1 bulan                                                 1 dosis BCG dan polio tetes 1
2 bulan                                                 1 dosis DPT-hepatitis B-HiB 1, dan polio tetes 2,
3 bulan                                                 1 dosis DPT-hepatitis B-HiB 2, dan polio tetes 2,
4 bulan                                     1 dosis DPT-hepatitis B-HiB 3, dan polio tetes 4,Polio Suntk (IPV)
9 bulan                                                 1 dosis campak/MR
18 bulan-24 bulan                                1 dosis DPT-hepatitis B-HiB, dan campak/MR
Kelas 1 SD/ Madrasah/Sederajat          1 dosis campak dan DT
Kelas 2 SD/ Madrasah/Sederajat          1 dosis Td
Kelas 5 SD/ Madrasah/Sederajat          1 dosis Td

Penting diketahui imunisasi tidak memberikan perlindungan 100 persen pada anak. Perlindungan yang diberikan imunisasi sekitar 80-95 persen sehingga anak yang telah diimunisasi masih mungkin terserang suatu penyakit sekitar 5-15 persen.

Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI)

Pemberian Vaksin mungkin saja disertai efek samping atau yang lebih dikenal dengan istilah Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI). KIPI yang sering muncul antara lain demam ringan sampai tinggi, nyeri dan bengkak pada area bekas suntikan dan anak agak rewel. Tak perlu khawatir, reaksi tersebut akan hilang dalam 3-4 hari.
Bila anak mengalami KIPI seperti di atas, berikan kompres air hangat, dan obat penurun panas tiap 4 jam hingga demam hilang. Pakaikan anak baju yang tipis, tanpa diselimuti, berikan ASI lebih sering, berikan nutrisi tambahan dari buah dan susu. Bila kondisi terus berlanjut, segera periksakan anak ke dokter.
Sejumlah vaksin dapat menimbulkan efek alergi parah hingga kejang, namun efek ini sangat jarang terjadi. Bila anak pernah memiliki riwayat alergi, penting untuk disampaikan kepada tenaga kesehatan untuk mencegah timbulnya reaksi berbahaya saat pemberian vaksin maupun pengulangan vaksin (vaksin Booster).
Sayangi buah hati anda, pastikan mereka mendapatkan imunisasi rutin dan lengkap. Kunjungi sarana kesehatan seperti puskesmas dan posyandu. Dukung kegiatan imunisasi anak sekolah, agar anak anda terlindung dari penyakit berbahaya.

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.