Articles by "obat ilegal"

Tampilkan postingan dengan label obat ilegal. Tampilkan semua postingan

Ayo Buang Sampah Obat dengan Benar!!

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) meminta masyarakat untuk membuang sampah obat, baik yang sudah tidak dikonsumsi maupun obat kedaluwarsa ke apotek-apotek di 15 kota atau kabupaten. Upaya ini untuk mengantisipasi peredaran obat ilegal maupun penyalahgunaan obat.
Kepala BPOM Penny K Lukito yakin, di rumah masyarakat pasti memiliki sampah obat yaitu obat yang tidak terpakai tetapi belum kedaluwarsa dan kalau dikumpulkan jumlahnya besar. Atau seringkali masyarakat membuang sampah obat kedaluwarsa sembarangan seperti saluran air. Seharusnya sampah obat tidak boleh dibuang di sembarang tempat karena dapat mencemari lingkungan.
Daripada obat itu menumpuk dan tidak terpakai atau dibuang sembarangan, menurut Penny, masyarakat bisa mengumpulkan sampah obat ke apotek di bawah pengawasan profesional apoteker supaya bisa dikonsumsi orang yang membutuhkan. "Masyarakat bisa menyerahkan sampah obat itu ke 1.000 apotek di 15 kota yang ditunjuk menjadi pilot project tempat penerimaan sampah obat berupa obat yang tidak terpakai maupun obat yang sudah kedaluwarsa," ujarnya saat ditemui di Aksi Nasional Pemberantasan Obat Ilegal dan Penyalahgunaan Obat – Ayo Buang Sampah Obat, di Jakarta, Ahad (1/9).
Ia menyebut sampah obat bisa dibuang di apotek di Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Serang, Banjarmasin, Mataram, Makassar, Medan, Kendari, Pekanbaru, Palembang, Yogyakarta, Denpasar, dan Batam. Di tempat itu, dia menambahkan, telah disediakan tempat sampah untuk obat-obatan ini.
"Kemudian sampah obat ini akan diproses, disortir obat yang tidak terpakai tetapi belum kedaluwarsa dan kondisinya masih baik, aman ke rumah sakit yang membutuhkan. Sedangkan obat yang sudah kedaluwarsa disalurkan ke pembuangan limbah bahan beracun berbahaya (B3)," katanya.
Ia mengajak masyarakat ikut aktif membuang sampah obat ke apotek tersebut karena ini sebagai salah satu upaya untuk mendukung pemberantasan obat ilegal dan penyalahgunaan obat oknum tidak bertanggung jawab. Karena itu Badan POM menerapkan kebijakan berbasis kolaboratif dan sinergisme bersama lintas sektor khususnya organisasi profesi Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) melalui Gerakan Waspada Obat Ilegal (WOI).
Sebagai keberlangsungan jaminan terhadap peningkatan kesehatan dan kesejahteraan melalui pencegahan peredaran obat ilegal dan penyalahgunaan obat, pada tahun 2019 Badan POM meluncurkan Gerakan Ayo Buang Sampah Obat, Ahad (1/9). Gerakan ini dilatarbelakangi dengan maraknya kasus peredaran obat ilegal termasuk palsu dengan pemanfaatan obat-obat kedaluwarsa dan rusak.
"Termasuk kemasan obat yang tidak termusnahkan secara baik dan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab digunakan untuk keperluan produksi obat ilegal melalui pemanfaatan baik sebagai bahan baku (re-use) dan pelabelan ulang (re-labeling) dengan modus sederhana seperti perubahan/perpanjangan tanggal kedaluwarsa,” ujarnya.
Tak hanya bisa meminimalisasi peredaran obat ilegal dan penyalahgunaan obat, Penny menyebut upaya ini juga bisa untuk mengurangi upaya pencemaran lingkungan.
Tak hanya mengajak masyarakat membuang sampah obat di apotek, Penny meminta masyarakat bisa mengenal obat berbahaya dan kedaluwarsa melalui cek label, izin edar, kedaluwarsa obat. Untuk lebih mengenal obat-obatan ini, ia menyebut BPOM juga telah membuat buku saku mengenai edukasi mengenal obat kedaluwarsa dan obat rusak serta penanganannya. Buku ini, dia menambahkan, telah diletakkan di apotek-apotek di 15 kota itu.
Seperti diketahui, pada Juli 2019, masyarakat dikejutkan dengan adanya peredaran obat ilegal termasuk obat palsu. Peredaran obat ilegal ini bersumber dari pemanfaatan obat kedaluwarsa atau obat rusak yang dibuang sembarangan. Hasil pengawasan BPOM menunjukkan, temuan obat ilegal termasuk obat palsu cenderung menurun. Angka menunjukkan dari 29 perkara pada 2017, menjadi 21 perkara pada 2018. Kemudian, tinggal 8 perkara pada awal tahun 2019.

Mengenal Kebiri Kimia, Hukuman bagi Pelaku Pelecehan Seksual
Secara umum, ada dua teknik kebiri. yaitu kebiri fisik, dan kedua, kebiri kimiawi. Kebiri fisik dilakukan dengan mengamputasi organ seks eksternal seseorang. Hal ini akan membuat yang bersangkutan berkurang hormon testosteronnya sehingga mengurangi dorongan seksual. Berbeda dengan kebiri fisik, kebiri kimia atau kebiri kimiawi dilakukan dengan cara menyuntikkan zat kimia anti-androgen ke tubuh.Tujuannya, mengurangi produksi hormon testosteron. Efek akhirnya sama seperti kebiri fisik

Awal mula praktik kebiri kimia adalah pada tahun1944 dengan tujuan mengurangi kadar hormon testosteron pada pria. untuk mematikan dorongan seksual seseorang yang memperlihatkan perilaku seksual menyimpang kadang digunakan zat penenang benperidol. Namun ternyata benperidol tidak mempengaruhi testosteron dan bukan zat yang tepat untuk pengebirian. Kebiri kimia dipandang sebagai salah satu alternatif mudah untuk hukuman seumur hidup daripada hukuman mati karena praktik ini mengizinkan pelaku pelecehan seksual dibebaskan di saat dia sedang menjalani proses kebiri kimia.

Kebiri kimia merupakan proses menurunkan hasrat seksual dan libido, obat-obatan yang digunakan adalah anafrodisiak. waktu yang dibutuhkan  untuk terapi kebiri setidaknya 3-5 tahun. Kebiri kimia tidak lagi efektif setelah terapi dihentikan.

Leuprorelin adalah obat yang sering digunakan dalam kebiri kimia, berfungsi 'mengobati' kesulitan mengendalikan gairah seksual, sadisme, atau kecenderungan membahayakan orang lain. Obat lain yang bisa digunakan untuk terapi kebiri kimia adalah medroksiprogesteron asetat, siproteron asetat, dan LHRH yang berfungsi untuk mengurangi testosteron dan estradiol.

Dampak kebiri kimia
Meski dinilai lebih efektif, namun penerapan kebiri kimia dikabarkan memiliki efek samping bagi tulang hingga jantung. Efek samping yang mungkin muncul pada kebiri kimia adalah osteoporosis, penyakit kardiovaskular (jantung dan pembuluh darah). Munculnya efek samping tersebut karena terapi kebiri kimia dapat mempengaruhi estrogen. Walaupun hormone estrogen lebih banyak terdapat pada organ reproduksi wanita, tapi hormon estrogen juga berperan penting dalam pertumbuhan tulang, fungsi otak, dan proses kardiovaskular pada pria. Efek samping lain adalah depresi, infertilitas, anemia, dan menimbulkan rasa panas pada tubuh.
Pria yang diberikan obat antiandrogen berpotensi mengalami kemandulan karena kemungkinan tidak memiliki sel spermatozoa



Diare, Penyebab dan Cara Mengatasinya

Seseorang dikatakan mengalami diare jika mengalami buang air besar (BAB) lebih sering dari biasanya dengan kondisi feses yang lebih encer. Menurut WHO diare adalah kondisi dimana buang air besar lebih dari 3x dalam sehari dengan kondisi feses yang lebih encer. Diare ini biasanya berlangsung selama beberapa hari dan mungkin berlangsung hingga berminggu-minggu.
 Diare dibagi dalam 3 kategori yaitu:
Diare akut, disebabkan oleh infeksi usus,infeksi bakteri atau penyakit lain. Gejalanya feses cair, badan terada lemas dan disertai demam, juga adanya muntah
Diare kronik, diare yang berlangsung dalam jangka lama,
Disentri, diare dengan disertai darah dan lendir
Penyebab Diare
Diare dapat disebabkan oleh :
Faktor infeksi, bisa disebabkan bakteri ( E. Coli, Samonella, S. Dysentriae), Parasit, Virus dan infeksi lain
Intoleransi terhadap makanan, seperti laktosa dan fruktosa.
Alergi makanan.
Efek samping dari obat-obatan tertentu.
Mengonsumsi makanan basi atau beracun.
Faktor psikologis, rasa cemas dan takut

Gejala Diare
Beberapa gejala yang diakibatkan diare, antara lain:
Frekuensi BAB melebihi normal
Feses lembek dan cair.
Sakit dan kram perut.
Mual dan muntah.
Nyeri kepala.
Kehilangan nafsu makan.
Haus terus menerus.
Demam.
Dehidrasi.
Darah pada feses.

Dehidrasi dapat muncul bila kondisi diare sudah cukup. Pada anak-anak, dehidrasi ditandai dengan jarang buang air kecil, mulut kering, serta menangis tanpa mengeluarkan air mata. Sedangkan untuk kondisi dehidrasi berat, anak dapat terlihat cenderung mengantuk, tidak responsif, mata cekung, serta bila kulit perut dicubit tidak kembali dengan cepat. adapun tanda dehidrasi pada orang dewasa, antara lain kelelahan dan tidak bertenaga, kehilangan nafsu makan, pusing, mulut kering, serta sakit kepala.
Perilaku yang dapat menyebabkan diare, antara lain:
Kurang menjaga kebersihan makanan dan lingkungan
Tidak  mencuci tangan sebelum dan sesudah makan juga setelah dari kamar mandi
Menggunakan  air yang tidak bersih.
Makan makanan sisa yang sudah dingin
Tidak mencuci tangan dengan sabun.
Mengonsumsi makanan kadaluarsa

Cara Mengatasi Diare
Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengatasi diare, antara lain:
Konsumsi banyak cairan untuk menggantikan kehilangan cairan, dapat dari air putih, air kelapa, asi, larutan oralit
Oralit tidak menghentikan diare tapi menggantikan cairan tubuh yang keluar. Bila tidak ada oralit dapat dibuat dengan mencampur : Gula 1 sendok makan ditambah garam1 sendok teh, campur dalam 5 gelas air matang. Untuk anak dibawah 2 tahun berikan sedikit demi sedikit sampai habis.
Konsumsi suplemen yang mengandung zinc
Hindari makanan tinggi serat
Konsumsi makanan yang mengandung probiotik
Menggunakan obat diare yang termasuk dalam obat bebas seperti karbo adsorben, kombinasi kaolin pektin dan attapulgit
Penggunaan antibiotik pada diare harus didasarkan pada resep dokter
Pencegahan Diare
Beberapa upaya untuk mencegah diare, antara lain:
Selalu mencuci tangan, terutama sebelum menggunakan sabun dan air bersih.
Mengonsumsi makanan dan minuman yang sudah dimasak hingga matang sempurna, serta menghindari makanan dan minuman yang tidak terjamin kebersihannya.
 Segera hubungi dokter bila diare tidak teratasi dan muncul gejala dehidrasi untuk memperoleh penanganan lebih lanjut.

Baca juga : Hindari Penyakit dengan Cuci Tangan yang Benar

Yuk Berikan Vitamin A untuk Anak!

Vitamin A  banyak ditemukan pada daging, hati, produk olahan susu dan telur, buah-buahan, sayuran hijau, dan minyak sawit merah. Vitamin A sering kali dihubungkan dengan masalah kebutaan, tetapi mikronutrisi yang terkandung dalam vitamin A juga berperan penting sebagai penyokong sistem imun. Defisiensi vitamin A dalam tubuh akan menyebabkan kerja sistem imun terhambat untuk melawan penyakit, seperti diare, campak, dan infeksi gangguan pernapasan.

Apa akibatnya jika anak kekurangan vitamin A?

Kurang Vitamin A (KVA) masih merupakan masalah yang tersebar di seluruh dunia terutama di Negara berkembang dan dapat terjadi pada semua umur terutama pada masa pertumbuhan . kekurangan vitamin A dapat menyebabkan kelainan pada mata yang umumnya terjadi pada anak usia 6 bulan s/d 4 tahun yang menjadi penyebab utama kebutaan di negara berkembang.
Anak-anak yang menderita Kurang Energi Protein (KEP) atau gizi buruk biasanya mengalami  kekurangan asupan zat gizi sangat kurang, termasuk zat gizi mikro dalam hal ini vitamin A. Akibatnya anak yang menderita kekurangan vitamin A mudah terserang infeksi seperti infeksi saluran pernafasan akut,campak,cacar air,diare dan infeksi lain karena daya tahan anak menurun. Namun masalah kekurangan vitamin A dapat juga terjadi pada keluarga dengan penghasilan cukup. Hal ini terjadi karena kurangnya pengetahuan orang tua terutama ibu tentang gizi yang baik. Gangguan penyerapan pada usus juga dapat menyebabkan kekurangan vitamin A. kekurangan vitamin A akan menurunkan sistem daya tahan tubuh dan produksi sel darah merah (hematopoiesis), menyebabkan ruam kulit, dan gangguan penglihatan (contohnya xerophthalmia, rabun malam).

Penyebab kekurangan vitamin A diantaranya adalah
Kurang asupan gizi
Malabsorpsi lemak
Gangguan hati
Penurunan bioavailabilitas karotenoid provitamin A
Masalah pada sustem pencernaan, penyimpanan, atau pengangkutan vitamin A

Gangguan pada sistem pencernaan atau penyimpanan biasa ditemukan pada penyakit celiac disease, cystic fibrosis, gangguan pancreas, obstruksi usus dua belas jari, diare kronis, obstruksi saluran empedu, giardiasis, dan sirosis. Kekurangan vitamin A umumnya ditemukan bersamaan dengan kekurangan gizi protein-energi yang berkepanjangan, yang tidak hanya diakibatkan oleh pengaturan pola makan yang buruk, tetapi juga karena sistem penyimpanan dan pengangkutan vitamin A yang tidak dapat bekerja dengan baik.

Pada anak yang terjangkit campak kronis, terapi vitamin A dapat mempercepat pemulihan dengan mengurangi tingkat keparahan tanda-tanda penyakit dan risiko kematian.

Berapa banyak vitamin A yang diperlukan anak?
Usia 1 – 3 tahun: 1,000 IU, atau 300 mikrogram (mcg) retinol activity equivalent (RAE) vitamin A setiap hari
Usia 4 tahun dan lebih: 1,333 IU, atau 400 mcg RAE setiap hari
Teknis pelaksanaan pemberian vitamin A

Vitamin A dosis tinggi diberikan kepada seluruh anak balita umur 6-59 bulan secara serentak, dimana untuk :
• Bayi (6-11 bulan) pada bulan Februari atau bulan Agustus
• Anak balita (12-59 bulan) pada bulan Februari dan Agustus

Vitamin A dapat anda peroleh secara gratis di sarana kesehatan seperti, Puskesmas, Pustu, polindes, praktek dokter/bidan swasta, posyandu, sekolah, TK, dan PAUD pada bulan Februari dan Agustus.
.

Pastikan Obat Aman dengan "KLIK" Sebelum Membeli
Saat anda memerlukan obat-obatan, anda biasa membeli obat-obata tersebut di apotek toko obat atau warung. Mudahnya anda dalam mendapatkan obat bahkan secara online bukan berarti Anda bisa sembarangan membeli dan menggunakan obat-obatan yang dijual bebas. Pastikan Anda sudah cek obat tersebut, apakah sudah dinyatakan aman atau belum.

Namun, apa saja yang harus anda periksa sebelum mengonsumsi obat-obatan, baik yang dijual bebas maupun yang tersedia secara terbatas? Berikut  teknik cek obat yang dianjurkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Indonesia.

Mengenal Cek Obat dengan KLIK BPOM
Sebagai konsumen, Anda harus cerdas dan teliti saat memilih obat-obatan. Pasalnya, salah minum obat bisa menimbulkan berbagai jenis efek samping yang berbahaya. Apalagi saat ini sudah banyak produsen obat yang sebenarnya belum terdaftar resmi. Anda juga perlu memerhatikan apakah obat yang Anda beli benar-benar asli dari pabriknya, tidak dicampur bahan-bahan asing oleh pihak tertentu.
Untuk memastikan konsumen bisa memilih produk obat yang aman, BPOM menganjurkan cek KLIK. KLIK adalah singkatan dari Kemasan, Label, Izin edar, dan Kedaluwarsa. Empat hal inilah yang wajib Anda periksa sebelum membeli obat di apotek atau toko obat.

Cek Obat dengan Metode KLIK
Metode cek obat dengan KLIK ini bisa mencegah Anda mengonsumsi obat-obatan palsu, tidak resmi, atau yang sudah lewat masa berlakunya. Berikut cara melakukan pengecekan keamanan obat yang harus anda perhatikan;

1. Kemasan
Hal  pertama yang harus diperiksa adalah apakah kemasan obat masih layak dijual. Sebagai contoh, kalau boksnya sudah usang dan berlubang, itu berarti obat tidak disimpan di tempat yang layak. Kemungkinan besar isinya pun sudah rusak dan tidak layak konsumsi. Perhatikan juga kalau kemasannya sudah pudar, tampak luntur, atau robek. Sebaiknya jangan dibeli dan dikonsumsi. Obat ini mungkin umurnya sudah terlalu lama.

2. Label
Selalu baca lagi label obat yang akan Anda beli, meskipun Anda sudah berulang kali beli obat yang sama di toko. Setiap obat seharusnya mengandung label atau informasi yang berisi hal-hal berikut ini.
Nama produk
Komposisi atau bahan aktif (misalnya paracetamol atau aluminium hidroksida)
Kategori obat (misalnya analgesik, antihistamin, atau dekongestan)
Kegunaan obat (misalnya meredakan gejala seperti pilek, hidung tersumbat, gatal karena alergi, batuk berdahak, atau mual)
Peringatan bagi orang dengan kondisi kesehatan tertentu
Dosis obat
Informasi lain, misalnya anjuran penyimpanan

3. Izin edar
Pastikan obat-obatan yang Anda konsumsi sudah mengantongi nomor izin edar (NIE) dari Badan POM Indonesia. Obat-obatan yang sudah memiliki izin biasanya akan mencantumkan nomor registrasi pada kemasannya. Bila Anda masih ragu, silakan unduh aplikasi Cek BPOM melalui ponsel dengan sistem operasi Android. Anda dapat juga melakukan pengecekan NIE obat pada website cekbpom.pom.go.id, pada web tersebut anda juga dapat melakukan pengecekan izin edar kosmetik. Makanan, obat tradisional dan suplemen makanan.

4. Kedaluwarsa
Selalu cari tanggal kedaluwarsa obat sebelum Anda beli. Perlu diingat, mengonsumsi obat yang kedaluwarsa dapat berisiko tinggi bagi kesehatan. Selain karena khasiat obat telah berkurang atau hilang, obat mungkin mengalami perubahan komposisi kimia tertentu yang berbahaya. Jadi, jika anda memiliki obat kedaluwarsa, lebih baik jangan diminum dan bisa di buang sesuai petunjuk yang tepat.


Cara Tepat Mengelola Obat Kadaluarsa yang Ada di Rumah
Pasti kita pernah mendapati obat yang sudah kadaluarsa di rumah.

Lalu, apa yang sebaiknya kamu lakukan saat melihat obat yang sudah kedaluwarsa itu?

Apakah boleh dibuang begitu saja?

Obat kadaluarsa tidak boleh dibuang begitu saja, membuang obat yang sudah kadaluarsa ada aturannya karena memungkinkan untuk disalahgunakan oleh orang yang tidak bertanggung jawab,. Jadi, mulai sekarang hindari membuang obat sembarangan.

Semua jenis obat, jika sudah melewati masa kadaluarsa sebaiknya obat segera disingkirkan atau dibuang. Kandungan zat aktif pada  obat kadaluarsa dapat berubah dan menimbulkan bahaya bagi kesehatan jika dikonsumsi.

Kembalikan Obat Kadaluarsa ke Apotek
Obat yang sudah kadaluarsa jika dibuang disembarang tempat seperti di tempat sampah, toilet, atau saluran air bisa mengakibatkan bahaya bagi orang lain dan lingkungan sekitar. Obat kadaluasra yang dibuat di sembarang tempat mungkin digunakan oleh orang yang tiodak bertanggung jawab dengan tujuan yang tidak baik, obat-obatan kadaluarsa yang dibuang ke toilet juga bisa menyebabkan gangguan sistem saluran air hingga dapat membahayakan lingkungan.
Sebuah studi mengatakan bahwa obat kadaluarsa tertentu bisa memungkinkan menjadi tempat pertumbuhan bakteri. Antibiotik yang sudah melalui masa berlakunya bisa gagal mengobati infeksi, serta dapat menyebabkan penyakit yang lebih serius dan resistensi antibiotik.
Salah satu cara paling aman dalam membuang obat kadaluarsa yaitu untuk menyerahkan obat yang sudah kadaluarsa ke apotek terdekat agar dihancurkan atau dibuang sesuai prosedur lembaga kesehatan setempat sehingga aman bagi lingkungan

Cara Tepat Membuang Sendiri Obat yang Sudah Kadaluarsa
Apabila Anda ingin membuang sendiri obat kadaluarsa, ada beberapa hal yang perlu Anda perhatikan dalam mematuhi aturannya, di antaranya adalah:
Bacalah label obat terlebih dulu jika terdapat petunjuk pembuangan khusus yang tertempel, maka ikuti petunjuknya.
Letakkan obat kadaluarsa terpisah  dari kemasan atau plastik obat.
Obat yang obat berbentuk tablet atau kapsul angan dihancurkan , tetapi campur obat kadaluarsa dengan tanah, kotoran kucing, ampas kopi atau zat lain yang menyerap obat.
Coret semua informasi yang ada di labelatau etiket pada botol atau plastik obat untuk obat yang diperoleh dari resep dokter
Hapus informasi yang ada pada label resep obat untuk menjaga privasi dan melindungi informasi tentang kesehatan pribadi Anda.
Tidak membuang obat langsung ke tempat sampah.Obat yang dibuang ke tempat sampah, dapat dijual kembali oleh pihak tidak bertanggung jawab dan sangat berbahaya bagi kesehatan orang lain.
Vitamin dan mineral cair dapat dijadikan sebagai pupuk dengan cara langsung dituangkan ke tanaman.Jika obat berbentuk kapsul dan tablet, kita harus menghancurkannya terlebih dahulu.
Kumpulkan obat-obatan yang sudah tidak dikonsumsi/digunakan.Jika sudah banyak, titipkan ke apotik atau puskesmas untuk dimusnahkan

Jika obat pribadi Anda memiliki waktu kadaluarsa yang masih lama, simpanlah dengan baik di tempat yang dingin, gelap, tidak lembap, dan jauh dari jangkauan anak kecil. Obat yang tidak disimpan terlindung dari panas dan cahaya bisa berkurang keampuhannya dalam melawan penyakit.

Setelah mengetahui beragam informasi mengenai cara tepat membuang obat kadaluarsa, mulai sekarang Anda harus mengikuti petunjuknya jika nanti ditemukan obat kadaluarsa di rumah. Hal paling pentingnya adalah hati-hati jika ingin membuang obat kadaluarsa agar tidak disalahgunakan dan membahayakan orang lain dan lingkungan.

Efek Buruk Akibat Penyalahgunaan Obat Dokter
Kasus dugaan penyalahgunaan dumolid oleh pasangan selebritas Tora Sudiro dan Mieke Amalia merupakan gambaran kecil dari praktik penyalahgunaan obat dengan resep dokter (prescription drugs) yang terjadi di tengah masyarakat. Jika dibiarkan, penyalahgunaan obat dapat menyebabkan masalah yang lebih luas di samping membahayakan kesehatan pribadi.

"Sekarang ini, bukan hanya saya, tapi sejawat saya, kawan-kawan psikiater, banyak menemukan kasus (penyalahgunaan obat)," ungkap spesialis kedokteran jiwa dari RS Medistra dr Adhi Wibowo
Nurhidayat SpKJ(K) MPH saat dihubungi Republika.co.id, Jumat (4/8).

Selain dumolid atau nitrazepam, ada beberapa obat lain yang juga kerap disalahgunakan oleh sebagian masyarakat. Salah satu dari obat tersebut adalah obat batuk dextromethorphan. Contoh lainnya adalah trihexyphenidyl atau lebih dikenal sebagai Double L.

Adhi melihat salah satu faktor penyebab terjadinya penyalahgunaan obat adalah kecenderungan sebagian masyarakat untuk melakukan self medication. Self medication merupakan suatu upaya untuk mengobati diri sendiri hanya dengan membeli obat yang seharusnya didapatkan dengan resep dokter.

"Jangan mencoba untuk terapi diri sendiri, karena ada dua hal (kerugian)," sambung Adhi.
Salah satu kerugian yang dapat timbul akibat penyalahgunaan obat adalah kerugian secara klinis, seperti efek samping obat. Efek samping obat dapat muncul jika penggunaan obat tidak dilakukan dengan semestinya dan tidak melalui pengawasan dokter.

Sebagai contoh, obat golongan benzodiazepine seperti dumolid memiliki efek samping umum yaitu pusing, gangguan psikomotor dan risiko jatuh, gangguan daya ingat, konsentrasi yang buruk, amnesia hingga penumpulan emosi. Tanpa pengawasan dokter, efek-efek samping tersebut bisa dialami oleh penyalahguna obat.

Di sisi lain, penyalahgunaan obat juga dapat menyebabkan kerusakan pada organ di dalam tubuh.
Beberapa organ yang mungkin terpengaruh adalah otak dan ginjal.
Kerugian kedua akibat penyalahgunaan obat adalah kerugian dari segi hukum. Pelaku penyalahgunaan obat psikotropika misalnya, dapat dijatuhi hukuman karena ketentuan penggunaan obat psikotropika sudah diatur ketentuannya dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1997 maupun Peremenkes RI Nomor 3 Tahun 2017.

"Jadi, apabila tidak menggunakan resep, bisa dikenai hukuman, karena ini adalah obat resep dokter," lanjut Adhi.

Penyalahgunaan obat yang cukup masif juga dapat berujung pada kelangkaan obat yang bersangkutan. Kondisi ini tentu sangat merugikan pihak pasien maupun dokter.
Di satu sisi, pasien yang benar-benar membutuhkan obat tersebut akan sulit mendapatkan akses karena obat sulit ditemukan. Di sisi lain, para dokter juga akan kesulitan karena modalitas terapi untuk pasien menjadi berkurang atau bahkan hilang.

Hal ini sudah terjadi pada obat trihexyphenidyl. Adhi mengatakan saat ini obat trihexyphenidyl sangat sulit ditemukan karena sebelumnya cukup banyak disalahgunakan oleh sebagian masyarakat.

"Kalau memang obat dokter disalahgunakan, seharusnya regulasi atau pengawasannya yang ditingkatkan, bukan obat itu dihilangkan dari pasaran," ujar Adhi.

Untuk menghindari dua kerugian besar ini, Adhi mengimbau agar masyarakat tidak tergoda untuk melakukan self medication ataupun penyalahgunaan obat. Masyarakat yang mengalami masalah gangguan jiwa seperti depresi, kecemasan hingga insomnia sebaiknya memeriksakan diri ke dokter spesialis kejiwaan.

Melalui pengawasan dokter, keamanan pasien jauh lebih terjamin karena dosis obat yang diberikan telah disesuaikan dengan kondisi medis pasien. Di sisi lain, perkembangan klinis dari penyakit ataupun gangguan yang diderita pasien juga akan terpantau dengan baik dengan oleh dokter.

Bahaya Penggunaan Obat Palsu "Ilegal"
Banyaknya peredaran obat tidak berijin dan obat tidak jelas merupakan ancaman bagi kesehatan. Dampak obat tersebut beragam, tergantung kandungan, komposisi, kondisi obat, serta penyakit yang diderita konsumen. ”Obat yang tidak terdaftar di BPOM (illegal) berpotensi memperparah penyakit bukan menyembuhkan, juga palsu, karena tak ada penilaian obyektif dan ilmiah dari ahli atau lembaga kompeten. Kemanjuran dan keamanannya pun tak terjamin,” kata Guru Besar Ilmu Farmakologi dan Farmasi Klinis Universitas Gadjah Mada Zullies Ikawati yang dihubungi dari Jakarta, Senin (8/8).

Adapun obat palsu ialah obat yang diproduksi atau dikemas orang atau badan usaha yang tak berhak. Dampak obat ilegal bagi kesehatan beragam. Itu tergantung kandungan, komposisi dan kondisi obat, serta penyakit yang diderita konsumen. Bagi pasien yang perlu pengobatan segera atau penderita penyakit kronis, seperti penyakit jantung, mengonsumsi obat palsu yang tak ada zat aktifnya, misal berisi tepung saja, sama dengan tak minum obat. Itu bisa membuat penyakit yang diderita kian parah, menimbulkan komplikasi, hingga memicu kematian. ”Pasien rugi karena membeli obat yang tak berkhasiat dan justru menambah keparahan penyakit hingga meningkatkan biaya perawatan,” ujarnya.

Sekretaris Jenderal Ikatan Apoteker Indonesia Noffendri menambahkan, apa pun jenis obatnya, ilegal atau palsu, konsumen yang mendapat obat tak sesuai kebutuhan dan ketentuan mengalami gangguan fungsi hati dan ginjal. Dua organ itu berfungsi mengolah obat di tubuh. Hati akan mengubah zat yang bersifat racun agar menjadi tak beracun bagi tubuh. Jika hati rusak, sifat racun zat itu tak bisa dinetralkan. Sementara ginjal bekerja layaknya penyaring. Jika kerja ginjal terganggu dan menyebabkan gagal berfungsi, kotoran tak akan tersaring dan menyebar ke sirkulasi darah hingga butuh cuci darah secara rutin. ”Jika kesemrawutan distribusi obat dibiarkan, beban Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan yang mengelola Jaminan Kesehatan Nasional akan bengkak,” ujarnya. Berbagai kondisi itu membuat derajat kesehatan warga yang diinginkan pemerintah sulit tercapai. ”Bahkan kesehatan masyarakat dapat terganggu bila menggunakan obat ilegal dan palsu terus-menerus,” kata Zullies.

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.