Articles by "obat kedaluwarsa"

Tampilkan postingan dengan label obat kedaluwarsa. Tampilkan semua postingan

Ayo Buang Sampah Obat dengan Benar!!

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) meminta masyarakat untuk membuang sampah obat, baik yang sudah tidak dikonsumsi maupun obat kedaluwarsa ke apotek-apotek di 15 kota atau kabupaten. Upaya ini untuk mengantisipasi peredaran obat ilegal maupun penyalahgunaan obat.
Kepala BPOM Penny K Lukito yakin, di rumah masyarakat pasti memiliki sampah obat yaitu obat yang tidak terpakai tetapi belum kedaluwarsa dan kalau dikumpulkan jumlahnya besar. Atau seringkali masyarakat membuang sampah obat kedaluwarsa sembarangan seperti saluran air. Seharusnya sampah obat tidak boleh dibuang di sembarang tempat karena dapat mencemari lingkungan.
Daripada obat itu menumpuk dan tidak terpakai atau dibuang sembarangan, menurut Penny, masyarakat bisa mengumpulkan sampah obat ke apotek di bawah pengawasan profesional apoteker supaya bisa dikonsumsi orang yang membutuhkan. "Masyarakat bisa menyerahkan sampah obat itu ke 1.000 apotek di 15 kota yang ditunjuk menjadi pilot project tempat penerimaan sampah obat berupa obat yang tidak terpakai maupun obat yang sudah kedaluwarsa," ujarnya saat ditemui di Aksi Nasional Pemberantasan Obat Ilegal dan Penyalahgunaan Obat – Ayo Buang Sampah Obat, di Jakarta, Ahad (1/9).
Ia menyebut sampah obat bisa dibuang di apotek di Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Serang, Banjarmasin, Mataram, Makassar, Medan, Kendari, Pekanbaru, Palembang, Yogyakarta, Denpasar, dan Batam. Di tempat itu, dia menambahkan, telah disediakan tempat sampah untuk obat-obatan ini.
"Kemudian sampah obat ini akan diproses, disortir obat yang tidak terpakai tetapi belum kedaluwarsa dan kondisinya masih baik, aman ke rumah sakit yang membutuhkan. Sedangkan obat yang sudah kedaluwarsa disalurkan ke pembuangan limbah bahan beracun berbahaya (B3)," katanya.
Ia mengajak masyarakat ikut aktif membuang sampah obat ke apotek tersebut karena ini sebagai salah satu upaya untuk mendukung pemberantasan obat ilegal dan penyalahgunaan obat oknum tidak bertanggung jawab. Karena itu Badan POM menerapkan kebijakan berbasis kolaboratif dan sinergisme bersama lintas sektor khususnya organisasi profesi Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) melalui Gerakan Waspada Obat Ilegal (WOI).
Sebagai keberlangsungan jaminan terhadap peningkatan kesehatan dan kesejahteraan melalui pencegahan peredaran obat ilegal dan penyalahgunaan obat, pada tahun 2019 Badan POM meluncurkan Gerakan Ayo Buang Sampah Obat, Ahad (1/9). Gerakan ini dilatarbelakangi dengan maraknya kasus peredaran obat ilegal termasuk palsu dengan pemanfaatan obat-obat kedaluwarsa dan rusak.
"Termasuk kemasan obat yang tidak termusnahkan secara baik dan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab digunakan untuk keperluan produksi obat ilegal melalui pemanfaatan baik sebagai bahan baku (re-use) dan pelabelan ulang (re-labeling) dengan modus sederhana seperti perubahan/perpanjangan tanggal kedaluwarsa,” ujarnya.
Tak hanya bisa meminimalisasi peredaran obat ilegal dan penyalahgunaan obat, Penny menyebut upaya ini juga bisa untuk mengurangi upaya pencemaran lingkungan.
Tak hanya mengajak masyarakat membuang sampah obat di apotek, Penny meminta masyarakat bisa mengenal obat berbahaya dan kedaluwarsa melalui cek label, izin edar, kedaluwarsa obat. Untuk lebih mengenal obat-obatan ini, ia menyebut BPOM juga telah membuat buku saku mengenai edukasi mengenal obat kedaluwarsa dan obat rusak serta penanganannya. Buku ini, dia menambahkan, telah diletakkan di apotek-apotek di 15 kota itu.
Seperti diketahui, pada Juli 2019, masyarakat dikejutkan dengan adanya peredaran obat ilegal termasuk obat palsu. Peredaran obat ilegal ini bersumber dari pemanfaatan obat kedaluwarsa atau obat rusak yang dibuang sembarangan. Hasil pengawasan BPOM menunjukkan, temuan obat ilegal termasuk obat palsu cenderung menurun. Angka menunjukkan dari 29 perkara pada 2017, menjadi 21 perkara pada 2018. Kemudian, tinggal 8 perkara pada awal tahun 2019.

Mengenal Kebiri Kimia, Hukuman bagi Pelaku Pelecehan Seksual
Secara umum, ada dua teknik kebiri. yaitu kebiri fisik, dan kedua, kebiri kimiawi. Kebiri fisik dilakukan dengan mengamputasi organ seks eksternal seseorang. Hal ini akan membuat yang bersangkutan berkurang hormon testosteronnya sehingga mengurangi dorongan seksual. Berbeda dengan kebiri fisik, kebiri kimia atau kebiri kimiawi dilakukan dengan cara menyuntikkan zat kimia anti-androgen ke tubuh.Tujuannya, mengurangi produksi hormon testosteron. Efek akhirnya sama seperti kebiri fisik

Awal mula praktik kebiri kimia adalah pada tahun1944 dengan tujuan mengurangi kadar hormon testosteron pada pria. untuk mematikan dorongan seksual seseorang yang memperlihatkan perilaku seksual menyimpang kadang digunakan zat penenang benperidol. Namun ternyata benperidol tidak mempengaruhi testosteron dan bukan zat yang tepat untuk pengebirian. Kebiri kimia dipandang sebagai salah satu alternatif mudah untuk hukuman seumur hidup daripada hukuman mati karena praktik ini mengizinkan pelaku pelecehan seksual dibebaskan di saat dia sedang menjalani proses kebiri kimia.

Kebiri kimia merupakan proses menurunkan hasrat seksual dan libido, obat-obatan yang digunakan adalah anafrodisiak. waktu yang dibutuhkan  untuk terapi kebiri setidaknya 3-5 tahun. Kebiri kimia tidak lagi efektif setelah terapi dihentikan.

Leuprorelin adalah obat yang sering digunakan dalam kebiri kimia, berfungsi 'mengobati' kesulitan mengendalikan gairah seksual, sadisme, atau kecenderungan membahayakan orang lain. Obat lain yang bisa digunakan untuk terapi kebiri kimia adalah medroksiprogesteron asetat, siproteron asetat, dan LHRH yang berfungsi untuk mengurangi testosteron dan estradiol.

Dampak kebiri kimia
Meski dinilai lebih efektif, namun penerapan kebiri kimia dikabarkan memiliki efek samping bagi tulang hingga jantung. Efek samping yang mungkin muncul pada kebiri kimia adalah osteoporosis, penyakit kardiovaskular (jantung dan pembuluh darah). Munculnya efek samping tersebut karena terapi kebiri kimia dapat mempengaruhi estrogen. Walaupun hormone estrogen lebih banyak terdapat pada organ reproduksi wanita, tapi hormon estrogen juga berperan penting dalam pertumbuhan tulang, fungsi otak, dan proses kardiovaskular pada pria. Efek samping lain adalah depresi, infertilitas, anemia, dan menimbulkan rasa panas pada tubuh.
Pria yang diberikan obat antiandrogen berpotensi mengalami kemandulan karena kemungkinan tidak memiliki sel spermatozoa




Cerdas Gunakan Obat dengan Tanya Lima O

5 (lima) macam pertanyaan yang harus terjawab dan wajib anda ketahui sebelum menggunakan obat yang disebut dengan “Tanya Lima O”, dengan terjawabnya 5 pertanyaan ini, maka informasi minimal tentang obat sudah terpenuhi. Tanya Lima O yang harus anda tanyakan saat mendapat obat, yaitu:

1. Obat ini apa nama dan kandungannya?
Seseorang hendaknya mengenali jenis obat yang akan dikonsumsi, baik nama maupun kandungannya. Obat bernama dagang berbeda dapat memiliki kandungan yang sama. Khasiat obat ditentukan oleh kandungan zat berkhasiat, bukan merek-nya. Hal ini mencegah anda meminum obat yang sama namun memiliki nama dagang yang berbeda

2. Obat ini apa khasiatnya?
Tujuan pengobatan dapat tercapai jika obat diberikan sesuai indikasi (rasional). Masyarakat diharapkan dapat memahami indikasi atau khasiat dari obat yang digunakan, sehingga tidak terjadi salah minum obat. Jangan sampai anda meminum obat yang tidak sesuai dengan indikasi yang diharapkan.

3. Obat ini berapa dosisnya?
Efek obat terhadap tubuh juga tergantung pada dosis. Dosis berlebih dapat melampaui ambang batas keamanan, sedangkan dosis kurang dapat menyebabkan efek terapi tidak tercapai. Gunakanlah obat sesuai dosis anjuran. Perhatikan dosis yang diperlukan, akan berbeda dosis untuk anak dan untuk dewasa, dosis yang tepat akan membuat obat dapat berkhasiat optimal.

4. Obat ini bagaimana cara menggunakannya?
Obat tersedia dalam berbagai bentuk sesuai tujuannya dan diproduksi menggunakan bahan tambahan tertentu yang memudahkan obat untuk diserap dalam tubuh. Digunakan melalui mulut (oral) atau dengan kata lain melalui sistem pencernaan itulah disebut " Obat Dalam", tidak digunakan melalui bagian tubuh lain misalnya kulit. Sebaliknya, “obat luar” digunakan tidak melalui mulut, tidak boleh ditelan. Misalnya suppositoria digunakan melalui anus, salep melalui kulit. Obat harus digunakan pada selang waktu yang sama, agar efek pengobatan dapat tercapai. Misalnya 3 kali sehari, artinya tiap 8 jam.

5. Obat ini apa efek sampingnya?
Obat dapat menyebabkan efek samping yang tidak diharapkan. Misalnya mengantuk, iritasi lambung, alergi dan gangguan fungsi hati atau ginjal. Jika merasakan efek samping, penggunaan obat harus dihentikan dan segera konsultasi pada dokter atau fasilitas kesehatan.

Selain lima pertanyaan tersebut, masyarakat hendaknya aktif bertanya hal lain terkait obat yang akan atau sedang dikonsumsi. Pada obat bebas dan bebas terbatas, informasi tercantum pada kemasan. Untuk obat yang diperoleh dengan resep dokter, dapat ditanyakan pada dokter atau apoteker pada saat menebus resep. Keterlibatan masyarakat secara aktif mencari informasi sangat diharapkan. Tanyakan Apoteker untuk informasi mengenai obat yang anda gunakan.
Artikel ini dikutip dari IG @gemacermat dengan sedikit perubahan.

Baca juga : Pastikan Obat Aman dengan "KLIK" sebelum Membeli

Bagaimana Cara Menggunakan Tablet Kunyah, Tablet Sublingual dan Tablet Bukal ?
TABLET KUNYAH

Sebagaimana namanya, tablet kunyah atau chewable tablet adalah tablet yang dianjurkan untuk dikunyah terlebih dahulu sebelum ditelan.

Tablet kunyah dirancang untuk memiliki rasa yang enak, sehingga menutupi rasa pahit pada obat. Umumnya diberikan rasa seperti rasa mint atau buah-buahan. Contoh tablet kunyah misalnya Antasida (obat lambung), Mebendazol (obat kecacingan), multivitamin anak, dll.

Tujuan mengunyah tablet jenis ini adalah untuk mempercepat efeknya, sehingga efek terapi dapat cepat tercapai atau tujuan lain. Misalnya pada anak, tablet kunyah yang rasanya manis akan memudahkan pemberian obat pada anak.

Pada kondisi lambung sedang radang (gastritis) dan tidak mampu mencerna obat dan makanan dengan baik, maka obatnya dirancang dalam bentuk tablet yang dikunyah dulu, sehingga bisa langsung larut dalam saluran cerna dan mempercepat efeknya. Tablet kunyah antasida ini merupakan pilihan selain obat antasida cair. Jika tablet kunyah antasida langsung ditelan utuh, dapat menyebabkan obat lebih lama larut, sehingga menunda efeknya menjadi lebih lama.

Setelah tablet dikunyah sampai hancur dan ditelan, minumlah segelas air putih (air minum) untuk memastikan bahwa obat telah tertelan seluruhnya. Tanyakan pada apoteker kesayangan Anda, informasi lengkap tentang obat yang akan digunakan, termasuk efek samping, cara menyimpan, dll

TABLET SUBLINGUAL

Tablet Sublingual adalah tablet yang cara penggunaannya diletakkan di bawah lidah (perhatikan gambar). Tablet sublingual tidak ditelan langsung seperti tablet biasa. Dokter mungkin menganjurkan obat ini untuk kondisi tertentu, atau untuk pasien yang kesulitan menelan atau mencerna obat, atau mempercepat efek obat. Contohnya tablet isosorbid dinitrat (ISDN) untuk gangguan jantung.

Tablet sublingual dirancang secara khusus dan akan melarut perlahan dan diserap melalui pembuluh darah yang banyak terdapat di bawah lidah. Tujuannya antara lain untuk menjaga obat tetap berkhasiat (untuk beberapa obat dapat rusak karena asam lambung) atau mempercepat efek obat misalnya pada keadaan gawat darurat atau gangguan jantung mendadak.

Tablet yang disarankan digunakan secara sublingual namun ditelan utuh seperti tablet biasa akan kehilangan khasiatnya sehingga tujuan pengobatan tidak tercapai. Obat ini masuk ke dalam aliran darah melalui membran lendir mulut setelah terlarut sehingga dapat diserap dengan cepat, selain itu efek obat juga tidak berkurang karena tidak melalui proses metabolisme dalam lambung dan hati.

Cara penggunaan tablet Sublingual:
1. Minum atau berkumur-kumurlah dengan sedikit air untuk melembabkan jika mulut kering. Cucilah tangan sampai bersih sebelum memegang tablet.
2. Letakkan tablet sublingual di bawah lidah, dan tempatkan tablet antara gusi dan pipi jika terjadi sensasi menyengat.
3.Tutuplah mulut dan jangan menelan sampai tablet larut seluruhnya.
4.Jangan makan, minum atau merokok selama proses pelarutan tablet.
5.Jangan berkumur atau mencuci mulut selama beberapa menit setelah tablet larut dengan sempuna.
6. Gunakan obat pada jarak waktu yang sama dalam sehari. •
Tanyakan pada apoteker kesayangan Anda, informasi lengkap tentang obat yang akan digunakan.

TABLET BUKAL

Tablet Bukal adalah tablet yang cara penggunaannya diletakkan di antara pipi dan gusi (perhatikan gambar). Tablet bukal tidak ditelan langsung seperti tablet biasa. Dokter mungkin menganjurkan obat ini untuk kondisi tertentu, atau untuk pasien yang kesulitan menelan atau mencerna obat, atau mempercepat efek obat.

Tablet bukal dirancang secara khusus dan akan melarut perlahan dan diserap melalui pembuluh darah yang banyak terdapat di area tersebut. Tujuannya antara lain untuk menjaga obat tetap berkhasiat (untuk beberapa obat yang dapat rusak oleh asam lambung), mempercepat efek kerja obat, atau pasien kesulitan menelan.

Tablet bukal yang ditelan utuh seperti tablet biasa akan kehilangan khasiatnya sehingga tujuan pengobatan tidak tercapai.

Cara penggunaan tablet bukal:
1. jika mulut kering minum atau berkumurlah dengan sedikit air untuk melembabkan. Cucilah tangan sampai bersih sebelum memegang tablet.
2. Letakkan tablet di antara pipi dan gusi.
3. Tutuplah mulut dan jangan menelan sampai tablet larut seluruhnya.
4. Jangan makan, minum atau merokok selama proses pelarutan tablet.
5. Jangan berkumur atau mencuci mulut selama beberapa menit setelah tablet larut dengan sempurna.
6. Gunakan obat pada jarak waktu yang sama dalam sehari. •
Tanyakan pada apoteker kesayangan Anda, informasi lengkap tentang obat yang akan digunakan, termasuk efek samping, cara menyimpan, dll.

Baca Juga : Cerdas Gunakan Obat dengan Tanya Lima O


Bagaimana Cara Penggunaan Obat Berdasarkan Bentuk Sediaan?
Bentuk sediaan obat yang paling lazim kita temui adalah tablet, kapsul atau pil. Masing-masing berbeda bentuk dan bahan pembuatnya,sehingga beda pula cara mengonsumsinya.

1. TABLET
Berbentuk bulat  dan pipih. Ada yang seperti silinder pipih, ada juga yang pinggirannya melengkung seperti tablet salut.
Umumnya digunakan dengan cara ditelan (melalui saluran cerna), disebut penggunaan ORAL. Ada juga yang digunakan melalui vagina, disebut TABLET VAGINA.Jika berbentuk bulat lonjong seperti kapsul, disebut KAPLET.
TABLET yang dimaksud di sini adalah tablet biasa yang digunakan melalui oral (mulut).
Bahan pembuatnya selain obat (zat aktif) biasanya berupa tepung amylum, zat pengikat, penghancur, pewarna, dll.
Zat-zat tersebut ditambahkan agar tablet hancur dalam saluran cerna dan melarutkan obat di dalam darah. Tablet untuk obat magh (antasida) dikunyah lebih dulu dan rasanya seperti permen, agar tidak perlu dihancurkan dulu oleh lambung yang sedang sakit. Tablet jenis ini disebut TABLET KUNYAH (Chewable Tablet)

2. KAPSUL
Berbentuk bulat lonjong, berupa cangkang dari gelatin yang mudah hancur di dalam darah. Kapsul berisi serbuk obat biasanya dapat dibuka, sedangkan kapsul berisi cairan tidak dapat dibuka, disebut KAPSUL LUNAK (Soft Capsule). Kapsul tidak boleh disimpan di tempat yang panas atau lembab agar cangkangnya tidak rusak. Biasanya di dalam botol kemasan kapsul disertakan SILIKA GEL sebagai pengering agar kapsul tidak rusak. Atau kapsul dibungkus kemasan blister. Umumnya kapsul digunakan melalui oral.

3. PIL
Berbentuk bulatan kecil seperti bola. Ukurannya bisa berbeda tergantung kandungan obatnya. Umumnya pil dilapisi zat gula atau zat tertentu pada bagian luar, agar bentuknya tetap utuh.
Seringkali Tablet keliru disebut Pil, padahal bentuk dan bahannya berbeda. Umumnya pil digunakan melalui oral.

Baik tablet (biasa), kaplet, kapsul atau pil yang ditujukan untuk penggunaan melalui mulut (oral),
tidak dianjurkan menggunakannya pada bagian luar badan, misalnya kapsul dibuka atau tablet dihancurkan kemudian ditabur pada kulit.
4. TABLET SALUT
 adalah tablet yang diberi lapisan (salut) dengan bahan tertentu seperti salut gula, salut tipis (enterik dan non enterik), salut film, dll.
Tujuan penyalutan tablet ada berbagai alasan, antara lain untuk melindungi obat (kandungan zat aktif) dari udara, kelembaban atau cahaya, apabila zat tidak stabil; menutupi rasa dan bau yang tidak enak; membuat penampilan lebih baik; atau mengatur pelepasan obat dalam saluran cerna.

Berdasarkan jenis bahan penyalut, ada beberapa jenis tablet salut:

a. Tablet Salut Gula (Dragee)
Disalut dengan gula, biasanya untuk menghilangkan rasa pahit atau tidak enak dari obat.
b. Tablet Salut Selaput (film-coated tablet)
Disalut dengan lapisan hidroksipropil metil selulosa, metil selulosa, hidroksi propil selulosa, Na-CMC dan campuran selulosa asetat ftalat dengan polietilenglikol (PEG) yang tidak mengandung air atau mengandung air.

c. Tablet Salut Kempa
Disalut secara kempa cetak sehingga tablet menjadi berlapis.

d. Tablet Salut Enterik (Enteric coated tablet) atau lepas tunda
Disalut dengan bahan yang tidak dapat hancur dalam lambung. Biasanya digunakan untuk menunda pelepasan obat sampai tablet melewati lambung dan pecah di dalam usus.
e. Tablet Lepas Lambat
Tablet dibuat sedemikian rupa agar zat aktif tetap tersedia di dalam darah selama jangka waktu tertentu setelah obat diberikan. Tujuannya agar memperpanjang efek dari obat.

Semua jenis tablet salut sebaiknya tidak diracik atau dihancurkan, melainkan ditelan dalam keadaan utuh. Umumnya digunakan melalui oral (mulut). Artikel ini dikutip dari ig @gemacermat.

Baca Juga : Bagaimana Cara Menggunakan Tablet Kunyah , Tablet Sublingual dan Tablet Bukal?

Amankah Mengonsumsi Obat Kedaluwarsa?

Menurut Perka BPOM,Batas kedaluwarsa adalah keterangan batas waktu obat, obat tradisional, suplemen makanan, dan pangan layak untuk dikonsumsi dalam bentuk tanggal, bulan, dan tahun, atau bulan dan tahun
Tanggal kadaluwarsa adalah tanggal terakhir penggunaan yang aman dari produsen obat (pabrik farmasi) yang menjamin obat dapat memberikan potensi yang aman dan optimal. Tanggal kedaluwarsa obat harus tertera pada label obat.
Saat kemasan obat dibuka, maka tanggal kedaluwarsa yang tertera tidak lagi berlaku, hal ini disebabkan adanya perubahan kondisi di dalam kemasan, seperti suhu dan cahaya yang akan mempengaruhi kecepatan waktu kedaluarsa obat. Oleh karena itu, beberapa produsen mencantumkan, “jangan gunakan setelah…” atau “buang setelah…”.
Minum obat kedaluwarsa memungkinkan menyebabkan penyakit yang lebih serius dan ketahanan (resistensi) antibiotik, karena obat yang kedaluwarsa tertentu berisiko ditumbuhi bakteri, sehingga kemungkinan antibiotik gagal mengobati infeksi.
Bolehkah Obat-obatan yang Kedaluwarsa Digunakan?
Bolehkah obat Expired diminum? Bila ingin mengonsumsi, pastikan waktu kedaluwarsa, penyimpanan obat, jenis obatnya, dan bentuk fisik obat, apakah ada perubahan warna, bentuk atau bau dari obat.
Kenyataannya, sulit untuk menentukan sampai kapan batas penggunaan obat kadaluwarsa tersebut dapat memberikan potensi yang optimal. Hal ini tergantung komposisi obat, jenis bahan pengawet yang digunakan, perubahan suhu, cahaya, kelembapan, cara penyimpanan dan kondisi tempat penyimpanan lainnya. Potensi obat dapat berkurang setelah kemasan dibuka.
Obat Kedaluwarsa yang Tidak Boleh Digunakan
1. Sunscreen
Segera buang sunscreen yang sudah kedaluwarsa karena beberapa penelitian menunjukkan bahwa sunscreen yang kedaluwarsa dapat menyebabkan kanker kulit. Bila botol sunscreen sering terkena sinar matahari langsung, lebih baik sunscreen dibuang bahkan sebelum melewati tanggal kedaluwarsa. Paparan panas secara terus menerus dapat mempercepat pemecahan bahan-bahan aktif di dalamnya sehingga kulit Anda tidak terlindungi.
2. Obat kumur
Efek obat kadaluwarsa dari obat ini berpotensi menyebabkan pertumbuhan bakteri karena kandungan air yang cukup tinggi. Setelah melewati tanggal kedaluwarsanya, kemampuan bahan-bahan aktif di dalamnya mulai menurun.
3. Obat sirup
Obat dalam bentuk sirup dan suspensi mudah mengalami kerusakan dibandingkan obat-obat lainnya. Kandungan Alkohol dalam sirup dapat menguap dan potensi bahan aktif dapat berkurang serta mengendap di dasar botol sehingga tidak dapat bekerja secara optimal. Hal ini penting untuk diperhatikan, terutama bila menyangkut pengobatan infeksi menggunakan antibiotik. Resistensi antibiotik dapat terjadi apabila menggunakan obat-obatan sub-poten.
4. Krim/ salep
Setelah melewati tanggal kedaluwarsa, zat aktif dalam obat mulai menghilang, sehingga obat bentuk krim/ salep sebaiknya dibuang. Bila obat-obatan dalam bentuk krim/ salep mulai terbentuk bubuk atau menggumpal disertai dengan bau yang kuat atau mengering sebaiknya segera dibuang.
5. Pasta gigi
Fluorida kehilangan efektivitasnya setelah dua tahun, sehingga penggunaan pasta gigi kedaluwarsa tidak memberikan perlindungan terhadap gigi berlubang dan plak.
6. Obat tetes mata
Obat ini mudah terkontaminasi bakteri terutama jika ujung penetes menyentuh mata yang sakit. Penyimpanan pada suhu sedang dapat mempercepat pertumbuhan bakteri sehingga harus disimpan dalam kulkas. Obat tetes mata yang keruh menunjukkan adanya kontaminasi walaupun tanggal kedaluwarsanya masih lama. Hal ini juga berlaku untuk obat dalam bentuk sediaan cair lainnya.
7. Vaksin, insulin, dan obat dari bahan biologis lain
Obat jenis ini mudah mengalami degradasi setelah melewati tanggal kedaluwarsa sehingga sebaiknya dibuang saja.
8. Nitrogliserin oral (NTG)
Obat yang digunakan untuk angina (nyeri dada), dapat kehilangan potensinya dengan cepat setelah botol obat dibuka.
9. Tetrasiklin
Tetrasiklin dapat menghasilkan metabolit toksik, tetapi ini kontroversial di antara para peneliti.
10. Obat-obatan usang
Obat dalam bentuk bubuk atau yang sudah rapuh, obat-obatan yang berbau kuat, atau obat-obatan yang mengering  harus dibuang.
Efek Minum Obat Kedaluwarsa
Tidak ada laporan secara spesifik atau penelitian khusus yang menghubungkan minum obat kedaluwarsa terhadap keracunan pada manusia. Namun, kemungkinan menyebabkan penyakit yang lebih serius dan resistensi antibiotik.
Sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter bila tidak sengaja mengonsumsi obat kedaluwarsa.
Hal lain yang perlu dipertimbangkan dalam konteks obat kedaluawarsa adalah keamanannya. Unsur kimia dan fisik obat dapat berubah seiring waktu, yang dapat menyebabkan masalah keamanan. Sering ada tanda-tanda fisik dari perubahan ini, seperti perubahan warna dari obat yang kedaluwarsa.
Sangat sulit untuk menentukan apakah obat kedaluarsa aman atau tidak, sehingga profesional medis merekomendasikan untuk tidak menggunakannya, karena risiko yang tidak diketahui dari obat expired tertentu.
Penyimpanan obat yang baik dan benar mampu membantu menjaga potensi dalam waktu yang lama. Sebaiknya obat tidak disimpan dalam tempat yang panas dan lembap. Agar tetap stabil, sebaiknya obat disimpan di tempat yang kering, sejuk, dan tidak terkena sinar matahari langsung. Pastikan bungkus obat tetap utuh dan jauhkan dari jangkauan anak maupun binatang peliharaan.

Baca Juga : Cara Tepat Mengelola Obat Kadaluarsa


Cara Tepat Mengelola Obat Kadaluarsa yang Ada di Rumah
Pasti kita pernah mendapati obat yang sudah kadaluarsa di rumah.

Lalu, apa yang sebaiknya kamu lakukan saat melihat obat yang sudah kedaluwarsa itu?

Apakah boleh dibuang begitu saja?

Obat kadaluarsa tidak boleh dibuang begitu saja, membuang obat yang sudah kadaluarsa ada aturannya karena memungkinkan untuk disalahgunakan oleh orang yang tidak bertanggung jawab,. Jadi, mulai sekarang hindari membuang obat sembarangan.

Semua jenis obat, jika sudah melewati masa kadaluarsa sebaiknya obat segera disingkirkan atau dibuang. Kandungan zat aktif pada  obat kadaluarsa dapat berubah dan menimbulkan bahaya bagi kesehatan jika dikonsumsi.

Kembalikan Obat Kadaluarsa ke Apotek
Obat yang sudah kadaluarsa jika dibuang disembarang tempat seperti di tempat sampah, toilet, atau saluran air bisa mengakibatkan bahaya bagi orang lain dan lingkungan sekitar. Obat kadaluasra yang dibuat di sembarang tempat mungkin digunakan oleh orang yang tiodak bertanggung jawab dengan tujuan yang tidak baik, obat-obatan kadaluarsa yang dibuang ke toilet juga bisa menyebabkan gangguan sistem saluran air hingga dapat membahayakan lingkungan.
Sebuah studi mengatakan bahwa obat kadaluarsa tertentu bisa memungkinkan menjadi tempat pertumbuhan bakteri. Antibiotik yang sudah melalui masa berlakunya bisa gagal mengobati infeksi, serta dapat menyebabkan penyakit yang lebih serius dan resistensi antibiotik.
Salah satu cara paling aman dalam membuang obat kadaluarsa yaitu untuk menyerahkan obat yang sudah kadaluarsa ke apotek terdekat agar dihancurkan atau dibuang sesuai prosedur lembaga kesehatan setempat sehingga aman bagi lingkungan

Cara Tepat Membuang Sendiri Obat yang Sudah Kadaluarsa
Apabila Anda ingin membuang sendiri obat kadaluarsa, ada beberapa hal yang perlu Anda perhatikan dalam mematuhi aturannya, di antaranya adalah:
Bacalah label obat terlebih dulu jika terdapat petunjuk pembuangan khusus yang tertempel, maka ikuti petunjuknya.
Letakkan obat kadaluarsa terpisah  dari kemasan atau plastik obat.
Obat yang obat berbentuk tablet atau kapsul angan dihancurkan , tetapi campur obat kadaluarsa dengan tanah, kotoran kucing, ampas kopi atau zat lain yang menyerap obat.
Coret semua informasi yang ada di labelatau etiket pada botol atau plastik obat untuk obat yang diperoleh dari resep dokter
Hapus informasi yang ada pada label resep obat untuk menjaga privasi dan melindungi informasi tentang kesehatan pribadi Anda.
Tidak membuang obat langsung ke tempat sampah.Obat yang dibuang ke tempat sampah, dapat dijual kembali oleh pihak tidak bertanggung jawab dan sangat berbahaya bagi kesehatan orang lain.
Vitamin dan mineral cair dapat dijadikan sebagai pupuk dengan cara langsung dituangkan ke tanaman.Jika obat berbentuk kapsul dan tablet, kita harus menghancurkannya terlebih dahulu.
Kumpulkan obat-obatan yang sudah tidak dikonsumsi/digunakan.Jika sudah banyak, titipkan ke apotik atau puskesmas untuk dimusnahkan

Jika obat pribadi Anda memiliki waktu kadaluarsa yang masih lama, simpanlah dengan baik di tempat yang dingin, gelap, tidak lembap, dan jauh dari jangkauan anak kecil. Obat yang tidak disimpan terlindung dari panas dan cahaya bisa berkurang keampuhannya dalam melawan penyakit.

Setelah mengetahui beragam informasi mengenai cara tepat membuang obat kadaluarsa, mulai sekarang Anda harus mengikuti petunjuknya jika nanti ditemukan obat kadaluarsa di rumah. Hal paling pentingnya adalah hati-hati jika ingin membuang obat kadaluarsa agar tidak disalahgunakan dan membahayakan orang lain dan lingkungan.


Hal Yang Harus diketahui Tentang Obat Kadaluarsa
Obat Rusak Atau Kadaluarsa
Obat kadaluarsa adalah kondisi obat dimana konsentrasinya sudah berkurang antara 25-30% dari konsentrasi awalnya serta bentuk fisik yang mengalami perubahan (Seto, 2002: 34).
Obat rusak yaitu bentuk atau kondisinya yang tidak dapat dipakai lagi, sedangkan waktu kadaluarsa yaitu waktu yang menunjukan batas akhir obat masih memenuhi syarat dan waktu kadaluarsa dinyatakan dalam bulan dan tahun harus dicantumkan pada kemasan obat. Obat rusak dan kadaluarsa telah berubah fungsi dan kadarnya sehingga dapat mengakibatkan penyakit pada manusia serta dapat menimbulkan kematian (BPOM, 2009).
Obat yang sudah melewati masa kadalursa dapat membahayakan karena berkurangnya stabilitas obat tersebut dan dapat mengakibatkan efek toksik (racun). Hal ini dikarenakan fungsi kerja obat sudah tidak optimal dan kemampuannya telah menurun, sehingga obat yang masuk kedalam tubuh hanya akan mengendap dan menjadi racun. Sebenarnya obat yang belum kadaluarsa diperkirakaan juga dapat menyebabkan efek buruk yang sama. Hal ini dipengaruhi oleh penyimpanannya yang salah yang menyebabkan zat aktif didalam obat tersebut rusak. Tanda kerusakan zat aktif tersebut disertai dengan perubahan bentuk, warna, bau, bahkan rasa maupun konsistensi. Maka dari itu harus diperhatikan juga cara penyimpanan obat yang baik (Depkes RI, 2004).

Kondisi Yang Mempercepat Kadaluarsa Obat
Penyimpanan yang tidak tepat dapat mempercepat masa kadaluarsa obat. Hal-hal yang mempercepat kadaluarsa obat adalah sebagai berikut:
1). Kelembaban
Tempat yang memiliki kelembaban tinggi akan mempercepat masa kadaluarsa obat karena akan mempengaruhi stabilitas obat kemudian dapat menyebabkan penurunan kandungan, hal ini yang mempercepat kadaluarsa.
2) Suhu
Suhu penyimpanan obat bermacam-macam, pada umumnya obat banyak disimpan pada suhu kamar. Penyimpanan obat di kulkas. tidak dianjurkan jika tidak terdapat petunjuk. Obat-obat minyak seperti minyak ikan, sebaiknya jangan disimpan di tempat yang terlalu dingin. Insulin (Obat untuk penderita diabetes) merupakan contoh obat yang akan rusak jika ditempatkan pada ruangan dengan suhu panas.
3)   Cahaya,
Obat sebaiknya tidak disimpan pada tempat yang terlindung dari sinar matahari ataupun lampu secara   langsung. Misalnya : Vaksin bila terkena sinar matahari langsung maka dalam beberapa detik, vaksin akan menjadi rusak. Untuk melindunginya dari cahaya maka digunakan kemasan berwarna, misalnya ampul yang berwarna coklat disamping menggunakan kemasan luar.

Efek Meminum Obat Yang Rusak Atau Kadaluarsa
Efek meminum obat rusak atau kadaluarsa dapat menimbulkan:
a) Penyakit lama sembuhnya/tidak sembuh karena obat yang digunakan sudah berkurang kekuatannya. Hal ini disebabkan karena sebagian zat berkhasiat sudah berubah menjadi zat lain yang tidak berkhasiat.
b) Obat yang kadaluarsa berubah menjadi beracun yang menimbulkan bahaya baru.
Obat yang kurang stabil hendaknya dihindari agar tidak kadaluarsa, terutama dalam bentuk sirup, hormon, antibiotik. Walaupun tanggal kadaluarsa tertera dalam kemasan obat , kita tidak boleh menjadikan patokan dari tanggal kadaluarsa yang tercetak pada kemasan obat. Karena penampilan fisik obat yang berubah, baik warna (timbul bintik atau noda), rasa dan bau obat yang lain dari biasanya merupakan peringatan pada kita agar tidak mengkonsumsi obat tersebut. Obat mungkin saja menjadi rusak walau tanggal kadaluarsa belum terlewati.

Baca Juga : Amankah Mengonsumsi Obat Kedaluwarsa?

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.