Mengenal Obat Asam Lambung "Ranitidin" dari Indikasi hingga Efek Sampingnya

Penarikan 5 produk ranitidin yang terdeteksi mengandung N-Nitrosodimethylamine (NDMA) oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan ( BPOM) dari peredarannya di pasar dan instansi pelayanan kesehatan menimbulkan kebingungan di antara masyarakat yang menggunakan ranitidin di dalam terapi pengobatannya, begitu juga masyarakat yang tidak pernah menggunakannya. Penjelasan mengenai obat ranitidin diperlukan masyarakat untuk mengetahui kegunaan dan efek yang ditimbulkan saat mengonsumsinya. Berikut paparan mengenai obat asam lambung Ranitidin.

Ranitidin adalah obat maag yang termasuk dalam golongan antihistamin, lebih tepatnya disebut H2-antagonis. Ranitidin digunakan untuk mengurangi produksi asam lambung sehingga dapat mengurangi rasa nyeri uluhati akibat ulkus atau tukak lambung, dan masalah asam lambung tinggi lainnya.

Mengenal Obat Ranitidin
Ranitidin merupakan nama generik. Selain obat generik, Ranitidin memiliki beberapa nama merek dagang, jika anda membeli obat dengan merek dagang maka perhatikanlah zak aktif atau komposisinya pada kemasan. Obat Ranitidin tersedia dalam 3 bentuk sediaan, yaitu tablet  , sirup, dan injeksi dengan kandungan yang berbeda sebagai berikut:
Tablet Ranitidin 150 mg
Tablet Ranitidin 300 mg
Ranitidin Sirup: mengandung 168 mg ranitidine hydrochloride (setara dengan 150 mg ranitidine anhidrat basa bebas per 10 mL larutan oral) dalam  tiap 10ml sirup.

Indikasi atau Kegunaan
Obat ranitidin digunakan untuk pengobatan terkait asam lambung yaitu tukak pada lambung dan duodenum (usus 12 jari) dan mencegah penyakit gastroesophageal reflux (GERD),  gastritis atau sakit maag, perut kembung, sering bersendawa dan sebagainya. Tidak hanya mengurangi gejala yang muncul tetapi juga berfungsi mencegah timbulnya kembali gejala-gejala asam lambung.

Baca Juga : Mengenal NDMA. Zat Karsinogenik Penyebab Penarikan Ranitidin

Dosis Ranitidin dan Cara Pakai
Dosis ranitidin untuk dewasa adalah  satu kali 150 mg dalam sehari atau 150 mg dua kali sehari atau 300 mg sekali sehari tergantung pada kondisi pasien. Obat ini dapat diminum sebelum atau setelah makan.
Ketika digunakan untuk mengobati gangguan pencernaan, seperti sakit uluhati dan mual, dosis lazim untuk orang dewasa dan anak-anak usia 8 tahun atau lebih adalah 75 mg sampai 150 mg diambil ketika gejala muncul. Jika gejalanya menetap selama lebih dari 1 jam atau kembali muncul setelah 1 jam, maka dapat diberikan dosis kedua dengan kekuatan yang sama.
Untuk mencegah gejala sakit maag yang disebabkan oleh mengonsumsi makanan atau minuman tertentu, maka gunakan ranitidin 30 sampai 60 menit sebelum makan makanan atau minum minuman yang dicurigai akan menimbulkan gejala (membuat maag kambuh).
Dosis maksimum adalah 300 mg setiap 24 jam. Jangan lama-lama menggunakan obat ini, jika lebih dari 2 minggu gejala belum juga membaik maka periksalah ke dokter.

Ranitidin Injeksi
Bentuk injeksi raniditine dapat digunakan di rumah sakit dalam keadaan tertentu ketika pasien tidak mampu menelan tablet. Injeksi ranitidin diberikan secara intravena (ke pembuluh darah) atau intramuskular (suntik otot) dengan dosis 50 mg setiap 6 sampai 8 jam.
Banyak hal yang dipertimbangkan dokter untuk menentukan dosis yang tepat, oleh karena itu mungkin Anda bisa saja menemukan dosis yang berbeda dengan yang tercantum di sini.

Apakah ada pantangannya?
Tidak ada pantangan makanan selama anda menggunakan obat Ranitidin. Anda mungkin disarankan untuk menghindari makanan tertentu yang terkait dengan penyakit Anda. Ranitidin juga tidak mempengaruhi kemampuan Anda untuk mengemudi atau mengoperasikan mesin. Konsultasikan dengan dokter atau apoteker untuk lebih jelasnya.

Baca Juga : BPOM Tarik Obat Asam Lambung "Ranitidin"
Kontraindikasi
Lansia
Ibu hamil
Ibu menyusui
Kanker lambung
Penyakit ginjal
Mengonsumsi obat non-steroid anti-inflamasi
Sakit paru paru
Diabetes
Masalah dengan sistem kekebalan tubuh
Porfiria akut (gangguan metabolisme langka)
( ! ) Ranitidin tidak boleh digunakan pada orang yang alergi ranitidin.

Efek Samping Rantidin
Ada beberapa efek samping yang harus dilaporkan ke dokter sesegera mungkin ketika menggunakan ranitidine, diantaranya:
Kegelisahan, depresi, halusinasi
Reaksi alergi seperti kulit ruam, gatal atau gatal-gatal, pembengkakan wajah, bibir, atau lidah
Gangguan pernapasan
Perdarahan yang tidak biasa atau memar
Muntah
Menguningnya kulit atau mata
Efek samping ranitidin yang ringan antara lain:
Sembelit atau diare
Pusing
Sakit kepala
Mual
Perlu diingat efek samping tidaklah selalu muncul pada saat penggunaan obat sehingga tidak perlu khawatir menggunakan Obat Ranitidin selama mengikuti petunjuk dokter atau apoteker.